Ayah Bundaku Orang Tua yang Asyik

Ayah Bundaku Orang Tua yang Asyik

Menjadi Orang Tua yang Asyik

 

By Ummu Rochimah

Seorang guru sekolah dasar suatu hari mendapati salah satu muridnya tidak mengerjakan PR yang dia berikan. Ia pun menanyakan mengapa muridnya itu tidak mengerjakan PR. Murid pun menjawab, _”Saya ngga tau caranya Pak!”_
_”Kamu tidak bertanya atau dibantu oleh orang tuamu?”_ tanya sang guru lagi

_”Itu dia Pak, Papah sama Mamah saya juga ngga tau caranya. Papah Mamah saya ngga asyik orangnya, masa kayak gini aja ngga bisa, ngga nyambung!”_

Duerrr..!!!

Akhirnya guru ini melakukan survey kecil-kecilan kepada murid di kelasnya tentang apa dan bagaimana kriteria orang tua yang asyik di mata anak-anak. Dan ia menemukan beberapa kriteria orang tua asyik versi anak-anak sekolah dasar. Antara lain,

_Pertama_, _Smart_
Orang tua yang asyik itu adalah orang tua yang smart, yaitu memiliki wawasan yang luas, pintar, dapat menjawab semua pertanyaan termasuk pelajaran sekolah, bisa membantu mengerjakan PR, ngga lola alias loading lama alias kelamaan kalau mikir, tidak memperlihatkan kelemahan atau ketidaktahuannya, karena menurut mereka, hal itu memalukan.

Wuiidihh…!! Ngerriih nian kriterianya yaa ayah bunda

Tapi kalau dipikir-pikir benar juga kalau anak-anak mematok kriteria seperti itu. Dalam pandangan mereka, ayah bundanya haruslah lebih pintar dari mereka atau mempunyai melebihan bertingkat-tingkat di atas kemampuan mereka, terlebih dalam hal ilmu pengetahuan. Bagaimana orang tua akan mengajarkan membaca kalau mereka sendiri tidak bisa membaca?!

Kriteria ini sebenarnya tidak berlebihan. Karena memang sudah seharusnya orang tua itu harus menjadi orang tua yang pintar. Ada beberapa cara untuk menjadi orang tua yang masuk kriteria ini, salah satunya adalah dengan _banyak membaca_. Allah sendiri menyuruh hamba- hambaNya untuk membaca (iqro’). Dengan membaca pengetahuan kita akan semakin kaya. Di zaman sekarang ini tidak ada lagi alasan bagi orang tua untuk kita tidak membaca. Sudah terlalu banyak media yang bisa digunakan sebagai sarana supaya kita bisa terus membaca. Tinggal semua kembali berpulang kepada diri kita sendiri, apakah kita ingin menjadi orang tua yang _smart_, pintar, melek ilmu pengetahuan sebagaimama yang diidam-idamkan anak-anak kita atau menjadiorang tua yang jumud, bak air tergenang yang kemudian tertinggal di belakang?

Seringkali anak bertanya tentang pelajaran sekolahnya, atau tentang apapun yang mereka belum pahamai. Namun, saat itu ayah dan bundanya tidak bisa menjawabnya, ini suatu yang lumrah dan wajar, emak bapake kan sudah alumni tahun dikit. Tapi ternyata, hal ini tidak boleh menjadi penghalang bagi orang tua dan beralasan sudah lupa dengan pelajaran itu. Orang tua yang smart ia akan mencari cara untuk membantu mencari jawaban atas pertanyaan anaknya, membuka kembali literarur buku-buku pengetahuan, bahkan menghubungi teman-temannya atau adik kelasnya yang mungkin seorang guru, dan lain-lain supaya bisa memberi jawaban yang benar. Intinya berusaha mencari jawaban pertanyaan anaknya.

Hal ini tidak lepas dari masalah tanghung jawab orang tua terhadap segala sesuatu yang bisa memberikan pencerahan atau sesuatu yang baru bagi anaknya. Yang nantinya bisa membuka wawasan pemikiran bagi anak. Di sisi lain, moment ini bisa menjadi sarana untuk membangun bonding atau ikatan antara orang tua dan anak.

Seorang dosen yang bijak pernah mengucapkan sesuatu di depan mahasiswanya, “Silakan kalian bertanya apa saja kepada saya, selagi itu bisa menambah wawasan pengetahuan kalian. Kalau saya bisa menjawab akan saya jawab, Namun, seandainya saya tidak bisa menjawab, maka itu akan menjadi ilmu bagi saya.” Mulanya hal ini membuat heran, mengapa ketidaktahuan dapat menjadi ilmu?

Akhirnya beliau pun menjelaskan alasannya, “Kalau kalian bertanya lalu saya bisa menjawab pertanyaan itu dengan benar, itu adalah hal yang biasa. Namun, ketika kalian bertanya dan kebetulan saya tidak bisa menjawabnya, maka saya akan berusaha untuk mencari tahu jawabnnya, dengan cara saya membaca buku-buku, bertanya kepada yang lebih ahli, atau dengan cara yang lain. Ketika saya menemukan jawabannya, maka sayalah orang yang pertama tahu dan hal itu jelas akan menambah wawasan pengetahuan saya. Jadi, itu adalah ilmu bagi saya.”

Jadi, ketidakmampuan orang tua dalam menjawab pertanyaan anak, bukanlah harga mati yang kemudian membuat orang tua berdiam diri, lalu menjawab pertanyaan semaunya sendiri. Ujung-ujungnya mengatakan, “Waktu jaman Mamah dulu ngga ada pelajaran kayak gini!” Atau justru membungkam anak dengan kalimat, “Iihhh..! Jangan tanya ke Mamah deh, tanya sama Papah aja sana!” Ketika anak menuju Papahnya, yang diperoleh ternyata jawaban yang sama. Duuh.. ke mana anak harus bertanya? Masak iya harus bertanya pada rumput yang bergoyang?

Jadi, ketidaktahuan yang dimiliki orang tua, hendaknya dijadikan pemicu, trigger, cambuk bagi orang tua untuk lebih proaktif dalam menambah dan memperkaya ilmu pengetahuan. *Jadikan ketidaktahuan itu sebagai ilmu.*

Bagaimana jika anak bertanya tentang sesuatu yang menurut orang tua belum saatnya untuk mereka ketahui. Misal masalah politik, ekonomi, atau masalah seksualitas. Tentu hal ini tidak lantas membuat ayah dan bunda melarang mereka dengan alasan, “belum waktunya”. Orang tua harus arif dan bijaksana. Mungkin saja anak bertanya tentang hal tersebut karena pernah mendengar, atau dia mempunyai ketertarikan untuk mempelajari hal-hal yang ia tanyakan. Karena bukan mustahil hal itulah yang akan menjadi pilhan, karier atau jalan hidupnya nanti.

Yang terpenting adalah adanya pemberian waktu dan kesempayan yang seluas-luasnya kepada anak untuk mengembangkan potensinya melalui berbagai pertanyaan ataupun pendapat yang dilontarkan.

_Kedua_, _to be continued_…

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan