.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“There’s no rule that says you have to write your piece in order of first to final paragraph. Write in the order that makes it easiest for you to start writing and maintain momentum, which often means jumping right to the parts that you’ve already worked out in your head” –Lindsay Kramer, 2021.
.
Dunia kita di zaman cyber ini penuh dengan kesibukan. Semua manusia memiliki semakin banyak keinginan dan harapan dalam kehidupan. Sangat banyak hal ingin dilakukan dan dimiliki, namun waktu sangat terbatas –termasuk ingin menulis dan memiliki karya tulis. Inilah yang terjadi pada Chris Fox, ingin menulis banyak novel dalam waktu yang sangat sempit.
Ia memiliki waktu luang hanya satu jam setiap hari. Itupun saat mengendarai kendaraan umum dari rumahnya menuju kantor tempat bekerja. Muncullah metode writing sprint yang cocok untuk dirinya. Dengan cara ini, ia mampu menulis hingga 5.000 kata setiap jam. Fox berkonsentrasi pada satuan waktu yang terbatas, untuk menciptakan banyak produktivitas.
Menulis Dari Bagian yang Paling Mudah
“For you, seeing text on the page can be hugely motivating. It’s a lot easier to keep writing when you already have a foundation to build on, rather than starting with a blank screen” –Lindsay Kramer, 2021.
Kadang-kadang, Anda berhenti menulis karena menemukan bagian yang sulit untuk dituliskan. Dampaknya, waktu Anda hilang beberapa menit untuk menunggu hadirnya ide atau inpirasi. Ini sudah mengurangi produktivitas.
Berhenti karena menemukan bagian sulit, karena banyak dari Anda yang mewajibkan diri untuk menulis secara urut. Bahwa proses menulis harus dilakukan dengan berurutan,sejak membuat judul, membuat paragraf pembuka, menulis bagian pembahasan paragraf demi paragraf, hingga sampai bagian penutup. Dampaknya, Anda tidak bergerak melompak ke bagian lain yang sesungguhnya lebih mudah dan sudah Anda miliki bahannya.
Lindsay Kramer (2021) memberikan saran yang menarik untuk mengatasi hambatan ini. Menurut Kramer, sebaiknya Anda menulis hal-hal yang sudah ada dalam pikiran. Anda tidak perlu berhenti untuk menemukan atau mencari hal-hal yang belum terlintas dalam pikiran.
“Write what you already have in mind”, ungkap Kramer. Tulis saja apa yang sudah Anda pikirkan, yang sudah ada dalam benak Anda. Jika Anda menulis sebuah artikel dengan tema tertentu, pada dasarnya Anda sudah mengetahui arah dari pembahasan yang hendak Anda tulis. Maka sebenarnya Anda bisa memulai dari bagian manapun yang sudah Anda miliki bahannya.
Jika Anda tidak tahu bagaimana mengawali artikel, lewati saja bagian awal itu. Masuk dan tulislah langsung ke paragraf lain yang sudah siap Anda tuliskan. Bahkan ketika Anda sudah mengetahui kesimpulan dari pembahasan yang hendak Anda uraikan, maka boleh saja Anda langsung menulis bagian terakhir, yaitu kesimpulan dan saran.
“If you’re struggling with an intro paragraph, writing your supporting paragraphs can give you the phrasing and organization you need to introduce them in your opening section” –Lindsay Kramer, 2021.
“Tidak ada aturan yang menyatakan bahwa Anda harus menulis karya dalam urutan paragraf pertama hingga terakhir. Mulailah menulis dengan urutan yang mudah bagi Anda, yang sering kali berarti melompat langsung ke bagian yang sudah Anda siapkan di kepala”, ungkap Kramer.
Menurut Kramer, keuntungan memulai menulis dari bagian-bagian yang sudah Anda pikirkan adalah, pertama, Anda memiliki “modal awal” di layar monitor. Melihat teks di layar monitor bisa sangat memotivasi untuk terus menulis. “Jauh lebih mudah untuk terus menulis ketika Anda sudah memiliki fondasi untuk dibangun, daripada memulai dengan layar kosong”, ungkap Kramer.
Saat Anda menatap layar kosong, apalagi ketika berlama-lama, membuat Anda merasa berat untukmemulai menulis. Masih berpikir mencari paragraf pembuka yang ‘nendang’, mencari intro yang menarik, mencari pendahuluan yang ‘greget’, dan lain sebagainya. Akhirnya layar terus menerus kosong, belum ada tulisan apapun. Secara psikologis, membuat Anda merasa cemas dan pesimis.
Keuntungan kedua, cara ini dapat membantu Anda menentukan apa yang harus Anda tulis di bagian yang belum Anda mulai. Misalnya, jika kesulitan membuat paragraf pembuka, saat Anda mulai menulis paragraf lain di bagian isi atau pembahasan, akan memudahkan untuk menemukan frasa dan topik menarik yang Anda perlukan untuk menulis bagian pembuka.
Demikian pula, jika Anda mengalami kesulitan menulis di paragraf tertentu, tetapi Anda telah menulis setidaknya satu paragraf sebelumnya, akan memberikan inspirasi yang memudahkan Anda untuk mengembangkannya menjadi pembahasan yang lebih luas. Ini akan menjadi pengalaman yang memudahkan Anda memecahkan “teka-teki” dari bagian artikel yang belum Anda tuliskan.
“Think of the piece you’re writing as a jigsaw puzzle and the sections you’ve written as puzzle corners you’ve completed. Which shapes fit into that partially completed puzzle?” –Lindsay Kramer, 2021.
“Bayangkan artikel yang hendak Anda tulis itu sebagai teka-teki bergambar, dimana bagian yang sudah Anda tulis menjadi satu sudut dari teka-teki yang telah Anda selesaikan. Tentukan bentuk mana yang cocok dengan teka-teki yang telah selesai sebagian itu,” ujar Kramer.
Dengan cara memulai menulis dari bagian yang paling mudah, membuat Anda efektif dan efisien dalam menggunakan waktu. Dengan teknik writing sprint yang dikemukakan Chris Fox, Anda akan mampu melakukan sprint di sepanjang waktu yang sudah Anda tentukan sendiri. Anda tidak akan berhenti menulis, karena Anda selalu menulis dari bagian yang bahannya sudah ada dalam pikiran Anda.
Bahan Bacaan
Chris Fox, 5,000 Words Per Hour: Write Faster, Write Smarter, https://chris-fox-writes.ck.page
Lindsay Kramer, How to Write Faster: 8 Tips to Improve Your Writing Speed, https://www.grammarly.com, 4 Oktober 2021
Thomas Umstattd Jr, How to Write 5000 Words an Hour with Chris Fox, https://www.authormedia.com, 28 Agustus 2018