Beda Persepsi

Beda Persepsi

By. Ida Kusdiati

Malam hari adalah salah satu waktu terbaik bagiku berdiskusi dengan si kecil, khususnya menjelang tidur. Sebelum menutup dengan do’a, Azka akan banyak bercerita tentang kegiatannya hari itu. Kali ini aku yang membuka percakapan kami dengan pertanyaan, “Azka ada salah ya sama ayah, kok mama lihat Azka ndak ngomong sama ayah tadi,” tanyaku padanya karena tidak seperti biasa, Azka tak berani menyapa ayah sebelum ke masjid.

“Ya, Ma. Azka ada salah nggak dengerin omongan ayah,” jawabnya lirih.
“Sudah minta maaf belum?” tanyaku lagi penasaran.
“Sudah. Tapi ayah ndak mau ngomong sama Azka tadi,” jawabnya dengan nada sedih.
“Ya sudah… ayah masih kesal aja, nanti kalau ayah pulang dari masjid, Azka minta maaf lagi ya,” ujarku menghiburnya.
“Ya, Ma,” jawabnya.

Anak-anak sangat dekat dengan ayah, saking dekatnya tak pernah ada batasan dengan ayah. Mereka cenderung bisa lebih bebas nengutarakan maksud dan keinginan pada ayah karena pengertiannya. Namun, jika ada hal yang sudah dikomitmenkan dengan ayah namun tidak mereka tepati meski tanpa ucapan, diamnya ayah akan membuat mereka merasa tidak nyaman, termasuk Azka. Aku tersenyum melihat ketidaknyamanannya dan mencoba mengalihkan perhatian dengan tema lain.

“Tadi sore main apa saja dengan teman?” tanyaku pada Azka.
“Biasa, Ma.. main sepedaan dan tapok pipit. Terus Ma… tadi sore Iqis cerita kalau pacaran sama daun,” ujarnya dengan antusias.

Glegk…aku tercekat, pacaran? Kontan aku memandangnya dan langsung memotong pembicaraannya.

“Apa, Az pacaran?” Tanyaku memperjelas ucapannya.
“Ya, Ma… pacaran romantis…hehehehe,” jawabnya sambil terkekeh ringan.

Waduh dapat darimana nih ucapan, gawat ini.
“Az, nggak ada pacaran ya… yang boleh pacaran hanya Mama sama Ayah,” ujarku bermaksud meluruskan pemikirannya.

“Santai, Ma… jangan lebay. Iqis bilang pacaran sama daun kok,” ujarnya lagi masih terkekeh dengan lucunya. Aku bingung apanya yang lucu. Masih belum selesai dengan bingungku Azka bicara topik lain lagi.

“Ma, masak Ayra bilang azka masih kecil, kan Mama bilang Azka udah besar!” Ujar Azka bernada protes padaku perihal pernyataan sahabatnya. Kenyataannya Azka diantara teman sebaya di sekitar rumah secara umur memang paling kecil, meski dari ukuran tubuh nampak sepantaran.

Kalimatku yang menyatakannya sudah besar, untuk membangun rasa tanggungjawab dan melatih kemandiriannya terhadap beberapa hal. Sehingga Azka suka mengatakan “Azka bisa kok, kan sudah besar.” Manakala aku menawarkan bantuan padanya untuk menyelesaikan suatu masalah, dan kusambut dengan pujian untuk membangkitkan kepercayaan dirinya.

Nah kembali ke cerita sahabatnya, aku berusaha memberi pengertian pada Azka terkait tingkatan umur agar ada rasa menghargai sahabat dengan usia yang lebih tua terkait adab dalam pergaulan. Setelah puas dengan berbagai pertanyaan dan curhatnya malam itu, selesai dengan berdo’a Azka pun tertidur pulas.

***

Pagi ini, saat sarapan kami kembali ngobrol ringan. Aku, Azka dan Kak Tika di meja makan.
“Az, udah minta maaf sama ayah?” tanya Kak Tika.
“Sudah beres, tadi Ayah udah ngobrol sama Azka,” jawabnya dengan tersenyum manis.

“Az, Mama ngantor hari ini, jangan lupa ya janji Azka pada Mama tadi malam,” ujarku mengingatkannya beberapa hal yang sudah kami sepakati tadi malam.
“Ya, Ma,” jawabnya singkat.

Tiba-tiba aku teringat perihal pacaran tadi malam.
“Yang solehah ya, Nak. Kalau ada teman yang ngomong pacaran Azka harus bilang ndak boleh, yang boleh pacaran itu yang sudah menikah seperti Ayah dan Mama,” ucapku panjang kali lebar.

Azka memandangku seperti orang termenung.
“Az, dengar Mama nggak,” tanya Kak Tika pada Azka yang terlihat mematung.

“Jadi kepingin lihat Mama dan ayah menikah lagi,” jawabnya tak terduga.
“Hadeh, Az… Mama ngomongin apa yang diminta apaan…,” ujar Kakak dengan senyum dan geleng-geleng kepala.

“Azka dengar Mama lebay dan Kakak lebay…,” ujarnya dengan terkekeh kecil menunjukan baris gigi ompongnya.
“Jadi gini, Mama dan Kakak… Iqis kemarin sore tangannya tuh ada warna-warna, Azka tanya Iqis pakai apa? Kata Iqis ini warna pacar daun, gitu!”

“Astaghfirullah, jadi maksud Azka, iqis pakai pacar daun, gitu ya?” Tanyaku memperjelas.

“Iya Mama… bukan pacaran… hahahaha…” jawabnya santuy dengan wajah polos yang menggemaskan kami berdua.

“Ealah…, Azka…” ujar Kakak tak sanggup menahan tawa.

Wajar saja Azka bilang aku dan kakak lebay, karena bukan seperti pikiran kami tentang pacaran yang sudah kubahas panjang kali lebar, ternyata ini hanya hal sederhana tentang memakai pacar daun pada tangan sahabatnya.

Daun pacar sendiri juga dikenal dengan istilah daun inai. Daun ini memang sering digunakan sebagai perwarna kuku alami atau yang dikenal dengan istilah pacar. Tumbuhan ini memiliki nama ilmiah Lawsonia inermis yang merupakan jenis tanaman bunga yang banyak ditemukan di daerah tropis. Seperti di Indonesia, daun ini lebih dikenal sebagai pewarna kuku tapi ada juga di negara lain, daun ini digunakan sebagai pewarna alami untuk rambut, kulit maupun kain seperti kain wol, kain sutra sampai kulit. (trubus.id)

Inilah kebiasaan yang salah dari diriku selaku orang tua yang terlalu cepat menyimpulkan apa yang diomongkan oleh ananda. Bisa jadi yang dibicarakan mereka bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Hanya karena cara penyampaian ananda dan asumsi di kepalaku selaku orangtua yang suka khawatir berlebihan, membuat seakan ada masalah pada apa yang disampaikan ananda.

Segera aku meluruskan semuanya, meminta maaf pada Azka dan beristighfar dalam hati, “sungguh tak baik berprasangka buruk.” Beda persepsi bisa saja terjadi namun mengedepankan prasangka baik adalah lebih utama.

Sebagaimana Firman Allah SWT, “Wahai orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

Wallahu’alam

Pontianak, 16 November 2020

Ida Kusdiati

One thought on “Beda Persepsi

Tinggalkan Balasan