Bergembiralah, Musibah Adalah Nikmat Allah

Bergembiralah, Musibah Adalah Nikmat Allah

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Kata “mushibah” (dalam bahasa Arab) jika digunakan untuk sesuatu kebaikan, berasal dari kata “ash-shaubu” (الصَّوْبُ) yang bermakna hujan. Yaitu hujan yang turun sebatas keperluan, tidak membahayakan dan tidak merugikan. Jika digunakan untuk sesuatu keburukan, ia berasal dari kata “ishabatus sahm” (إِصَابَةُ السَّهْمِ) yang bermakna bidikan atau sasaran anak panah.

Secara khusus, kata musibah dikatakan: مَصُوبَةٌ – مُصَابَةٌ – مُصِيبَةٌ yang hakikatnya adalah perkara yang tidak disukai yang menimpa manusia. Al-Kirmani berkata, “Kata musibah jika ditinjau dari segi bahasa, bermakna apa saja yang menimpa manusia secara umum. Jika ditinjau dari segi istilah, bermakna peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak disukai yang terjadi”.

Sedangkan Imam Al-Qurthubi menerangkan, ”Musibah adalah segala sesuatu yang menyakitkan, merugikan, menyusahkan orang mukmin, dan menimpa dirinya.” Karena itu, jika seseorang terkena musibah, itu artinya adalah suatu hal yang menyebabkan orang tersebut kehilangan nikmat-nikmat Allah yang telah Allah anugerahkan kepadanya, seperti jabatan, fasilitas, harta benda, anak, orang tua, saudara, dan sebagainya. Sakit, luka, cidera yang menimpa manusia atau hal yang serupa dengan itu disebut juga dengan musibah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa musibah ialah kejadian atau peristiwa menyedihkan yang menimpa manusia. Inilah pengertian yang paling lazim dan paling sering digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam pengertian ini pula kita mencoba menemukan dan memberikan makna.

Memberikan Makna

Berlakunya musibah pada diri manusia, atau suatu komunitas kecil, atau bahkan dalam skala besar seperti wabah corona yang menimpa masyarakat dunia akhir-akhir ini, adalah jenis kejadian yang bisa saja sama, dan berlaku pada semua jenis manusia, apakah ia beriman ataupun tidak beriman, apakah ia salih ataupun tidak salih.

Yang membedakan adalah bagaimana manusia mendapatkan makna dari musibah yang menimpa dirinya. Bagaimana musibah memberikan kebaikan dalam kehidupan manusia, dunia maupun akhirat. Bagi sebagian manusia, musibah adalah peristiwa yang benar-benar menyengsarakan dirinya, benar-benar menghancurkan kepribadiannya. Namun bagi sebagian manusia lainnya, musibah justru memberikan penguatan, kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupannya. Ini terkait dengan bagaimana manusia bersikap dan memberikan makna atas musibah yang tengah menimpa.

Bagaimana semestinya manusia beriman memberikan makna atas musibah yang menimpa dirinya? Mari kita coba selalu memberikan makna positif, agar musibah memberikan kebaikan, kekuatan dan keberkahan dalam kehidupan kita.

  1. Musibah adalah Tanda Cinta dari Allah kepada Hamba-Nya

Bagaimana manusia beriman bersedih dan menyesal atas musibah yang menimpa dirinya, jika ia mengetahui bahwa musibah adalah tanda cinta dari Allah Ta’ala untuk dirinya? Bergembiralah, musibah adalah tanda cinta Allah kepada hamba, sebagaimana sabda Nabi saw,

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).

Salah satu bentuk ujian dari Allah adalah memberikan musibah dalam berbagai bentuk. Maka terimalah tanda cinta Allah berupa musibah, dengan hati gembira.

  1. Musibah adalah Tanda Allah Menghendaki Kebaikan atas Hamba

Salah satu tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan kepada hamba adalah dengan memberikan musibah di dunia, agar kelak tidak lagi mendapat hukuman di akhirat. Maka bergembiralah, karena musibah adalah tanda Allah menghendaki kebaikan kepada hamba, sebagaiman sabda Nabi saw,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, Al-Hakim dalam Al Mustadrak (1/349, 4/376 dan 377). Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah nomor 1220).

Betapa sedih manusia, jika Allah menghendaki keburukan kepada mereka, sehingga di dunia selalu berfoya-foya, namun kelak di akhirat menderita.

  1. Musibah Mendatangkan Ridha Allah

Apabila hamba ditimpa musibah dan bisa bersikap ridha atas musibah yang menimpa dirinya, maka Allah pun ridha kepada dirinya. Maka bergembiralah, karena musibah akan mendatangkan ridha Allah, sebagaimana sabda Nabi saw,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridha, maka ia yang akan meraih ridha Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).

Makin besar musibah yang ditimpakan kepada manusia, makin besar pahalanya, dan makin memberikan kesempatan kepada manusia untuk mendapatkan ridha-Nya.

  1. Musibah sebagai Ujian dan Cobaan

Salah satu makna musibah adalah sebagai ujian dan cobaan bagi orang beriman dalam kehidupannya. Manusia beriman pasti mendapatkan ujian (ibtila’) dan cobaan (fitnah), untuk menguji kualitas keimanan mereka. Allah Ta’ala berfirman:

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’ :35)

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan, “Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 155).

Imam Ath-Thabari menjelaskan, “Ini adalah pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para pengikut Rasul-Nya, bahwa Ia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat, supaya nyata diketahui orang yang mengikuti Rasul dan orang yang berpaling.”

Maka bergembiralah, karena musibah menandakan kita sedang mendapatkan ujian dari Allah untuk meningkatkan kedekatan dengan-Nya.

  1. Musibah Sebagai Jalan Hidayah

Makna musibah adalah kesempatan untuk mendapatkan hidayah atau petunjuk dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. At-Taghabun :11)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan Allah akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”

Menjelaskan makna ayat di atas, Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz Al-Qar’awi mengatakan, “Barangsiapa yang tulus mengakui bahwa musibah ini terjadi dengan ketetapan dan takdir Allah, niscaya Allah akan memberikan taufik kepadanya sehingga mampu untuk merasa ridha dan bersikap tenang tatkala menghadapinya karena yakin terhadap kebijaksanaan Allah. Sebab Allah Maha Mengetahui segala hal yang dapat membuat hamba-hambaNya menjadi baik. Dia juga Mahalembut lagi Maha Penyayang terhadap mereka.”

Imam Alqamah mengatakan, “Ayat ini berbicara tentang seseorang yang tertimpa musibah dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan bersikap pasrah kepada-Nya.”

Maka bergembiralah, karena musibah adalah sebab Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya.

  1. Musibah Pembersih Kotoran dalam Jiwa Manusia

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ighatsatul Lahfan menyatakan bahwa Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Jika kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan, maka manusia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allah Ta’ala. Maka musibah membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala.

Maka bergembiralah, karena musibah adalah pembersih kotoran yang ada dalam jiwa manusia, agar bersih jiwanya.

  1. Musibah Sebagai Penyempurna Ketundukan Hamba

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ighatsatul Lahfan menyatakan bahwa Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah dalam semua keadaan, susah maupun senang.

Inilah makna sabda Rasulullah saw,

“Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” HR Muslim no 2999.

Maka bergembiralah, karena musibah adalah sarana penyempurna ketundukan hamba kepada Allah Ta’ala, agar makin sempurna ketundukan kita.

  1. Musibah Menyempurnakan Iman

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ighatsatul Lahfan menyatakan bahwa Allah menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba, terhadap kenikmatan sempurna yang Allah sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa kelak di surga.

Keistimewaan surga sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia. Allah Ta’ala menjadikan surga sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan selamanya. Jika sekiranya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti. Hal ini dinyatakan pula oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam.

Inilah makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah saw, ”Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Bukhari no. 6053).

Maka bergembiralah, karena musibah adalah sarana untuk menyempurnakan kualitas keimanan kita, agar semakin dekat kepada-Nya.

  1. Musibah Menghapus Dosa-dosa

Makna musibah yang sangat dahsyat bagi manusia beriman adalah sebagai penghapus dosa. Nabi saw bersabda,

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah sesuatu yang menimpa muslim, baik penyakit biasa maupun menahun, kegundahan dan kesedihan, sampaipun duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus kesalahannya dengan semua derita yang dialaminya.” (HR. Bukhari).

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan di dalam Syarah Riyadhush Shalihin, “Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantikan dengan yang lebih baik (yaitu pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah Swt. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan.”

Maka bergembiralah, karena musibah adalah sarana untuk menghapuskan dosa-dosa hamba, agar bersih saat menghadap Allah pada saatnya nanti.

  1. Musibah adalah Pengampunan Allah bagi Hamba

Ketika manusia bersabar atas musibah yang diberikan Allah kepada dirinya, akan menjadikan kesabaran itu sebagai pengampunan bagi dirinya. Nabi saw bersabda,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ اُصِيْبَ بِمُصِيْبَةٍ بِمَالِهِ اَوْ فِى نَفْسِهِ فَكَتَمَهَا وَ لَمْ يَشْكُهَا اِلَى النَّاسِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ اَنْ يَغْفِرَ لَهُ. الطبرانى

“Barangsiapa yang ditimpa musibah pada hartanya atau dirinya, lalu dia menyembunyikannya dengan tidak mengeluh kepada manusia, maka haq atas Allah untuk mengampuninya”. (HR. Ath-Thabrani).

Maka bergembiralah, karena musibah adalah sarana datangnya pengampunan dari Allah Ta;ala, agar ringan beban kita kelak di hadapan-Nya.

  1. Musibah adalah Berkah dan Rahmat dari Allah

Apabila manusia beriman mampu bersikap sabar saat menghadapi musibah, dan selalu mengembalikan segala sesuatu kepada Allah, maka Allah akan berikan keberkahan dan rahmat bagi dirinya. Allah Ta’ala telah berfirman,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ (Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Maka bergembiralah, karena musibah adalah berkah dan rahmat yang Allah kucurkan untuk hamba.

  1. Bahkan, Musibah adalah Nikmat Allah

Selain musibah harus dihadapi dengan sabar, ternyata musibah juga harus dihadapi dengan syukur, karena pada hakikatnya musibah adalah nikmat dari Allah kepada hamba-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Datangnya musibah-musibah itu adalah nikmat, karena ia menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa”. Karena musibah menjadi sebab dihapuskannya dosa, maka Syaikhul Islam menghadapi semua musibah dengan bahagia.

Syaikhus Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, “Musibah itu sendiri dijadikan oleh Allah sebagai sebab penghapus dosa dan kesalahan. Bahkan ini termasuk nikmat yang paling agung. Maka seluruh musibah pada hakikatnya merupakan rahmat dan nikmat bagi keseluruhan makhluk, kecuali apabila musibah itu menyebabkan orang yang tertimpa musibah menjadi terjerumus dalam kemaksiatan yang lebih besar daripada maksiat yang dilakukannya sebelum tertimpa”.

Beliau merasa tengah mendapat karunia besar dari Allah melalui musibah yang dialaminya. Sikap ini yang membuat beliau tegar, tidak bersedih, dan justru tampak berbahagia di tengah musibah yang mendera. Salah seorang murid beliau, Imam Ibnul Qayyim, memberikan kesaksian bagaimana sikap bahagia yang ditampakkan oleh Syaikhul Islam di tengah musibah yang mendera kehidupan beliau.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Al-Wabilush Shayyib berkata, “Allah yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi di sisi lain (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya”.

“Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid beliau), jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat). Dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”

Maka bergembiralah, karena musibah adalah nikmat yang Allah kirimkan dalam kehidupan hamba.

  1. Para Nabi Gembira dengan Ujian

Abu Said ra bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Rasulullah saw menjawab,

الْأَنْبِيَاءُ وَالصَّالِحُونَ، لَقَدْ كَانَ أَحَدُهُمْ يُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى مَا يَجِدُ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يَحْويهَا فَيَلْبَسَهَا، وَيُبْتَلَى بِالْقُمَّلِ حَتَّى يَقْتُلَهُ، وَلَأَحَدُهُمْ كَانَ أَشَدَّ فَرَحًا بِالْبَلَاءِ مِنْكُمْ بِالْعَطَاءِ

“Para nabi, kemudian orang shalih. Sungguh ada diantara mereka yang diuji dengan kemiskinan, sehingga harta yang dimiliki tinggal baju yang dia gunakan. Ada juga yang diuji dengan kutu badan dan rambutnya, sampai kutu itu membunuhnya. Sungguh para nabi dan orang shaleh itu, lebih gembira dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan kalian ketika mendapat rezeki.” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad no 1045, Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra (3/372), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no 119, dishahihkan Syaikh Al-Albani).

Maka bergembiralah, karena para Nabi pun bergembira saat menerima musibah dalam hidup mereka.

 

 

Bahan Bacaan

Ibnu Katsir, Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Imam Syafi’i, Bekasi

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Ighatsatul Lahfan, Menyelamatkan Hati Dari Tipu Daya Setan,  Al-Qowam, Jakarta

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Wabilush Shayyib Wa Rafi’ul Kalimith Thayyib, Meningkatkan Dzikir dan Amal Shalih, Griya Ilmu, Jakarta

Imam Al-Qurthubi, Kitab Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka Azzam, Jakarta

Istifadah ilmu dari Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, dalam web Rumaysho, www.rumaysho.com

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan