Kembali
Uncategorized

Ayo, Nak. Bagian Permulaan Kita Perhatikan

Oleh: Ayah & Mba Asri M Syahidah*
Pegiat Jogja Family Center

“Ayah, mengapa dalam berbagai kesempatan kita sering mendengar ungkapan seperti ini ‘kalah dan menang itu biasa’, ‘sukses dan gagal itu biasa’, ‘nikmatilah jatuh dan bangunmu’, bahkan ada juga ungkapan, ‘tidak ada istilah kalah dalam perjuangan dakwah’?”

“Mba Asri, ada hikmah besar dari kita belajar matematika di sekolah. Salah satunya ada pada pemahaman tentang pola bilangan. Meskipun persitiwa-persitiwa dimasa lalu dan yang terjadi di sekitar kita tidak sesederhana rumus-rumus matematika yang mudah dikuasai oleh pelajar yang ber IQ tinggi.

Namun, dari pemahaman tentang pola bilangan, nalar kita mendapat sedikit panduan untuk lebih mudah memahami tentang pola kehidupan. Yaitu, tentang bagaimana sunnatullah berlaku bagi kehidupan manusia. Pasang surut dan jatuh bangunnya peradaban manusia selalu bisa kita temukan sebab-sebabnya. Mereka yang dibimbing Allah memilki kecerdasan jiwa, biasanya akan menemukan sekaligus menciptakan pola hidup yang dieperlukan oleh zamannya.

Meskipun pasti berat untuk kita cerna, ayo kita bincangkan, Mba. Ayo kita tulis ulang pelajaran yang ada di buku kecil ini:”
….
Dakwah tidak akan memperoleh kemenangan kecuali bila dalam janji para da’inya kepada tugas dan tuhannya tidak memberikan bagian apapun kepada setan untuk dapat berperan.

Bahkan, amal sekecil apapun bila dibarengi dengan niat yang tulus akan melahirkan hasil yang besar, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Abdullah Ibnul Mubarak melalui ucapannya:

“Banyak amal kecil yang menjadi besar karena niatnya dan banyak amal besar yang menjadi kecil karena niatnya pula.”

Seorang da’i yang tidak pandai berorasi, berkat ketulusan niatnya, lisannya akan dapat mengeluarkan kata-kata mutiara yang menawan hati banyak orang. Hal ini telah dinyatakan oleh seorang tabib bernama Abdul Qadir Al Kailani melalui ucapannya yang menyebutkan:

“Jadilah kamu orang yang benar dalam rahasiamu niscaya engkau menjadi orang yang fasih di tengah keramaian.”

Adapun orang yang keruh niatnya, maka akan menjadi keruh pula segala urusan dan sepak terjangnya. Hal ini telah dicatat oleh sejarah sebagai suatu penyebab kegagalan yang dialami oleh orang-orang yang keruh niatnya.

Pengertian ini pula yang telah ditemukan oleh seorang Tabi’in yang mulia, Mutharif putra seorang sahabat yang mulai ‘Abdullah Ibnu Syikhkhir Al ‘Amiri, melalui ucapannya sebagai berikut:

“Baiknya amal karena baiknya hati, baiknya hati karena baiknya niat. Barang siapa yang tulus dalam niatnya, maka hasilnya akan mulus, dan barang siapa yang keruh niatnya maka hasilnya akan keruh pula.”

Sebagai akibat dari kekeruhan ini, akan terjadi keguncangan dalam hati dan kekacauan tanpa ada ketenangan. Sebagaimana dikatakan oleh Musthafa Shadiq Ar Rafi’i,

“Bahwa keliru besar bila engkau, membuat kehidupan yang ada di sekitarmu menjadi teratur, sedangkan engkau biarkan kekacauan melanda hatimu”

Oleh karena itu, kenalilah dengan baik cara menyiasati jiwa ini hai orang yang terlibat dalam misi dakwah, dan dekatilah dengan langkah yang tepat sebelum memasuki politik pemerintahan. Karena sesungguhnya merupakan suatu keharusan bagi seorang yang akan beramal untuk dapat mengenal dengan baik antara niat dan harapan.

Selengkapnya di link:

https://www.facebook.com/share/p/12F5E4UoRcf

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.