BELAJAR ADAB DARI KELUARGA NABI IBRAHIM

BELAJAR ADAB DARI KELUARGA NABI IBRAHIM

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Kisah Nabi Ibrahim As dengan putranya Ismail memberikan sangat banyak pelajaran. Di antara pelajaran sangat penting bagi kehidupan kita saat ini adalah tentang adab, sesuatu yang sudah mulai hilang dan banyak ditinggalkan orang. Di zaman sekarang orang bisa cepat dan banyak belajar melalui internet. Mereka memiliki sangat banyak ilmu pengetahuan, namun minus adab.

Mari kita simak penjelasan dalam Al Qur’an, tatkala Nabi Ibrahim mendapatkan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Isma’il. Perhatikan bagaimana Ibrahim as membahasakan “kalimat perintah dari Allah” dengan penuh adab.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102)

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Ash-Shaaffaat: 102)

Pertama, terkait cara memanggil dan cara menjawab. Nabi Ibrahim As memanggil anaknya dengan “Ya Bunayya”, sebuah panggilan yang sangat halus dan penuh kasih sayang. Beliau bisa saja memanggil anaknya dengan, “Wahai Ismail”, namun ternyata beliau menggunakan bentuk tasghir “ya Bunayya” yang sangat lembut dan halus.

Kita lihat Nabi Ismail menjawab panggilan ayahnya juga dengan cara yang sangat beradab, yakni “Ya Abati”. Panggilan Ya Abati, lebih halus dan penuh kasih sayang, dibandingkan dengan Ya Abi. Inilah contoh komunikasi orangtua dengan anak yang penuh adab. Orangtua mencontohkan cara memanggil yang lembut, dibalas anaknya dengan jawaban yang lembut pula.

Kedua, terkait cara membahasakan perintah Allah. Sebagai Nabi, mudah saja bagi Ibrahim as untuk mengatakan, “Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihmu, dan aku akan mentaati perintah Tuhanku”. Dengan bahasa perintah seperti itu, pasti Ismail akan taat dan patuh.

Namun, subhanallah, bukan itu bahasa yang beliau pilih. Ibrahim mengajarkan kepada kita pentingnya sikap qana’ah, sikap penerimaan yang tulus dalam melaksanakan perintah. Bukan sebuah keterpaksaan. Inilah salah satu adab tersebut.

Maka, lihatlah betapa indah bahasa yang dipilih Ibrahim as untuk disampaikan kepada ananda tercinta, Ismail, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu…” Beliau hanya menyebut perintah Allah sebagai mimpi. “Maka pikirkanlah apa pendapatmu…..”

Sungguh, beliau bisa saja mengatakan, “Engkau harus taat dan tidak boleh membantah. Ini perintah Allah !”  Beliau membahasakan perintah Allah dengan bahasa istisyarah (meminta pendapat), agar penerimaan Isma’il bisa lebih sempurna, bukan semata-mata karena melaksanakan kewajiban.

Kita juga menyaksikan kualitas kepribadian Ismail yang luar biasa. Ia sangat yakin, bahwa bapaknya adalah Nabi yang selalu berada dalam bimbingan Allah. Ismail tidak menyangsikan perkataan dan perbuatan bapaknya, karena selama ini ia mengetahui bahwa bapaknya sangat mentaati Allah. Dengan mudah Ismail memahami bahwa apa yang disebut sebagai mimpi oleh Ibrahim as, sesungguhnya adalah sebuah perintah dari Allah.

Ibrahim juga mengajarkan kepada kita pemilihan bahasa dan kehalusan perasaan. Ibrahim berbicara dengan bahasa hati yang tulus, maka langsung menyambung pula dengan hati Ismail yang halus. Mereka tidak perlu berdebat dan adu argumen. Mereka berbicara dengan kehalusan budi.

Lihatlah, betapa luar biasa jawaban Ismail :

“Hai  Ayahanda,  kerjakanlah  apa   yang   diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk  orang-orang yang shabar” (Ash Shaaffaat: 102).

Inilah  perbincangan antara dua orang yang saling  mengasihi dalam mencintai Allah melebihi segala-galanya. Ungkapan mimpi yang disebutkan Ibrahim, dijawab Ismail dengan, “Hai  Ayahanda,  kerjakanlah  apa   yang   diperintahkan kepadamu…” Sangat peka hati Ismail, bahwa mimpi bapaknya bukanlah takhayul, namun sebuah perintah Allah.

Keduanya mampu menggunakan bahasa yang santun, bahasa yang halus dan lembut. Itu semua muncul karena kehalusan perasaan Ibrahim dan Ismail, yang telah ditempa dalam keimanan kepada Allah. Itulah adab yang luar biasa.

Adab adalah hal yang sangat penting dalam berislam. Sejak zaman dulu, para ulama salaf sangat perhatian terhadap adab. Mereka mengarahkan murid-muridnya untuk mempelajari adab sebelum mempelajari berbagai cabang ilmu. Suatu ketika, Imam Malik rahimahullah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Ungkapan Imam Malik tersebut menggambarkan dengan jelas urgensi adab sebelum ilmu. Ketika adab sudah dikuasai, akan menjadi mudah untuk memahami ilmu. Hal ini dijelaskan oleh Yusuf bin Al Husain :

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau mudah memahami ilmu.”

Tidak mengherankan, para ulama terdahulu lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendalami adab, dibandingkan dengan mendalami cabang ilmu. Ini yang menyebabkan ilmu mereka benar-benar memberikan petunjuk dan kekuatan. Ibnul Mubarak berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,

ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.”

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Rabi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya. Ibuku berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Demikianlah orang-orang salih terdahulu sangat perhatian dalam mempelajari adab. Mereka tidak hanya berilmu, namun beradab. Sebagaimana dicontohklan oleh keluarga Nabi Ibrahim As yang sangat kuat dalam menerapkan adab. Hendaknya kita semua mengambil pelajaran penting dari setiap kali memasuki Hari Raya Idul Adha.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita suatu doa, agar dianugerahi akhlak yang mulia. Beliau Saw berdoa:

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Allahummahdini li ahsanil akhlaqi laa yahdi li-ahsaniha illa anta, washrif ‘anni sayyi-aha, laa yashrif ‘anni sayyi-aha illa anta. Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau].” (HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Thalib)

 

Bahan Bacaan

Istifadah ilmu dari fadhilatul ustadz Muhammad Abduh Tuasikal melalui web beliau www.rumaysho.com

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan