Kembali
Teknik Menulis

Bagaimana Menulis Cerita yang Bagus?

Bagian Ketiga

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Good writers know all the rules and follow them. Great writers know all the rules and break them” – Joe Bunting, 2021.

.

Menulis itu mudah, namun menulis cerita yang bagus tidaklah mudah. Perusahaan besar seperti Pixar, rela menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk bisa menghasilkan cerita-cerita yang hebat untuk film mereka. Normalnya pembuatan cerita untuk film Pixar memerlukan waktu sampai enam tahun (Joe Bunting, 2021).

Bagaimanakah langkah membuat cerita yang bagus? Berikut saya nukilkan pengalaman Joe Bunting, bagaimana ia menghasilkan cerita-cerita yang berkualitas. Joe Bunting berbagi sepuluh rahasia agar cerita yang Anda tulis bisa lebih bagus.

Ini kelanjutan dari dua postingan sebelumnya, yang telah mebahas poin pertama hingga kelima. Kali ini kita ulas poin keenam hingga kedelapan.

6. Tulis Tentang Kematian

“Good stories often involve death. Harry Potter, The Hunger Games, Charlotte’s Web, The Lord of the Rings, and more all had main characters who died” – Joe Bunting, 2021.

Joe Bunting menantang, ingatlah lima novel terakhir yang Anda baca. Berapa banyak dari novel itu yang berakhir dengan kematian? Menurut Bunting, kematian adalah tema universal karena setiap orang hidup suatu hari akan mati. Ketuk kekuatan kematian dalam cerita Anda.

Pembaca tak hanya ingin disuguhi dengan mimpi-mimpi keindahan. Mereka juga ingin diberikan realitas yang mudah ditemukan dalam kehidupan. Itu sebabnya, cerita panjang yang semuanya hanya berisi hal menyenangkan, justru tidak menarik. Karena tidak berpijak kepada kenyataan.

Realitas dalam kehidupan mengajarkan, kita pasti akan ketemu dengan hal yang menyedihkan. Kita akan ditinggal oleh orang-orang terkasih dan terdekat, suatu ketika. Maka menulis tentang kematian membuat cerita Anda lebih realistik. Lebih dekat dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan nyata.

Jika kita perhatikan, cerita bagus sering kali melibatkan kematian. Kisah populer Harry Potter, The Hunger Games, Charlotte’s Web, The Lord of the Rings, dan banyak lagi –memiliki tokoh utama yang meninggal dunia.

Sekarang tinggal Anda olah, tokoh siapa yang hendak dimatikan? Pilih yang paling memberikan kesan dramatik, serta mengejutkan. Tak terduga oleh pembaca.

“Death is the universal theme because every person who lives will one day die. Tap the power of death in your storytelling” – Joe Bunting, 2021.

7. Edit Cerita Anda dengan Seksama

“Most professional writers write three drafts or more. The first draft is often called the “vomit draft” or the “shitty first draft.” Don’t share it with anyone! Your first drfat is your chance to explore your story and figure out what it’s about” – Joe Bunting, 2021.

Joe Bunting menyatakan, kebanyakan penulis profesional menulis cerita dalam tiga draf atau bahkan lebih. Draf pertama disebut sebagai”draf muntah” atau “draf pertama yang menyebalkan.” Untuk draf pertama ini, jangan membaginya dengan siapa pun. Draf pertama adalah kesempatan bagi Anda untuk menjelajahi cerita dan menggali secara lebih dalam.

Draf kedua bukan juga bukan final. Menurut Joe Bunting, draf kedua bukan untuk diedit. Banyak penulis yang ingin memoles dan mengedit secepat mungkin, karena tidak nyaman dengan draf pertama dan draf kedua. Menurut Bunting, draf kedua dimaksudkan untuk perubahan struktural yang mendasar, dan untuk memperjelas plot serta karakter cerita Anda.

Draf ketiga adalah untuk proses pemolesan dan penyuntingan yang seksama. Lakukan edit naskah dengan cermat. Gunakan semua kemampuan Anda untuk memperindah draf ketiga, hingga menjadi cerita yang sempurna. Ini bagian final perjuangan Anda dalam menulis sebuah cerita.

Bunting mengingatkan, sampai Anda menulis dua draf awal, jika melakukan editing dan pemolesan, hanya akan membuang-buang waktu Anda. Maka tunggu sampai draf ketiga, dan Anda baru memulai langkah untuk mengedit, memoleh dan memperindah.

“The third draft is for deep polishing. Now is when everything starts to gel. This is the fun part! But until you write the first two drafts, polishing is probably a waste of your time” – Joe Bunting, 2021.

8. Pahami Aturan, dan Langgar Aturan Itu

“Good writers know all the rules and follow them. Great writers know all the rules and break them” – Joe Bunting, 2021.

Menurut Joe Bunting, penulis yang baik mengetahui semua aturan dan mengikutinya. Namun penulis hebat tahu semua aturan dan melanggarnya.

Ketika membuat kerangka tulisan atau plot cerita, penulis yang baik akan setia serta konsisten dengan kerangka dan plot yang telah dibuat tersebut. Sedangkan penulis hebat, cenderung melakukan improvisasi sesuai dengan naluri kreatif yang muncul saat proses menulis.

Menurut Bunting, penulis hebat tidak melanggar aturan secara sembarangan. Mereka melanggarnya karena cerita mereka membutuhkan seperangkat alur baru. Jika tetap berpatokan dan secara kaku haru mengikuti plot dan alur cerita yang telah dibuat di awal, akan mematikan kreativitas.

Bunting menyarakan, hormati aturan, tetapi ingat bahwa dalam menulis kreatif Anda tidak dituntut mematuhi aturan. Anda dituntut untuk menyajikan cerita yang baik dan menarik.

“However, the best writers don’t break the rules arbitrarily. They break them because their stories require a whole new set of rules. Respect the rules, but remember that you don’t serve the rules. You serve your stories” – Joe Bunting, 2021.

Selamat menulis cerita, selamat mengubah dunia. Terus berkarya, hingga akhir usia.

Bahan Bacaan

Joe Bunting, Ten Secrets To Write Better Stories, https://thewritepractice.com, diakses 24 Agustus 2021

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.