.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Saya akan berbagi tips sederhana. Tentang cara mengutip dan menuliskan sumber kutipan, apabila kita mengambil dari web atau blog.
Pertama, kita pahami dulu perbedaan web dan blog. Keduanya tampak serupa, tapi tak sama.
Istilah blog merupakan singkatan dari web blog, umumnya berisi artikel baik fiksi maupun nonfiksi. Sedangkan website adalah situs laman online yang terhubung dalam satu domain dan dikelola oleh tim, biasanya untuk kepentingan lembaga atau perusahaan.
Konten di dalam blog cenderung memerlukan update konten. Sedangkan website lebih bersifat statis, tidak harus update konten setiap hari.
Gaya bahasa di blog cenderung bebas, disesuaikan dengan demografi audiens. Untuk website cenderung menggunakan gaya bahasa formal dan profesional karena terkait citra perusahaan.
Blog umumnya bersifat lebih interaktif, di setiap artikel pembaca dapat berkomentar atau membagikan artikel melalui berbagai channel. Website umumnya tidak menyediakan kolom komentar.
Semoga bisa dipahami perbedaan keduanya.
5 Tips Mengutip dari Blog dan Web
Selanjutnya, berikut lima tips untuk mengutip dari sumber blog atau web.
Tips 1 – Pilih yang Terpercaya
Pilih blog atau web yang terpercaya. Misalnya, blog / web milik lembaga resmi, lembaga pemerintahan, atau kampus / lembaga pendidikan. Boleh juga blog / web milik personal, namun harus yakin terhadap kredibilitas pemilik blog tersebut.
Jangan sembarangan masuk blog / web. Di zaman sekarang, ada banyak web / blog abal-abal, penyebar hoax. Kredibilitas Anda sedang dipertaruhkan.
Tips 2 – Cermati Kelayakan
Cermati, apakah tulisan di blog / web tersebut mencantumkan daftar pustaka atau tidak? Apakah itu orisinal tulisan pemilik blog / web, atau repost dari web / blog lain? Apakah mencantumkan nama penulis atau tidak? Apakah mencantumkan penanda waktu posting atau tidak?
Semakin detail informasi tersaji, semakin memudahkan Anda dalam menilai kelayakan tulisan tersebut untuk Anda kutip. Kutip hanya yang Anda yakini layak dan kredibel untuk dikutip.
Tips 3 – Ambil Seperlunya
Ambil bagian yang Anda perlukan saja. Bagian manakah dari tulisan tersebut yang Anda perlukan? Kutip hanya di bagian itu saja.
Anda tidak perlu mengutip satu paragraf penuh, apabila keperluan Anda hanya ada pada satu atau dua kalimat saja. Bahkan kadang, Anda hanya perlu menguti satu istilah saja dari sebuah tulisan panjang.
Tips 4 – Jujur
Jujur adalah prinsip. Kejujuran dalam mengutip adalah moralitas penulis. Meski hanya mengutip satu istilah, Anda harus jujur menyatakannya.
Misalnya, saya menulis istilah “pseudo literasi”. Ini bukan istilah saya. Ini adalah istilah M. Iqbal Dawami. Jujurlah jika memang Anda mengutip. Jangan mengesankan seakan itu istilah ciptaan Anda.
Tips 5 – Nyatakan
Bagian mana yang Anda kutip? Nyatakan. Jangan menyembunyikan kutipan. Perhatikan contoh yang saya buat berikut.
Mengapa banyak perpustakaan yang sepi? Karena dikelola oleh ‘pejabat’ atau ‘pengusaha’, bukan ‘pegiat’ atau ‘pecinta’. Pejabat sekedar menjalankan program. Sedangkan pegiat, mereka memiliki kecintaan dan kepedulian terhadap dunia literasi. Para ‘pejabat’ ini, sekedar melaksanakan tugas.
Fenomena seperti ini, mengutip istilah M. Iqbal Dawami (2017), disebut sebagai pseudo literasi. Istilah pseudo literasi pertama kali saya baca dari tulisan mas Bambang Trim di blog Manis Tebu (2017).
Nah, saya sudah menyatakan, bagian yang saya kutip hanyalah satu istilah. Yaitu istilah ‘pseudo literasi’ yang dikemukakan oleh M. Iqbal Dawami (2017) dan saya kutip dari tulisan mas Bambang Trim di blog Manis Tebu.
Tips 6 – Sebut Sumbernya
Untuk jenis tulisan populer, tidak ada standar baku dalam penyebutan sumber rujukan. Berbeda dengan tulisan akademik seperti skripsi, tesis dan disertasi.
Saya menyampaikan contoh untuk jenis tulisan populer. Maka cara penulisan sumber kutipan sangat fleksibel.
Jika sumber tulisan di blog atau web tersebut mencantumkan informasi dengan lengkap, yaitu nama penulis, judul tulisan, tanggal posting, maka bisa ditulis sebagai berikut:
Bambang Trim, Literasi Semu dan Semur Literasi, www.manistebu.com, 7 Mei 2017
Jika sumber tulisan di blog atau web tersebut tidak mencantumkan informasi tanggal posting, maka bisa ditulis sebagai berikut:
Abner Sitorus, Mewujudkan Perpustakaan Ideal, www.bpkp.go.id, diakses tanggal 4 Desember 2020
Jika sumber tulisan di blog atau web tersebut tidak mencantumkan informasi nama penulis dan tanggal posting, maka bisa ditulis sebagai berikut:
Badan Pusat Statistik, Kunjungan Wisatawan Mancanegara per Bulan Menurut Kebangsaan (Kunjungan) 2020, www.bps.go.id, diakses tanggal 4 Desember 2020
Pencantuman sumber bisa diletakkan di bagian bawah tulisan, menjadi daftar pustaka dari tulisan Anda.
Contoh Aplikasi
Saya membaca sebuah naskah yang akan diterbitkan menjadi buku. Penulis meminta saya untuk memberi masukan. Saya menemukan banyak kutipan yang dilakukan dengan kurang rapi. Sebenarnya sudah memenuhi aspek kejujuran, namun kurang rapi dalam cara penyebutan.
Berikut contoh yang saya maksudkan:
Luqman dikenal karena hikmah nasihatnya kepada anaknya, antara lain sesuai dikutip dalam web dengan link https://muslim.or.id/20020-nasehat-akhlak-dari-lukman-pada-anaknya.html sebagai berikut:…
Cara penulisan sumber kutipan seperti di atas, membuat badan tulisan menjadi tidak rapi. Akan lebih rapi jika ditulis sebagai berikut:
Luqman dikenal karena hikmah nasihat kepada anaknya. Menurut Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal (2014), ada enam poin nasihat Lukman kepada anaknya, sebagai berikut: …
….
Daftar Pustaka
Muhammad Abduh Tuasikal, Nasihat Akhlak dari Lukman Pada Anaknya, www.muslim.or.id, 8 Februari 2014
Nah, dengan cara seperti ini, badan tulisan menjadi lebih rapi. Sedangkan sumber rujukan ditulis di daftar pustaka, di bagian akhir dari tulisan.
Selamat berkarya. Selamat menebar makna.