Bahagia di Ujung Badai

Bahagia di Ujung Badai

Bahagia di Ujung Badai

By Ummu Rochimah

Perjalanan kehidupan rumah tangga tak luput dari adanya perbedaan pendapat. Dua orang yang bersatu dalam ikatan pernikahan dengan latar belakang yang berbeda, baik status sosial, pendidikan, budaya, pengasuhan dan lain-lain mengakibatkan munculnya potensi perbedaan pendapat yang bisa berakhir dalam suatu pertengkaran.

Pertengkaran dalam rumah tangga adalah sesuatu yang lumrah terjadi, hal ini menunjukkan adanya proses saling mengisi dan memahami satu sama lain. Tentu pertengkaran yang dimaksud adalah pertengkaran yang sehat yaitu tidak saling menyakiti, baik fisik maupun psikis. Beradu mulut, saling berargumen, mengekspresikan pendapat dan perasaan, semua itu sah-sah saja dalam rumah tangga.

Namun, tidak sedikit pertengkaran dalam rumah yang berakhir dengan sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuat perasaan tidak nyaman satu sama lain. Tentu hal ini membuat situasi menjadi serba salah, interaksi menjadi kikuk, tidak tahu harus bagaimana untuk mengakhiriya.

Setelah melalui pertengkaran yang dahsyat dan mengambil waktu jeda untuk merenung dan mengatasi perasaan sendiri. Maka harus mulai berpikir bagaimana untuk berbaikan.

Menginginkan dapat kembali berbaikan dengan mengharapkan pasangan terlebih dahulu meminta maaf adalah sesuatu yang tidak akan memberikan hasil yang baik. Ketika terjadi ganjalan dalam hubungan suami istri, hanya perlu salah satunya untuk memulai meminta maaf, tak perlu merasa terhina ketika harus memulai untuk meminta maaf. Dan jangan merasa menjadi orang yang lebih baik ketika memberikan maaf pada pasangan. Lebih baik masing-masing berinisiatif untuk memulai permintaan maaf.

Manusia adalah makhluk tempatnya salah, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang bisa lepas dari kesalahan, kecuali Nabi Muhammad s.a.w. Kesalahan yang kita perbuat sejatinya berdampak pada dua hal yaitu kesalahan pada diri kita sendiri dan kesalahan kepada orang lain. Semua mempunyai dampak yang sama besarnya. Akan tetapi dampak yang lebih terasa apabila kita berbuat kesalahan kepada orang lain.
Apabila kita berbuat kesalahan kepada diri kita sendiri, ditinjau dari sisi yang sangat sederhana hal ini adalah urusan kita dengan Allah. Sementara kesalahan kita kepada orang lain akan menambah pihak ketiga. Dan punya kecenderungan berdampak kepada diri kita secara psikologis. Apalagi bila kita masih sering bertemu dengan orang yang kita berlaku salah kepadanya.

Al Qur’an dan Sunnah mengajarkan bagaimana seorang muslim harus bersikap apabila melakukan kesalahan, baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Dan mengajarkan bagaimana kita bersikap apabila ada orang lain yang berbuat kesalahan kepada diri kita. Dalam Al Qur’an surah Ali Imran : 133, Allah berfirman : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk cepat menyadari kesalahan lalu memohon ampunan kepada Allah.

Meminta maaf adalah suatu perilaku menyadari kesalahan, dan meminta maaf adalah termasuk dalam salah satu dari tiga kata ajaib selain “tolong” dan “terima kasih”. Terlebih lagi kepada pasangan hidup, suami atau istri harus lebih sering meminta maaf dan memaafkan kesalahan-kesalahan pasangan baik diminta atau tanpa diminta.

Ucapkan Kata Maaf 

Perkara memaafkan adalah urusan hati, boleh jadi orang yang tersakiti sudah memaafkan kesalahan, tetapi akan menjadi lebih baik ketika kata maaf itu diucapkan, bukan hanya sebuah rasa penyesalan karena telah membuat sakit hati pasangan.

Mulailah dengan kata sederhana, “Maafin mama/papa ya..” atau “Maafin aku ya sayang..”
Ucapan sederhana berupa permintaan maaf dari pasangan, merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh terhadap hubungan suami istri. Ucapan ini dapat meruntuhkan egoisme yang mungkin masih senang bertengger di dalam hati seseorang. Semakin sering kata maaf diucapkan kepada pasangan, akan membuat seseorang merasa lebih nyaman bersamanya. Memulai untuk meminta maaf kepada pasangan jangan disertai dengan pikiran “Apa salahku sehingga harus meminta maaf?” Bila lintasan pikiran ini menguasai diri kita, maka tak akan pernah ada permulaan, hingga situasi pertengkaran akan terus mengambang tanpa pernah terselesaikan.

Belajar mengungkapkan perasaan secara verbal harus terus menerus dilatih dalam suatu hubungan suami istri, karena ini merupakan ketrampilan yang cukup penting dalam interaksi suami istri.

Menulis Ucapan Maaf

Namun dalam beberapa kasus, ada pasangan yang tidak terbiasa untuk mengungkapkan secara verbal apa yang ia rasakan terhadap pasangan. Maka coba buatlah tulisan yang berisi ungkapan perasaan. Tuliskan apa yang ingin diutarakan kepada pasangan. Dengan menuliskannya akan sedikit membantu melepaskan perasaan yang terluka. Tulisan ini bisa diberikan kepada pasangan untuk ia baca, bisa melalui selembar kertas, sms, WA, atau media lainnya. Berikan kesempatan kepada pasangan untuk merenungi apa yang tertulis di sana.
Ketika seorang suami atau istri menerima surat, atau sms atau WA dari pasangan yang berisi curahan hati, cobalah untuk berempati dengan menyediakan waktu membacanya dengan tenang. Resapi perasaan penulisnya. Dan biarkan hati yang menuntun langkah perbaikannya.

Tetapi ketika kedua pasangan tidak dapat menyepakati apa kesalahan yang terjadi, atau masih saling mencari siapa yang bersalah, maka akan lebih baik dengan menyepakati saja bahwa apa yang sudah terjadi bukanlah hal yang mereka inginkan.Dan keduanya ingin berbaikan dan menjadi dekat kembali dan melupakan pertengkaran yang pernah terjadi.

Luka emosi itu seperti luka fisik, seseorang yang tergores luka dapat sembuh seiring perjalanan waktu engan sendirinya walau terkadang masih meninggalkan parut bekas luka. Namun, jika suami atau istri menunggu pasangan untuk meminta maaf dengan harapan dapat membantu menyembuhkan luka kita, itu sama saja dengan menunda kesembuhan. Akan lebih cepat sembuh jika masing-masing berinisiatif untuk saling menyembuhkan luka yang sudah tertoreh.

Perempuan atau istri itu lebih lembut hati dan perasaannya, sedikit saja tergores hatinya bisa meninggalkan jejak luka yang cukup dalam dan butuh waktu lama untuk menyembuhkan. Maka, untuk para suami di seluruh jagat raya perhatikanlah pesan nabi di bawah ini.

Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Engkau tidak akan bisa meluruskannya dengan satu cara. Jika engkau bersenang-senang dengannya, maka engkau melakukannya dalam keadaan ia tetap bengkok.” (Hadits riwayat Muslim)

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan