.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“You may be a writer mom when you can’t be the productive 5am writer because you were already up 5 times in the night” –Jewel Eliese, 2018.
.
Apa alasan Anda untuk tidak menulis? “Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sibuk dengan urusan kerumahtanggaan”, mungkin sebagian dari Anda akan menyatakan demikian.
Jewel Eliese (2018), seorang bloger produktif menyatakan, Anda mungkin menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus penulis, namun menghadapi beragam jenis kendala. Seperti apa profil ibu rumah tangga yang sekaligus penulis? Eliese menggambarkan beragam kondisi ibu rumah tangga yang ingin produktif menulis.
Saat seorang ibu rumah tangga ingin produktif menulis, harus rela “mengetik dengan seorang anak kecil bermanja di pangkuannya”. Namun di saat yang sama, “Anak-anak Anda secara tidak sengaja telah memberi Anda inspirasi menulis”. Semua tingkah polah mereka, adalah bahan tulisan yang menarik.
“When your purse has as many pens as crayons. Or as many notebooks, journals, and books as snacks for your kids” –Aditi Wardhan Singh.
Bagi ibu rumah tangga lainnya, “tidak bisa menjadi penulis pagi yang produktif karena Anda sudah bangun 5 kali di malam hari untuk mengurus bayi”. Bagi sebagian ibu, “dompet Anda berisi banyak krayon”. Pada sebagian emak, “di dalam tasnya berisi banyak buku catatan atau buku sebagai teman bermain anak-anak.”
Kondisi ibu yang harus menemani tidur anak-anak kecil mereka, “cerita pengantar tidur untuk anak dibuat langsung di tempat tidur, dan hasilnya luar biasa!” Maka sebagian ibu “bertanya-tanya apakah kegiatan menulis sepadan dengan pengurbanan yang harus dikeluarkan”.
Menjadi ibu rumah tangga, benar-benar menguras sangat banyak waktu, pikiran dan tenaga. Namun benarkan ibu rumah tangga tidak bisa produktif menulis dan menghasilkan karya hebat mendunia? Tentu saja mereka bisa, dan sudah banyak contohnya.
Bagaimana Mengatur Waktu Menulis dan Mengurus Rumah Tangga?
“So I became a novelist and mother on the same day. Those two important lives have always been one for me” –Barbara Kingsolver.
Ada banyak ibu rumah tangga yang memiliki karya mendunia. Salah satunya adalah Barbara Kingsolver. Sembilan bukunya terpilih sebagai best seller New York Times. Tentu saja ini adalah capaian yang sangat prestisius. Sangat banyak penulis dunia bercita-cita mendapat penghargaan best seller NY Times, dan Kingsolver mendapatkannya.
Menjadi ibu rumah tangga sekaligus menjadi penulis profesional, tentu bukan hal mudah. Bagaimana Barbara Kingsolver menjalani dan menyeimbangkan keduanya? “Selama menjalani karir sebagai novelis, saya adalah seorang ibu,” ujar Kingsolver. Bahkan ia belum memiliki novel sebelum menjadi ibu.
Karir sebagai novelis, benar-benar seiring dengan ‘karir’ sebagai seorang ibu. “Saya mendapat kontrak buku pertama, dari penerbit The Bean Trees, pada hari dimana saya pulang dari rumah sakit setelah kelahiran anak pertama”, ujarnya. Seakan bayi menjadi pintu hadirnya berkah baginya.
Kingsolver tidak merasakan adanya keterpecahan dalam dirinya –antara peran menjadi ibu dan peran menjadi novelis produktif. “Saya menjadi seorang novelis dan menjadi ibu di hari yang sama. Dua sisi kehidupan penting itu selalu menjadi satu. Saya harus melakukan keduanya pada waktu yang sama”, lanjutnya.
Terbayang betapa rempong mengurus anak kecil, namun harus menyelesaikan target menulis buku. “Waktu menulis saya dibatasi oleh peran domestik, untuk mengasuh anak-anak. Ketika anak-anak masih kecil, terasa sulit bagi saya untuk menjalankan keduanya. Saya menghargai setiap waktu di meja kerja sebagai sebuah hadiah”.
Saat anak-anak masih kecil, setiap pagi Kingsolver harus mengantar anak menuju bus sekolah. “Saya sering mengatakan, the school bus is my muse. Bus sekolah adalah inspirasi saya. Ketika anak saya keluar rumah dan masuk ke dalam bus sekolah, saat itulah hari menulis saya dimulai. waktu menulis saya berakhir ketika bus sekolah telah kembali”, ungkapnya.
Ia belum mulai menulis saat anak masih di rumah dan tengah mempersiapkan untuk berangkat sekolah. Kehadiran bus sekolah adalah penanda, bahwa hari menjadi novelis telah dimulai. Ia segera menuju meja kerja untuk menulis. Di saat itu pula ia telah dibanjiri ide-ide kreatif untuk dituliskan.
Setelah anak-anak menginjak remaja dan dewasa, semua menjadi lebih mudah. “Seiring berjalannya waktu, anak-anak mulai memasuki dunia sekolah. Ini membuat saya semakin mudah menjalani peran sebagai ibu bekerja. Anak tertua saya sudah dewasa, dan bungsu saya berusia 16 tahun, jadi keduanya sudah mandiri –tapi itu tentu sebuah proses yang bertahap”.
Proses perjalanan sejak mendapatkan kontrak dari penerbit pertama kali, di saat bayi pertama tiba di rumah dari rumah bersalin, hingga anak-anak tumbuh dewasa, adalah sebuah perjalanan yang membahagiakan Kingsolver. Ia bisa berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya, dan tentu sajamenjadi istri bagi suaminya –sekaligus menjadi novelis yang dicintai banyak penggemarnya di seluruh dunia.
Kingsolver selalu mensyukuri nikmat sebagai ibu dan nikmat sebagai penulis. “Bagi saya, waktu menulis selalu berharga. Menjadi sesuatu yang saya tunggu dan saya rindukan, serta saya manfaatkan sebaik-baiknya. Mungkin itulah sebabnya saya bangun pagi-pagi sekali dan memiliki waktu menulis di waktu fajar yang tenang, ketika sedang tidak ada yang membutuhkan saya”.
Bagaimana dengan Anda? Apa alasan Anda untuk tidak menulis?
Bahan Bacaan
James Clear, The Daily Routines of 12 Famous Writers, www.jamesclear.com
Jewel Eliese, You Know You’re a Writer Mom When… https://writingcooperative.com, 3 Desember 2018