Azka Masih Kecil, Lho!

Azka Masih Kecil, Lho!

“Menanam benih kebaikan dimulai sedini mungkin, agar mengakar kuat dan tumbuh menjadi pohon yang kelak akan berbuah kebaikan.” (Ida_Kusdiati – Quote)

 

Pagi ini seperti biasa wajah imutnya yang terlihat cerah mampu mengusir resah kala di depan mata terpampang segudang amanah. Menyepakati hari ini menemani mama ke rumah Mbah karena dia sadar betul bahwa mamanya milik banyak orang tak hanya dirinya yang butuh perhatian.

Azka, yang saat ini berumur 5 tahun tak lagi menuntut dengan rengekan untuk dimanja, justru sebaliknya keadaan menuntut Azka tumbuh mandiri dan menjadi sahabat pengasuhan mama bagi kedua orang Mbahnya yang sudah sepuh.

Sejak Mbah Uti sakit 3 tahun yang lalu, Azka paham betul ketidakberdayaan Mbah dengan stroke yang dideritanya membutuhkan perhatian dan kasih sayang sehingga kalimat, “Azka, Mama hari ini jaga Mbah dulu ya. Tolong Azka yang solehah hari ini.” Sudah sangat familiar ditelinganya. Bahkan tak jarang dengan mata berbinar dan semangat empat lima Azka menawarkan diri, ” Azka ikut ya, Ma. Nanti Azka bantu Mama.” Meskipun kenyataannya kadang meleset dari rencana.

Satu bulan terakhir amanah pengasuhan bertambah, pasca bapak yang melewati masa kritis di Rumah Sakit, kondisi fisik beliau sangat drop dan butuh perhatian juga. Lengkaplah kini pengasuhan pada bapak dan ibu menjadi agenda rutin yang terjadwalkan.

Sabtu dan ahad adalah dua hari yang cenderung full diagendakan, karena di hari libur yang mengasuh bapak ibu kami liburkan untuk menjaga stamina dan menjaga kewarasannya, mengingat mengasuh orang tua berbeda dengan anak kecil dibutuhkan berlipat ganda kesabaran.

Azka, jadi asisten hari ahad ini karena yang lain sedang dengan berbagai amanah. Beruntung Azka sangat kooperatif terutama menghadapi Mbah Kong yang bolak-balik memanggil hanya untuk mencari perhatian.

“Dek, kesini!” panggilan Mbah Kong yang minta Azka menghampirinya.

“Ada apa, Mbah Kong?” tanya Azka santun.

“Pijatkan Mbah,” pinta Mbah manja.

“Ya, Mbah,” jawab Azka sambil mulai memijat bagian-bagian yang ditunjuk Mbah dengan tangan mungilnya.

“Udah Ya, Mbah, tangan Azka pegel,” ujarnya santun.

Mbah membolehkan Azka pergi, namun baru berselang lima menit kembali panggilan untuk Azka.

“Dek, sini sebentar,” ujar Mbah Kong.

“Ada apa, Mbah,” tanya azka masih dengan nada santun.

“Tolong ambilkan Mbah kue regal ya,” jawab Mbah.

“Ok.” Azka bergegas ke ruang tengah mengambil kue yang diminta Mbah, dan langsung mengantarkannya, setelah itu Azka beranjak dari kamar Mbah ingin bermain bersama kucing peliharaan Mas Daffa (abang sepupunya).

Namun … baru saja Azka bermain tak lama kemudian kedengaran lagi suara Mbah dari dalam kamar.

“Dek, sini sebentar,” ujar Mbah memanggil Azka yang memang tak lepas dari jangkauan pandangan Mbah dari dalam kamar. Azka kembali berlari mendekati kasur Mbah dan bertanya, “Apa lagi, Mbah?”

“Selimutkan Mbah, dingin!” ujar Mbah Kong.

“Mbah-mbah selimutnya deket kok dengan Mbah,” gumamnya lirih sambil geleng kepala tapi tetap melakukan apa yang diperintahkan Mbah.

Setelah selesai Azka ngacir kembali keluar kamar ingin melanjutkan permainannya tadi. Namun … kembali suara Mbah memanggil Azka. “Dek, tolong Mbah.”

Azka datang kali ini dengan wajah yang sedikit runyam akibat sebel tak bisa fokus bermain.

“Apalagi Mbaaah,” serunya masih berusaha menahan diri dengan kata yang santun.

“Gantikan pampers Mbah ya,” ujar Mbah yang langsung disambut dengan perkataan Azka yang sedikit kaget dengan perintah barusan.

“Astaghfirullah Mbaah … Azka kan anak kecil, mana bisa Mbah gantikan pampers Mbah, Ya Ampuuun Mbah ini. Tunggu ya sebentar Azka panggilin Mama,” ujarnya panjang dengan omelannya.

Azka berlari ke kamar sebelah dimana aku sedang mengurus Mbah Utinya.

“Mama, Mbah Kong ajaib deh masak Azka anak kecil disuruh ganti pampers Mbah, Ya Allah itu urusan Mamalah!” ujar Azka panjang sambil menepuk jidatnya.

“hahaha … Mbah pikir Azka udah besar, habis Azka anak hebat sih!” jawabku memberinya semangat.

“Azka nih anak kecil loh, Ma! Masak Mbah nggak mikir,” jawab Azka yang kusambut dengan cubitan gemes di pipinya.

“Ya sudah, nanti Mama yang gantikan. Azka lihatkan Mbah Uti sebentar ya,” ujarku pada Azka.

“Siap. Mbah Uti ini Azka, Mbah Uti jangan rewel kayak Mbah Kong yaaa,” ujar Azka sambil menepuk-nepuk tangan Mbah Uti pelan agar Mbah merasakan kehadirannya.

Salah satu hikmah yang paling kusyukuri dari ujian sakitnya kedua orangtua. Bagaimana Ananda semua termasuk Azka memahami betul apa itu “birrul walidain” dan mempraktekannya secara nyata. Dimulai dari menumbuhkan rasa cinta, hormat dan kasih sayang kepada kedua orangtua, sehingga pengasuhan menjadi sebuah kewajiban yang kalau mereka tidak lakukan akan terasa merugi saat Allah masih berikan kesempatan.

Terima kasih Azka, yang telah membantu mama semampu yang kamu bisa. Mama bangga padamu semoga cinta mbah, mama dan ayah menjadi do’a kebaikan untukmu meraih sukses dunia dan akherat. Bravo Azka!

Ptk, 18-01-21

Ida Kusdiati

Tinggalkan Balasan