.
Rumesha / Rutin Menulis Setiap Hari – 13
Oleh : Cahyadi Takariawan
“A professional writer is an amateur who didn’t quit” –Richard Bach
.
Jika Anda ibu rumah tangga –mengapa Anda bisa menjalani kehidupan berumah tangga, mengurus anak, bekerja, melayani suami, dan lain sebagainya? Apakah Anda punya ijazah sebagai ibu rumah tangga? Apakah Anda pernah kuliah kerumahtanggaan setingkat S1 atau S2? Apakah Anda pernah diwisuda menjadi sarjana bidang rumah tangga?
Jika Anda lihat para petani tradisional di kampung-kampung –mengapa mereka bisa mengurus sawah dan ladang pertanian, mengelola lahan, menanam, memanen, dan pengolahan pasca panen? Apakah mereka lulusan Fakultas Pertanian? Apakah mereka pernah diwisuda sebagai sarjana ilmu pengolahan sawah dan ladang?
Jika Anda perhatikan para nelayan tradisional –mengapa mereka pandai mencari ikan di laut lepas? Bagaimana mereka menjalankan perahu kayu sederhana, mengarahkan ke lokasi yang banyak ikan, mengerti waktu yang tepat untuk menjaring ikan? Banyak nelayan tua yang bahkan hanya lulusan SD. Alam telah mendidik mereka.
Jika Anda perhatikan masyarakat tradisional yang membudidayakan ikan di tambak, bagaimana mereka pandai melakukannya? Mengapa mereka bisa memilih dan mengelola bibit ikan, memanen, dan mengolah hasil panen ikan? Apakah mereka lulusan Fakultas Perikanan? Apakah mereka pernah diwisuda sebagai sarjana ilmu perikanan atau pertambakan?
Mengapa Mereka Bisa Begitu Hebat?
Saya ketemu anak muda di Gayo, Aceh. Cucu dari seorang petani kopi. Ia lahir di kebun kopi, tumbuh besar di kebun kopi, setiap hari melihat tanaman kopi. Dirinya bisa sangat detail bercerita tentang kopi, tanpa pernah belajar ilmu perkopian secara akademik di bangku sekolahan. Ia tidak kuliah ke Eropa atau Amerika demi mempelajari ilmu perkopian.
Rupanya, mereka semua bisa lebih ‘profesional’ dari kaum profesional lulusan bangku kuliah. Jika ada sarjana ilmu komunikasi, tidak menjamin dirinya pandai berkomunikasi secara praktis. Namun ketika ada orang yang memiliki jiwa supel dan ramah, mudah bergaul, suka menyapa orang lain, ia akan lebih ‘profesional’ dalam berkomunikasi dibandingkan sarjana komunikasi.
Jika ada sarjana lulusan Fakultas Ilmu Pendidikan Keguruan SD, namun tidak pernah mengajar, bisa kalah ‘profesional’ dalam mengajar dengan orang-orang yang mengajar setiap hari. Mereka, para pekerja sosial, mengajar anak-anak di mushalla, di masjid, di balai belajar, tanpa digaji. Mereka bukan sarjana, bukan lulusan kampus manapun, namun mereka mengajar rutin setiap hari.
Jika ada seorang psikolog, lulusan Fakultas Psikologi, mengikuti pendidikan profesi psikolog, berijazah dan bersertifikat –namun tidak pernah praktik, bisa kalah ‘profesional’ dibandingkan para relawan sosial yang menekuni aktivitas praktis konseling. Cara menerapkan ketrampilan attending, paraphrasing, summarizing, questioning, dan lain sebagainya, kalah hebat oleh relawan sosial yang praktik setiap hari.
Rupa-rupanya rutinitas setiap hari pada bidang yang sama, bisa membentuk profesionalitas. Anda akan tenang bepergian jauh dengan bus antar provinsi, yang memerlukan waktu lebih dari 20 jam perjalanan, saat mengetahui sopirnya sudah lebih sepuluh tahun bertugas di rute tersebut. Anda tidak akan bertanya, apakah ia punya SIM, apakah ia punya ijazah pendidikan mengemudi bus jarak jauh?
Mengapa Anda yakin dengan sang sopir? Sepuluh tahun melewati jalan itu dengan mengendarai bus, membuat sang sopir hafal lekuk liku perjalanan. Kapan mengerem, kapan mengegas, kapan berbelok. Seakan dengan mata terpejam sudah diketahui semua detail perjalanan.
Mengapa Bob Sadino sukses berbisnis, padahal bukan sarjana apalagi doktor bidang bisnis? Karena dia tekun menjalani bisnis setiap hari. Dia mendapat ilmu praktis setiap hari. Dia mendapat masalah dan haru menemukan solusi, maka dia menjadi mengerti banyak strategi.
Lagi-lagi, kuncinya adalah rutinitas setiap hari pada bidang yang sama. Ibu-ibu rumah tangga, sudah mendidik anak-anak lebih dari sepuluh tahun, menjadi lebih mengerti bagaimana mengasuh mereka. Meski bukan sarjana, namun rutinitas mendidik anak membuatnya belajar dan mengerti banyak hal.
Kunci Profesional : Rutin Menulis Setiap Hari
Saya kasihan kepada orang-orang yang hanya suka ikut kelas menulis, berbayar mahal, namun tidak mau menulis. Sebanyak apapun seseorang memiliki piagam penghargaan telah mengikuti kelas menulis, ia tidak akan menjadi penulis profesional, jika tidak pernah menulis.
Kunci menjadi penulis sukses bukan dihitung dari berapa banyak seseorang mengikuti kelas menulis. Bukan dihitung dari jumlah penghargaan sebagai peserta kelas pembelajaran, kursus, sekolah, atau pendidikan apapun terkait tulis menulis.
Richard Bach, penulis “Running from Safety” dan puluhan buku lainnya, menyatakan, “A professional writer is an amateur who didn’t quit”. Ini pernyataan yang sangat menarik. Bach tidak menyebut, penulis profesional adalah lulusan perguruan tinggi, penulis profesional adalah lulusan terbaik di kelas menulis, penulis profesional adalah yang banyak memiliki piagam penghargaan.
Bach hanya mensyaratkan satu hal saja. Untuk menjadi penulis profesional, Anda harus rutin menulis. Tidak ada hari tanpa menulis. Anda harus menulis setiap hari mesjipun hanya 15 menit, meskipun hanya 100 kata bermakna. Lakukan saja, menulis saja, posting saja. Jangan berhenti, jangan menunda-nunda.
Hari-hari di mana kita sering melihat dan mendengar berita kematian, saat kita masih bisa bangun dari tidur, segeralah menulis kebaikan. Karena kita tidak tahu, jatah usia kita sampai kapan.