Anak adalah Cermin Orang Tua

Anak adalah Cermin Orang Tua

ANAK adalah CERMIN ORANG TUA

 

@ Ummu Rochimah

 

Praktik pendidikan keluarga adalah suatu proses yang bertahap, berjenjang dan berkelanjutan, di mana setiap fase usia orang-orang di dalam keluarga tersebut memiliki sarana dan perangkatnya sendiri yang sangat vital dan tidak bisa disepelekan. Artinya, proses pembinaan terhadap keluarga merupakan cara paling ideal bagi terwujudnya perbaikan.

Pendidikan sebuah keluarga, tidak lepas dari peranan ayah dan ibu sebagai guru kehidupan bagi anak-anaknya. Keduanya harus senantiasa mengembangkan potensi diri dan membuka wawasan tentang proses pendidikan anak seluas-luasnya.

Jangan membatasi diri dengan bersandar pada apa-apa yang pernah diterimanya di masa lalu saat menjadi seorang anak.

“Dulu ayah begini…” atau “Dulu ummi begini…”

Zaman terus berkembang, dan anak-anak tidak hidup seperti saat orang tuanya sebagai anak-anak dulu. Dan mereka pun akan tumbuh mendewasa dengan zaman yang belum tentu sama dengan saat orang tua kini.

Maka, tugas orang tua lah untuk memberikan bekal bagi mereka sesuai dengan kebutuhan mereka untuk menghadapi zaman mereka. Bukan menyiapkan anak-anak sebagaimana ‘maunya’ orang tua tapi menyiapkan anak untuk mampu menghadapi tantangan di zamannya nanti.

Tidak boleh kaku dan saklek dalam mendidik anak zaman sekarang. Anak-anak sekarang bisa jadi lebih kritis dari pada orang tuanya saat masih kecil. Mereka akan banyak bertanya dan meminta penjelasan dari orang tuanya. Di sinilah nanti akan muncul seni mendidik anak, yang tentunya tidak dapat disamakan pada setiap keluarga. Setiap keluarga bisa mengkreasi dan mengelola sendiri pola dan cara mendidik anak dengan bersandar pada tuntunan Quran dan Sunnah.

Yang terpenting dalam hal itu adalah kesepakatan antara ayah dan ibu dalam menentukan arah dan pola pendidikan anak. Jangan sampai terjadi, ayah mau ke arah kanan, ibu maunya ke kiri. Hal ini hanya akan membuat kebingungan pada diri anak-anaknya.

4 Metode Pendidikan Anak dalam Islam

Pertama, Qudwah(Contoh)

Hal yang sulit bagi anak untuk merespon konsep pendidikan yang diberikan kepadanya adalah ketika melihat orang yang mendidik dan mengarahkan mereka tidak menerapkan konsep yang dikatakan.

Seorang anak yang melihat kedua orang tua nya berdusta, tidak akan mungkin belajar tentang kejujuran. Anak yang melihat orang tuanya malas beribadah akan sulit untuk membuat dirinya menjadi rajin ibadah. Seorang anak yang melihat kedua orang tuanya selalu bertengkar, tidak mungkin dapat belajar tentang menghargai orang lain.

Penting juga untuk dicatat, orang tua harus memusatkan perhatian untuk memperbaiki *anak sulung* mereka. Mengapa anak sulung? Karena anak kedua, ketiga, dan selanjutnya sampai kepada anak bungsu biasanya meniru apa yang dilakukan kakaknya dan mencontoh sifat dan kebiasaan anak yang lebih besar.

Contoh atau teladan adalah alat bantu belajar paling kuat dan efektif bagi anak untuk menyerap dan meniru apa yang mereka lihat di sekitarnya, terlebih saat anak belum mencapai usia baligh. Ini lah masa yang tepat untuk menanamkan akidah dan semua kebaikan-kebaikan akhlak Islam.

Tanpa disadari, seorang anak akan terus memperhatikan orang tuanya, menyerap cara orang tua mengatasi rasa rasa frustasi, anak akan memperhatikan perilaku orang tua ketika sedang marah, melihat reaksi orang tua terhadap orang atau pengalaman baru, dan sebagainya. Baik itu cara yang akan memberi nilai positif mau pun negatif.

Kedua, Kebiasaan(Habit)

Sebuah nasihat dari Imam Ghazali, “Anak kecil itu adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang bersih adalah berlian jiwa. Jika mereka dibiasakan melakukan dan diajaran kebaikan, maka ia akan tumbuh di atasnya dan kelak akan berbahagia di dunia dan akhirat.”

Kebiasaan ini bersandar pada perhatian dan contoh serta berdiri di atas dasar tarhib(bentuk ancaman) dan targhib(bentuk motivasi).

Konsep perbaikan untuk anak-anak yang masih kecil atau belum baligh, berpedoman pada dua hal yang asasi yaitu sisi teori berupa mendiktekan kebaikan kepada anak-anak. Dan sisi praktek, yaitu pembiasaan melakukan amal shaleh dan menjauhi kemunkaran.

Seorang anak perempuan yang masih belum baligh tidak wajib memakai jilbab untuk menutup kepalanya, namun mengapa kita pakaikan ia jilbab ketika hendak bepergian? Ini lah yang dikatakan dengan pembiasaan. Anak yang belum baligh tidak wajib shalat, tapi mengapa kita mengajarkan mereka untuk sholat setiap waktu sholat? Ini semata adalah untuk membiasakan telinga mereka agar setiap mendengar suara adzan mengirimkan sinyal ke otak untuk segera mengambil wudhu lalu sholat. Mengajarkan anak-anak dengan suatu kebiasaan baik akan membuat mereka menjadi terbiasa dengan kebaikan di masa dewasanya. Maka pembiasaan ini tidak boleh bersifat pembebanan, harus dilihat sebagai sarana pelatihan.

Sedangkan untuk mereka yang sudah sampai kepada masa baligh namun tidak terbiasa dengan kebaikan di masa kecilnya, maka masih ada kesempatan bagi orang tuanya untuk melakukan perbaikan. Jangan berputus asa dan menyerah untuk melakukan perbaikan kepada anak-anaknya. Bagi anak-anak dengan kondisi ini dapat digunakan metode perbaikan untuk orang dewasa. Yaitu dengan mengikatnya pada aqidah agar lahir perasaan merasa diawasi oleh Allah dan merasa takut kepada Nya. Kemudian membeberkan kemunkaran dan kejahatan dengan segala akibatnya, sehingga diharapkan anak-anak tersebut dapat menjauhi perbuatan-perbuatan yang keji dan merasa tidak tenang jika melakukan sebuah dosa. Selain itu juga dapat dilakukan dengan cara mengubah lingkungan sosial yang tidak sehat. Sebagaimana dikatakan, “Seseorang itu bagaimana temannya, maka hendaknya ia memperhatikan dengan siapa ia berteman.” Dan,”Seseorang itu akan dikumpulkan dengan orang yang dicintainya.”

Kebiasaan-kebiasaan inilah yang kemudian dapat membentuk karakter seseorang. Maka ketika orang tua menginginkan anaknya memiliki karakter yang baik, maka berilah kebiasaan-kebiasaan baik secara terus menerus kepada anak-anak.

Ketiga; Fleksibel dan Negosiasi

Fleksibel sebagai orangtua ada kaitannya dengan sikap bijaksana. Misalnya, seorang anak yang telah mengalami suatu peristiwa yang menjengkelkan di sekolahnya, tidak harus segera membereskan kamarnya yang berantakan walau itu menjadi salah satu kewajiban hariannya.

“Kenapa kamu pulang sekolah kok kusut begitu?”

“Sebel mi! Aku tadi di sekolah diledekin sama temen-temen.”

“Kamu ngga suka diledekin gitu?”

“Ya ngga suka lah mi, males aku, sebel deh pokoknya!!”

“Ya udah, kamu istirahat dulu sekarang biar hilang sebelnya. Kali ini ummi bantu beresin kamar ya..”

Sikap orang tua yang memahami kondisi dan menawarkan bantuan bisa membangkitkan keinginannya untuk membantu orang lain yang membutuhkan.

Sedang negosiasi, ada kaitannya dengan pengakuan bahwa orang tua tidak selamanya mengetahui yang terbaik. Anak-anak kadang dapat mengemukakan alasan yang lebih baik untuk dirinya. Dalam negosiasi, setiap pihak baik orang tua maupun anak semestinya mampu menghadirkan alasan untuk orang lain dan bersedia mendengarkan.

Hal ini dapat membangun penghargaan diri seorang anak, mengajarkan ketrampilan dalam berbicara dan mengemukakan alasan  kepada orang lain. Serta memperlihatkan bahwa orang tua mau menghargai dan mendengarkan pendapat anak.

Keempat; Dukungan dan Hukuman

Memotivasi dan menyayangi anak adalah sesuatu yang mesti, dengan tetap menjaga keseimbangan antara motivasi materi dan motivasi adab atau maknawi.

Suatu pujian dan dukungan orang tua kepada anak memiliki pengaruh yang besar dalam memotivasi dan membangkitkan semangat mereka.

Contoh dukungan orang tua kepada anak, misalnya memanggil dengan nama yang paling disukai, berkata dengan kata-kata yang baik. Mengucapkan terima kasih untuk bantuan yang telah mereka berikan, semua hal ini untuk mengajarkan kepada anak-anak mengenai nilai-nilai kebaikan yang akan bermanfaat bagi kehidupan mereka saat dewas nanti.

Memperlihatkan perhatian kepada mereka, mengajaknya berbicara dan menerima usulan-usulan yang diajukannya, sehingga tumbuh dalam jiwa mereka adab-adab menghargai orang lain.

Sedangkan mengenai hukuman kepada anak, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa seorang pendidik tidak boleh menggunakan hukuman kecuali pada kondisi yang sangat darurat. Juga tidak boleh menggunakan kekerasan, kecuali setelah menggunakan ancaman. Kekerasan yang dilakukan terhadap anak akan membuat anak trauma, menjadi pengecut dan mudah lari dari beban-beban hidup. Jadi, hukuman adalah cara terakhir dalam mendidik anak ketika nasihat(taujih), perhatian dan teladan sudah tidak berguna bagi anak.

Menurut Neil A.S. Summerheil, hukuman fisik merupakan suatu usaha untuk memaksakan kehendak. Walaupun tujuan utamanya untuk menegakkan disiplin anak, namun tindakan ini dapat berakibat sebaliknya. Anak hanya merespon pada tujuan hukuman itu sendiri. Banyak anak merasa bahwa hukuman fisik tidak terhindarkan, sehingga mereka melaksanakan menjadi resisten(kebal) dan mereka akan lebih memilih membiarkan dirinya dihukum daripada melakukan suatu aktifitas yang ia tidak sukai.

James Dobson asal Illinois menekankan, hukuman fisik tidak akan mencegah atau menghentikan anak melakukan tindakan yang salah. Bahkan dapat mendorong anak untuk meneruskan dan meningkatkan tingkah lakunya serta bertingkah laku agresif.

Ada tiga tahapan pendidikan anak yang berkaitan dengan hukuman.

Tahap pertama, berupa nasihat yang lemah lembut. Seperti dalam contoh hadits, “Dari Umar bin Abu Salamah r.a berkata: “Ketika masih kecil aku pernah berada di bawah pengawasan Rasulullah saw, dan tanganku bergerak mengulur ke arah makanan yang ada dalam piring. Maka Rasulullah saw berkata kepadaku, ‘Wahai anak, sebutkanlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah (hanya) yang ada di dekatmu.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pelajaran dari hadits ini, bahwa orang tua tidak boleh begitu saja membentak atau memukul anaknya karena melakukan suatu perbuatan yang kurang baik.

Tahap kedua, dengan meninggalkan atau memboikotnya.

Beberapa hal yang dapat termasuk ke dalam bentuk hukuman ini, yaitu;  mengabaikan seperti memalingkan muka, melarang anak melakukan tindakan atau sesuatu yang ia sukai, mengurangi pembicaraan hingga ia merasa bersalah.

Dan tahap ketiga, yaitu melakukan pemukulan. Ini menjadi pilihan terakhir dalam pendidikan anak. Dan tahapan ini tidak dibalik kondisinya.

Tahapan pendidikan ini berlaku ketika anak-anak masih berada pada masa kanak-kanak dan pubertas. Sedangkan untuk anak-anak menginjak masa remaja dan menuju masa dewasa, maka cara mendidiknya akan berbeda. Ini akan dibahas dalam kesempatan lain.

 

 

Sumber bacaan :

Abu Al Hamd Rabee’, Membumikan Harapan Keluarga Islam Idaman, LK3I, 2012

Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, Pustaka Amani Jakarta, 1999

Intisari, Kumpulan Artikel Psikologi Anak, PT. Intisari Mediatama, Jakarta, 1999

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan