
@ummu-rochimah
Dalam sebuah hadits dikisahkan, Rasulullah pernah bercerita, “Ada seorang laki-laki sedang berjalan di padang gurun. Tiba-tiba ia mendengar suara dari atas awan, “Turunkanlah hujan di kebun milik si Fulan!” Kemudian awan itu bergerak dan mencurahkan air di atas tanah yang berbatu hitam. Seketika salah satu parit tanah itu dipenuhi air. Lalu mengalirlah air dari sana, lalu laki-laki itu mengikuti arah aliran air tersebut, hingga di suatu daerah ia menjumpai seseorang sedang mengatur aliran air dengan cangkulnya. Laki-laki itu bertanya kepadanya, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?” Si pemilik kebun menjawab,”Nama saya Fulan.” persis sama seperti yang ia dengar dari atas awan tadi.
Kemudian si pemilik kebun balik bertanya, mengapa ia menanyakan namanya. Laki-laki itu kemudian menceritakan apa yang baru saja ia dengar. Lalu ia kembali bertanya, “Apa yang telah engkau perbuat dengan kebunmu ini?”
Si pemilik kebun menjawab,
”Aku selalu menunggu hasil dari kebunku ini. Lalu dari hasilnya aku sedekahkan sepertiganya, aku dan keluargaku memakan sepertiganya dan kebun ini sepertiganya.”
(HR. Muslim dan Ahmad)
Dari kisah ini ada beberapa pelajaran (ibrah) yang bisa kita ambil, salah satunya terkait dengan keutamaan berbagi, yaitu :
Berbagi bisa mengobati hati dari cinta dunia. Jika seseorang terlalu dalam mencintai dunia maka jiwanya dapat terpalingkan dari mencintai Allah dan Rasul-Nya. Menghilangkan rasa takut akan azab akhirat.
Berbagi bisa memperluas kekayaan batin.
Seseorang yang senang berbagi akan tumbuh dalam jiwanya semangat optimis dan terbangun sikap dan mental kaya.
Memiliki cara pandang, ‘Saya BISA MEMBERI APA’, bukan ‘Saya mendapat apa’
Berbagi juga mampu membuat seseorang menekan sikap egoismenya, tidak selalu mementingkan diri sendiri atau melihat hanya ke dalam dirinya sendiri. Mampu melihat dan berbuat demi kepentingan orang banyak.
Berbagi dapat menjadi jembatan antara si kaya dan si miskin. Membangun ikatan yang kuat dengan penuh rasa cinta, persaudaraan dan sikap tolong menolong. Si kaya memiliki sikap rendah hati dan tidak sombong. Si miskin bersikap iffah dan tidak rakus.
‘Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”’ (QS. Saba [34] : 39)
Yang harus kita sama-sama ketahui, ‘Bahwa berbagi(sedekah) tidak akan membuat seseorang rugi, tidak akan mengurangi hartanya sedikit pun, justru dengan berbagi akan semakin bertambah.’
Bila melihat dari sisi nominal, mungkin saja berkurang. Tapi secara hakikat dan keberkahan justru akan bertambah, setiap seribu rupiah yang kita keluarkan untuk sedekah bisa jadi akan Allah balas atau diberi ganti 70.000 – 7.000.000 rupiah, sebagaimana Allah katakan dalam Al Quran : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2] : 261
Wallahu a’lam
Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi manusia yang Allah inginkan, dan memberi kekuatan untuk menjadi insan yang senang berbagi.
Setiabudi, 14 Ramadan 1444 H
