Berpindah Tempat untuk Mengerjakan Shalat Sunnah

Berpindah Tempat untuk Mengerjakan Shalat Sunnah

 

Oleh : Admin

 

 

Usai menunaikan shalat wajib, kita sering menjumpai jama’ah yang berpindah tempat untuk menunaikan shalat sunnah. Misalnya, bergeser tempat ke samping kanan, samping kiri, maju ke shaf depan ataupun mundur ke shaf belakang, dari tempat shalat semula. Apakah memang ada tuntunan untuk melakukan tindakan tersebut? Apa hukumnya?

Berikut kita simak penjelasan Al-Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc. MA dalam blog pribadi beliau www.firanda.com yang diposting pada 9 Februari 2021. Tulisan beliau di blog tersebut kami ambil seperlunya dan sedikit kami sesuaikan bahasanya, tanpa mengubah makna.

Hukum Berpindah Tempat untuk Shalat Sunnah

Disunnahkan bagi orang yang selesai melaksanakan shalat fardhu dan ingin melaksanakan shalat sunnah untuk memberi jeda atau pemisah antara shalat fardhunya dengan shalat sunnahnya. Dan pemisah itu bisa dengan dua cara berikut.

Pertama : Dengan pembicaraan, diantaranya seperti berdzikir dengan dzikir setelah shalat fardhu.

Kedua : Berpindah tempat, seperti ke posisi yang lain di masjid, atau yang terbaik adalah shalat sunnah di rumahnya.

Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa disunnahkan bagi makmum maupun imam untuk berpindah tempat dari tempat ia melaksanakan shalat fardhu ketika hendak melaksanakan shalat sunnah, dan lebih utama lagi jika ia melaskanakannya di rumahnya. (Lihat Tuhafah Al Muhtaj, Ibnu Hajar Al-Haitami, 2/106 dan Mughni Al Muhtaj, Assyarbini, 1/394)

Mereka (Ulama Syafi’iyah) menyatakan bahwa hal ini agar banyak tempat yang akan menjadi saksi baginya kelak di hari kiamat. Akan tetapi tidak ada dalil khusus yang shahih yang menunjukan akan hal ini.

Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh As-Saib bin Yazid beliau berkata:

صَلَّيْتُ مَعَهُ الْجُمُعَةَ فِي الْمَقْصُورَةِ، فَلَمَّا سَلَّمَ الْإِمَامُ قُمْتُ فِي مَقَامِي، فَصَلَّيْتُ، فَلَمَّا دَخَلَ أَرْسَلَ إِلَيَّ، فَقَالَ: «لَا تَعُدْ لِمَا فَعَلْتَ، إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ، فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ، أَنْ لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ»

“Aku pernah shalat Jum’at bersama Mu’awiyah di dalam Maqshurah (suatu ruangan yang dibangun di dalam masjid). Setelah imam salam aku berdiri di tempatku kemudian aku menunaikan shalat sunnah. Ketika Mu’awiyah masuk, ia mengutus seseorang kepadaku dan utusan itu mengatakan, ‘Jangan kamu ulangi perbuatanmu tadi. Jika kamu telah selesai mengerjakan shalat Jum’at, janganlah kamu sambung dengan shalat sunnah sebelum kamu berbincang-bincang atau sebelum kamu keluar dari masjid. Karena Rasulullah Saw memerintahkan hal itu kepada kita yaitu ‘Janganlah suatu shalat disambung dengan shalat lain, kecuali setelah kita berbicara atau keluar dari Masjid”. H.R. Muslim, No.883, Abu Dawud No.1129, Ahmad No.16866

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

وَالسُّنَّةُ أَنْ يُفْصَلَ بَيْنَ الْفَرْضِ وَالنَّفْلِ فِي الْجُمُعَةِ وَغَيْرِهَا. كَمَا ثَبَتَ عَنْهُ فِي الصَّحِيحِ {أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَهُمَا بِقِيَامٍ أَوْ كَلَامٍ} فَلَا يَفْعَلُ مَا يَفْعَلُهُ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ. يَصِلُ السَّلَامَ بِرَكْعَتَيْ السُّنَّةِ فَإِنَّ هَذَا رُكُوبٌ لِنَهْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Dan disunnahkan untuk memisah / membedakan antara shalat fardhu dengan shalat sunnah setelah shalat jum’at maupun selainnya, sebagaimana yang terdapat pada riwayat yang shohih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (sesungguhnya beliau melarang untuk menyambung shalat dengan shalat yang lain sampai ia memisahkannya dengan berpindah atau berbicara. Maka hendaklah seseorang tidak melakukan apa yang dilakukan oleh banyak orang, mereka setelah salamnya imam langsung menyambungnya dengan dua rakaat sunnah. Karena yang demikian termasuk menerjang larangan Rasulullah Saw” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 24/202)

Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata, “Dan mayoritas ‘Ulama tidak melarang bagi makmum untuk shalat di tempat yang tadinya ia shalat fardhu di sana, dan itu adalah pendapat imam Ahmad dan Malik” (Fath Al Abari, Ibnu Rajab, 7/431).

Berkata Badruddin Al ‘Aini:

فيه دليل على استحباب التحول من موضع الفريضة لأجل النافلة، والأفضل أن يتحول إلى بيته، وإلا فموضع آخر من المسجد أو غيره.

“Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa dinjurkan untuk berpindah dari tempat ia melakukan shalat fardhu untuk melaksanakan shalat sunnah, dan lebih afdhal baginya untuk melaksanakannya di rumahnya, dan kalaupun tidak maka di tempat lain dari bagian masjid –dari yang ia pakai shalat fardhu” (Syarh Sunan Abu Dawud, Al ‘Aini, 4/473).

Hadits Dhaif Terkait Hal Ini

Adapun hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Saw bersabda :

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ شِمَالِهِ فِي الصَّلَاةِ يَعْنِي النَّافِلَةَ “

“Apakah kalian tidak mampu untuk maju sedikit atau mundur sedikit atau ke kanan atau ke kiri ketika melaksanakan shalat sunnah (setelah farhdu)” (HR. Ahmad no 9496 dan Abu Dawud No.1006)

Maka hadits ini dinilai lemah oleh Al-Bukhari, setelah beliau menyebutkan jalan-jalan periwayatan hadits di atas, beliau berkata وَلَمْ يَثْبُتْ هَذَا الْحَدِيْثُ “Hadits ini tidak valid” (At-Tarikh al-Kabir 1/340). Imam Bukhari juga berkata dalam kitab Shahih-nya:

كَانَ ابْنُ عُمَرَ: «يُصَلِّي فِي مَكَانِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ الفَرِيضَةَ وَفَعَلَهُ القَاسِمُ» وَيُذْكَرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَفَعَهُ «لاَ يَتَطَوَّعُ الإِمَامُ فِي مَكَانِهِ وَلَمْ يَصِحَّ»

“Adalah Ibnu Umar shalat (sunnah) di tempat yang ia gunakan untuk shalat fardhu. Dan hal itu juga dilakukan oleh Al-Qashim. Dan disebutkan dari Abu Hurairah -dan beliau memarfu’kannya kepada Nabi (yaitu Nabi bersabda), “Tidaklah imam shalat sunnah di tempat (shalat fardhunya)”. Dan riwayat ini tidak shahih” (Shahih Bukhari no 848)

Karenanya hadits ini juga didha’ifkan oleh Ibnu Hajar (lihat Fathul Bari 2/335). Bahkan An-Nawawi berkata tentang hadits ini :

وَاتَّفَقُوا عَلَى ضعفه، وَمِمَّنْ ضعفه البُخَارِيّ فِي ” صَحِيحه “.

“Dan mereka bersepakat atas dha’ifnya hadits ini, dan termasuk yang mendha’ifkannya adalah Al Bukhari di dalam shahihnya” (Khulashah Al Ahkam, An-Nawawi, 1/474)

Hadits ini lemah karena sanadnya berporos kepada Al-Laits bin Abi Sulaim, ia telah bersendirian dalam periwayatan hadits ini, dan ia adalah perawi yang dha’íf (Lihat penjelasan Ibnu Hajar di Fathul Bari 2/335 dan Ibnu Al-Qatthan di  Bayan Al Wahm Wa Al Iham, Ibnu Al Qatthan, 3/156). Hadits ini juga didha’ifkan oleh para pentahqiq Musnad Imam Ahmad.

Penutup

Jika seseorang setelah shalat fardu berdzikir dengan dzikir setelah shalat maka tidak mengapa ia langsung shalat sunnah di tempatnya tanpa harus berpindah tempat. Karena salah satu pemisah antara shalat fardu dan shalat sunnah adalah berbicara. Meskipun dengan berpindah posisi lebih baik, apalagi mengerjakannya di rumah, yaitu berpindah posisi dari masjid ke rumah.

Jika seseorang hendak berpindah tempat dengan bertukar tempat dengan kawan di sebelahnya, maka hendaknya dengan keridhaan kawannya tersebut, jika ternyata kawannya terlihat terganggu untuk berpindah tempat maka hendaknya ia tidak usah berpindah tempat karena dengan berdzikir setelah shalat sudah cukup sebagai pemisah.

Kalaupun ia hendak berpindah tempat maka bisa maju sedikit atau mundur sedikit juga bisa sehingga tidak mengganggu kawan sebelahnya.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

Rujukan:

Firanda Andirja, Hukum Pindah Posisi Ketika Shalat Sunnah Setelah Shalat Wajib, https://firanda.com, 9 Februari 2021

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan