Berkah-berkah Ketaatan dalam Mencapai Kebahagiaan Rumah Tangga

Berkah-berkah Ketaatan dalam Mencapai Kebahagiaan Rumah Tangga

Berkah-berkah Ketaatan dalam Mencapai Kebahagiaan Rumah Tangga

 

 

Ummu Rochimah

 

Sebuah data yang dikutip dari laman Mahkamah Agung menyebutkan bahwa kasus perceraian di Indonesia selama tahun 2018 tercatat ada 418.268 kasus atau dengan kata lain ada 34.949 kasus per bulan atau 1.149 kasus per hari atau kurang lebih 48 kasus perceraian setiap jam. Satu jam ada 60 menit, berarti hampir setiap menit ada hakim yang mengetuk palu putusan perceraian di pengadilan . Betapa sibuknya hakim di negeri ini mengetuk palu sidang perceraian. Indonesia berada dalam keadaan darurat ketahanan keluarga.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia yang disebut dengan keluarga adalah  ayah, ibu dan anak-anaknya seisi rumah,  seisi rumah yang menjadi tanggungan, sanak saudara, kaum kerabat. Keluarga adalah satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat.

Abu Al Hamd Rabee’ menyebutkan bahwa keluarga adalah sebuah sistem Allah, petunjuk nabi serta akhlak dan perilaku manusia. Karena itu berkeluarga dalam Islam menjadi bernilai ibadah yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah.

Undang-undang No. 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyebutkan tentang keluarga berkualitas, yaitu adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, dengan ciri-ciri : sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Maka, keluarga menjadi satu-satunya sistem sosial yang bisa diterima semua masyarakat baik agamis maupun non agamis. Keluarga adalah sentral pendidikan nilai-nilai kebaikan dan memegang peran penting dalam sosial kehidupan bermasyarakat. Seseorang yang sudah berkeluarga akan lebih dianggap dan dipandang oleh masyarakat di sekelilingnya dibandingkan mereka yang masih jomblo atau belum berkeluarga.

Kebahagiaan atau keharmonisan hidup berumah tangga menjadi salah satu tujuan pernikahan. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah tentu ia berharap dapat berbahagia dan hidup harmonis dengan pasangannya. Hidup nyaman dan tenang menjalani aktifitas nya sehari hari.

Kunci kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga salah satunya adalah tingkat ketaatan anggota keluarga kepada Allah. Ketika suami atau istri atau anggota keluarga lainnya selalu berusaha untuk mendekat dan taat kepada Allah, maka jarak di antara mereka juga akan semakin mendekat. Begitu pun sebaliknya, semakin jauh suami atau istri anggota keluarga lainnya jauh dari Allah dan sering bermaksiat maka jarak diantara mereka akan semakin jauh.

Ketaatan kepada Allah akan membawa seseorang memiliki kekuatan hubungan dan kedekatan yang begitu mendalam dengan Allah, sehingga melahirkan ketenangan dan kelapangan hati, sebagaimana Allah katakan dalam salah satu firmannya : ” ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar Ra’d : 28) Dengan demikian orang-orang yang taat dan selalu menjalani hidup dengan tujuan mendekat kepada Allah akan senantiasa memiliki hidup yang damai sekalipun dirinya berada dalam pusaran masalah kehidupan.

Demikian pula sebaliknya, seseorang yang menjauh dari Allah ia berada dalam kubangan kemaksiatan yang bisa menghantarkannya kepada sikap abai terhadap kewajiban-kewajiban agama, termasuk kewajiban mendidik dan menjaga keluarga bila ia seorang suami atau kepala keluarga.  Seorang istri  yang suka bermaksiat terhadap Allah maka ia akan abai terhadap kewajibannya untuk taat kepada suami atau abai dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya. Padahal secara gamblang Allah nyatakan dalam Al Quran : “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dan peliharalah dirimu serta keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim : 6)

Mereka yang berada jauh dari Allah dan senang bermaksiat akan memiliki sifat dan sikap yang pesimis dan mudah mengeluh, sering mencela dan menghina orang-orang terdekatnya, seperti suami, istri atau anak-anaknya. Mereka tidak akan mampu untuk melihat kebaikan-kebaikan yang dimiliki oleh orang-orang terdekatnya.

Mengajak dan membawa anggota keluarga menuju kedekatan dan ketaatan kepada Allah menjadi kewajiban kepala rumah tangga yaitu suami dan mitranya, istri. Sehingga keberkahan dan kebahagiaan serta keharmonisan rumah tangga dapat tercipta di dalam rumahnya.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan