Asraru Ash-Shiyam, Rahasia-Rahasia Puasa

Asraru Ash-Shiyam, Rahasia-Rahasia Puasa

 

Catatan dari “Tarbiyah Zoomiyah” bersama Ustadz Dr. Tulus Mustofa, MA., Kamis 16 April 2020, jam 20.00 – 21.15 WIB.

 

 

“Permulaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh hamba, akan membuahkan hasil berupa hidayah dari Allah”.

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang penuh dengan keistimewaan. Sangat banyak pahala, rahmat dan ampunan yang Allah berikan bagi hamba yang berpuasa. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, membuat satu bab tersendiri tentang rahasia-rahasia puasa.

Di antara rahasia puasa adalah:

  1. Puasa adalah Seperempat Iman

Imam Al-Ghazali menyebut puasa adalah seperempat iman. Ini berdasarkan hadits Nabi saw,

لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصَّوْمُ زَادَ مُحْرِزٌ فِي حَدِيثِهِ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ

“Segala sesuatu memiliki Zakat, adapun zakatnya badan adalah puasa. Perawi Muhriz menambahkan, Rasul saw bersabda, “Puasa itu separuh kesabaran” (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadits yang lain, Nabi saw menyatakan bahwa sabar adalah separuh dari iman,

“الصَّبْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ”

“Sabar adalah separuh dari iman” (HR. Al-Hakim)

Maka puasa adalah seperempat iman.

  1. Pahala Puasa Unlimited

Ibadah yang sehari-hari kita lakukan, pahalanya 10 – 700 lipat, kecuali puasa. Allah akan membalas dengan pahala yang unlimited, karena puasa adalah ibadah yang khusus untuk Allah.

Nabi saw bersabda, bahwa Allah berfirman,

« كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung ”. (HR Bukhari 7/226).

Pahala puasa itu digelontorkan Allah sangat banyak kepada manusia. Sangat banyak sampai tidak terhitung.

  1. Bau Mulut Orang Puasa Sangat Wangi di Sisi Allah

Bau mulut orang puasa dinilai lebih harum dibanding dengan misk atau minyak wangi —di sisi Allah. Ini menandakan sangat istimewanya ibadah puasa di hadapan Allah.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِّ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ

“Demi Zat yang berkuasa atas nyawaku, sungguhbau mulut orang puasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada bau misik.” (HR. Bukhari)

  1. Pintu Ar-Rayyan di Surga untuk Orang yang Berpuasa

Khusus orang yang berpuasa, ada pintu surga tersendiri, diberi nama pintu Ar-Rayyan. Ini menandakan orang yang berpuasa dijamin dengan surga yang istimewa.

Nabi saw bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut ar-rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

  1. Dua Kegembiraan bagi Orang Berpuasa

Kegembiraan pertama adalah ketika ifthar atau berbuka, bisa juga dimaknai sebagai sebagai hari Idul Fitri. Kedua, kegembiraan ketika bertemu Allah Ta’ala, farhatun inda liqa’i Rabbihi.

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya” (Muttafaq ‘Alaihi)

  1. Puasa Adalah Amal yang Dibanggakan Allah Dihadapan Malaikat

Salah satu amal yang dibanggakan adalah zuhud terhadap dunia. Nabi saw bersabda, bahwa sesungguhnya Allah membanggakan di hadapan malaikat, para pemuda yang mampu meninggalkan syahwat untuk Allah, dan menggunakan masa mudanya untuk Allah.

Rasulullah saw bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah”. (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)

Yang dimaksud adalah, pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.

Waktu muda yang Allah banggakan di hadapan malaikat itu, keadaannya sama dengan orang yang berpuasa. Allah membbanggakan, “Lihat hambaKu, mereka tinggalkan syahwat dan kelezatan dunia, untuk Aku”.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

“Seluruh amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat”. Allah Ta’ala berfirman, “Kecuali puasa. Sebab pahala puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.”

  1. Amal Puasa Tidak Terlihat

Imam Al-Ghazali menjelaskan, bahwa puasa itu memiliki dua sisi aktivitas, yaitu mengekang diri dan meninggalkan. Dua pekerjaan ini —mengekang diri dan meninggalkan— tidak terlihat oleh manusia. Ini merupakan amal batin, yang diikuti dengan kesabaran. Inilah yang disebut sebagai “puasa itu untuk-Ku”.

  1. Puasa Mengalahkan Musuh

Puasa itu adalah aktivitas yang menekan atau mengalahkan musuh. Bahwa musuh manusia adalah syahwat, dan itu dikalahkan dengan puasa. Setan berjalan mengikuti aliran darah manusia, maka sempitkan jalan setan itu dengan lapar.

Menurut Imam Al-Ghazali, perubahan yang terjadi di dunia ini adalah karena berkembangnya syahwat. Jika syahwat semakin meningkat, maka berkembanglah setan. Jika itu terjadi, maka keagungan Allah tidak terbuka baginya, akhirnya tertutup peluang untuk berjumpa dengan Allah. Dalam bahasa tasawuf, menusia perlu takhalli, tahalli, tajalli.

Yang dimaksud takhalli adalah mengosongkan atau membersihkan diri. Yang dimaksud tahalli adalah menghias atau memperindah diri. Sedangkan tajalli adalah menyambung dengan keindahan Allah.

Menyambut Bulan Ramadhan dengan Bahagia

Saking istimewanya Ramadhan, maka perilaku salafus salih juga memperlakukan dengan istimewa. Mereka membagi waktu hidup menjadi dua bagian. Enam bulan berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan berdoa agar amal ibadah mereka diterima.

Mu’alla bin Al-Fadhl, salah satu ulama tabiu’ tabiin berkata, “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.”

Allah menjamu penduduk surga untuk menyantap makanan dan minuman yang mereka inginkan dan mereka pilih,

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Haqqah: 24)

Imam Al-Waki’ menjelaskan, yang dimaksud dengan “ayyamul khaliyah” adalah amal puasa. Karena saat puasa, manusia meninggalkan makan dan minum, maka kelak di surga, Allah menjamu mereka dengan makan dan minum.

 

 

Diingat dan dicatat, dengan penyesuaian redaksi, oleh Pak Cah.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan