.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Suatu ketika anak saya yang –waktu itu—masih kelas empat SD, menyampaikan informasi bahwa di kelasnya ada program “orangtua mengajar”. Setiap orangtua siswa boleh tampil mengajar satu sesi di kelas, untuk menjelaskan profesi yang dijalani masing-masing. Caranya, siswa harus mendaftarkan ayah atau ibunya melalui guru kelas.
Saat orangtua mengajar di kelas, mereka harus mengenakan ‘seragam’ dinas sesuai profesinya. Misalnya, jika orangtuanya sebagai tentara atau polisi, saat mengajar mengenakan pakaian dinas TNI / Polri. Jika orangtuanya dokter, saat mengajar mengenakan pakaian dinas dokter praktek, dan seterusnya.
Sampai menjelang akhir semester, anak saya tidak juga mendaftarkan saya untuk ikut mengajar di kelasnya. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tidak mendaftarkan ayah untuk mengajar di kelasmu?”
“Emang, ayah kerjanya apa?” jawabnya.
Waduh ! Anak saya tidak tahu apa pekerjaan ayahnya. Itu sebabnya ia tidak mendaftarkan saya untuk mengajar di kelas, karena tidak tahu profesi ayahnya.
“Nak, kamu tahu apa yang ayah lakukan di rumah?” tanya saya.
“Ayah kan cuma mengetik terus kalau di rumah”, jawabnya.
“Nah, itu namanya penulis”, jawab saya.
“Lalu, ngapain kerja penulis itu?” tanya anak saya.
Untuk menjawab pertanyaan ini, suatu hari saya mengajaknya ke kantor penerbit Era Intermedia di Solo, tempat buku-buku saya diterbitkan. Kami tinggal di Yogyakarta, sehingga memerlukan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai di kantor Era Intermedia. Saya ajak juga anak-anak yang lain.
Sesampai di kantor Era Intermedia, saya bawa mereka berkeliling. Saya tunjukkan ruang-ruang kerja yang ada. Sejak dari ruang direktur tempat kami diterima, kemudian saya bawa ke ruang produksi. Saya kenalkan anak-anak saya dengan tim di ruang produksi.
Beberapa staf tampak sedang mengedit naskah, sebagian sedang melayout, sebagian yang lain sedang membuat desain cover. Kemudian saya ajak ke ruang administrasi, tempat ‘perhitungan’ royalti dan pembayaran. Terakhir saya ajak melihat mesin-mesin cetak yang sedang bekerja.
“Setelah ayah menulis di rumah, naskah ayah kirim ke kantor ini. Naskah ayah diedit, sampai diterbitkan menjadi buku”, ungkap saya menjelaskan prosesnya.
Sepulang dari kantor penerbit, saya bawa anak-anak ke toko buku Gramedia di Yogyakarta. Sesampai di Gramedia, saya tunjukkan beberapa buku saya yang dipajang. “Setelah buku terbit, lalu dijual ke berbagai tempat. Salah satunya ke toko buku ini”, jelas saya.
“Nah setelah buku terjual, ayah akan mendapatkan royalti dari penerbit. Ruang administrasi yang tadi ayah tunjukkan, itu yang menghitung bagian royalti ayah”. Anak saya tambah mengerti.
“Ketika buku ayah sudah beredar luas, banyak orang mengundang ayah untuk membedah isinya. Dibuatlah seminar, pelatihan, diskusi, bedah buku, ceramah umum, dan lain sebagainya. Dari situ ayah mendapatkan fee profesional sebagai pembicara”, tambah saya.
“Kalian ingat ketika ayah sering pergi. Bukan hanya di dalam negeri, tapi ayah sering keluar negeri kan? Itu semua, karena ayah menjadi penulis buku. Jika ayah tidak menulis buku, bagaimana mungkin mereka mengenal ayah?”
Bahkan ketika saya mendapat undangan seminar di kota Makassar, saya ajak serta anak tersebut. Agar ia mengerti aktivitas ayahnya. Mendarat di bandara Makassar, kami dijemput panitia untuk menuju tempat menginap.
Di beberapa ruas jalan, dipasang spanduk publikasi seminar tersebut, disertai foto diri saya. Anak saya justru melihatnya lebih dahulu. Dengan girang ia menunjuk spanduk tersebut.
“Itu ada foto ayah!” teriaknya kegirangan. Saya senyum-senyum saja.
“Itu ada lagi foto ayah!” teriaknya di tempat yang lain.
Anak saya bertambah paham. Ia menjadi mengerti, apa yang disebut sebagai penulis. Namun sampai akhir semester, ia tidak juga mendaftarkan saya untuk mengajar di kelas.
“Mengapa kamu tidak jadi mendaftarkan ayah untuk mengajar di kelasmu?”
“Semua orangtua yang mengajar di kelasku, memakai seragam dinas masing-masing. Memang ayah seragamnya apa?” tanya anak saya.
Waduh ! Kena lagi nih….
“Menjadi penulis itu asyik, Nak. Salah satu yang membuat ayah senang menjadi penulis, karena penulis itu seragamnya bebas. Kamu juga senang kan, kalau pas ke sekolah dengan seragam bebas?” jawab saya.
Ia manggut-manggut.
*******
Waktu berlalu. Anak saya telah kelas enam Sekolah Dasar. Hingga akhirnya iapun lulus dari SD.
Hari itu, saya dan istri menghadiri wisuda anak di aula sekolahnya. Satu per satu siswa kelas enam yang diwisuda tampil di panggung, disertai bacaan bionarasi setiap siswa.
Selain nama siswa, nama orangtua, alamat, hobi dan lain-lain, dibacakan juga cita-cita setiap anak. Masing-masing anak menuliskan tiga cita-cita, dan oleh petugas dibacakan saat sang anak tampil di panggung.
Tiba giliran anak saya. Saya pun berdiri untuk memotretnya. Ia naik ke panggung untuk menerima tanda kelulusan dari kepala sekolah.
Ketika bionarasi anak saya dibacakan, sampai poin cita-cita, saya terkejut. Ternyata cita-cita pertama anak saya adalah menjadi penulis! Saya tidak pernah tahu bagaimana ia akhirnya tertarik untuk menjadi penulis. Saya benar-benar surprise atas pilihan itu.
Ketika dalam perjalanan pulang, saya tanya benarkah ia bercita-cita menjadi penulis? Dengan mantap ia menjawab, “Iya, aku ingin jadi penulis, kayak ayah”, jawabnya. “Aku ingin menjadi penerus ayah”, jawabnya.
“Mengapa kamu ingin menjadi penulis?” tanya saya.
“Menjadi penulis itu asyik,” jawabnya santai. “Seragamnya bebas”, lanjutnya.
Saya tertawa mendengar jawaban itu. Paling tidak, ia bisa merasa bangga ayahnya menjadi penulis. Tidak malu dengan teman-temannya, yang ayah mereka tentara, polisi, dokter atau profesi lainnya.
Saya bangga menjadi penulis. Maka anak sayapun bangga menjadi anak penulis.
Selamat menulis.
Bersambung.