Bersihkan Hatimu, Dunia Digital Telah Meracunimu

Bersihkan Hatimu, Dunia Digital Telah Meracunimu

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Bersihkan hatimu, sebuah nasehat yang sering kita dengar, baik dari para ulama terdahulu, maupun ulama zaman sekarang, bahkan dari teman-teman kita sendiri. Mudah sekali dinasehatkan, berat sekali untuk direalisasikan. Hiruk pikuk kehidupan zaman sekarang, memudahkan munculnya kekotoran pada hati kita.

Sangat mudah bagi kita berburuk sangka kepada orang lain. Sangat mudah bagi kita untuk marah dan dendam kepada orang lain. Sangat mudah bagi kita membenci orang lain —-bahkan untuk alasan yang tidak jelas. Hati kita mudah iri, dengki, dendam, muak kepada orang lain. Medsos menambah semakin banyak referensi untuk sakit hati.

Dunia digital membuat kita mudah terpapar, membuat kita mudah teracuni oleh informasi. Saatnya melakukan ritual digital detox, agar hati kita tidak terkotori, agar pikiran kita tidak tercemari. Informasi hoax, berita rekayasa, publikasi penuh intimidasi, postingan penuh muatan kebencian, menjadi menu sehari-hari. Ini potensial mengotori hati, dan mencemari pikiran.

Melihat postingan orang di instagram yang sedang rekreasi ke Bali, hati langsung panas. ”Mentang-mentang bisa ke Bali, langsung pamer”. Melihat postingan teman di facebook sedang jalan-jalan ke luar negeri, langsung berpikiran negatif, “Paling-paling itu uang hasil korupsi”.

Membaca postingan teman di grup chatting berisi tausiyah agama, langsung membatin, “Sok alim, emang dia ulama?” Membaca postingan teman berisi politik, langsung komen, “Grup persahabatan kok dijadikan kampanye, dasar politikus”. Setelah itu left group. Membaca postingan berisi nasehat kebaikan, langsung menuduh, “Sok jadi motivator. Emang dirinya sudah baik?”

Melihat postingan di instagram, foto teman sedang wisata kuliner, hatinya langsung bicara, “Orang tidak punya perasaan. Masih banyak orang miskin, dia malah pamer makanan”. Melihat postingan di facebook, foto teman sedang di depan Ka’bah, langsung membatin, “Ibadah kok dipamer-pamerkan. Itu kan merusak keikhlasan”.

Bukan hanya dalam dunia maya, pada dunia nyata pun kita menjadi tercemari. Melihat orang sangat gemuk, langsung berburuk sangka, “Orang kok gendut kayak gajah. Pasti karena kebanyakan makan, kebanyakan tidur dan kurang olahraga. Pasti juga malas ibadah”. Melihat orang sangat kurus, langsung berpikiran jelek, “Perempuan kok kurus kayak gitu. Pasti gak diurus sama suami. Itu suaminya pelit dan tidak ngasih makan”.

Melihat anak muda ngebut naik motor dengan suara knalpot yang keras memekakkan telinga, langsung membatin, “Moga-moga nyungsep tuh anak”. Melihat orang berbicara di telpon genggam dengan suara keras, langsung berpikir, “Orang kok sombongnya bukan main. Nelpon sengaja dikerasin biar semua orang dengar kehebatan urusannya”.

Melihat orang memberi sedekah, langsung membatin, “Sedekah kok ditunjuk-tunjukkan. Itu namanya riya”. Melihat orang tidak mau sedekah, langsung berpikir, “Orang kok pelit. Diminta sumbangan saja tidak mau ngasih”.

Melihat orang shalat sunnah di masjid, langsung membatin, “Shalat sunnah kok di masjid. Itu kan pamer”. Melihat orang tidak shalat sunnah, karena usai shalat wajib langsung meninggalkan masjid, dalam hati bicara, “Orang kok malas banget shalat sunnah”.

Begitulah hirup pikuk dunia kita hari ini, apalagi menjelang Pilpres dan Pileg. Semakin banyak alasan untuk menuduh, berburuk sangka, marah, dengki, dendam, kepada orang lain. Hati kita sangat mudah terkotori. Teman akrab bisa menjadi saling membenci. Saudara dekat bisa menjadi saling memusuhi. Itu karena hati yang kotor.

Seperti ungkapan yang diposting Aa Gym dalam akun instagram beliau, “Teman lama, dipetemukan oleh Facebook, dipererat oleh WhatsApp, dipisahkan oleh Pilpres”. Begitulah ironi hidup kita saat ini.

Membiasakan Berpikiran Positif dan Berhati Bersih

Mari kita berlatih untuk berpikiran positif dan berhati bersih. Jika melihat orang lain di sekitar kita, mari kita doakan mereka semua, untuk kebaikan mereka. Ini salah satu cara untuk membersihkan hati, dan memositifkan pikiran.

Ketika melihat orang ngebut di jalan, langsung kita doakan, “Semoga Allah berikan keselamatan, dan semoga Allah bimbing anak muda itu ke jalan kebaikan”. Ketika melihat orang sangat gemuk, langsung kita doakan, “Semoga Allah berikan kesehatan dan keberkahan dalam hidupnya”.

Ketika melihat orang sangat kurus, langsung kita doakan, “Semoga Allah berikan kesehatan dan kebahagiaan. Semoga Allah berikan kelancaran rejeki yang halal”. Ketika melihat orang mabuk, langsung kita doakan, “Semoga Allah berikan hidayah dalam hidupnya”.

Ketika membaca postingan teman, foto sedang wisata kuliner, langsung kita doakan, “Semoga mereka mendapat kebahagiaan dan mudah berbagi dengan orang lain”. Ketika membaca postingan teman yang sedang memberikan tausiyah kebaikan, langsung kita doakan, “Semoga Allah menjaga dirinya, semoga Allah berikan kebaikan melalui tausiyahnya”.

Melihat orang sedang kampanye politik, kita doakan, “Apabila dia terpilih, semoga Allah jadikan dia pemimpin yang amanah”. Melihat orang sedang mempromosikan capres pilihannya, langsung kita doakan, “Semoga capres yang terpilih adalah yang terbaik bangi ummat, bangsa, negara dan agama”.

Ketika melihat orang sedang berjualan, langsung kita doakan, “Semoga dagangannya lancar, laris dan berkah”. Ketika melihat para pekerja berangkat ke pabrik, langsung kita doakan, “Semoga Allah berikan keselamatan. Semoga Allah berikan kelancaran rejeki yang halal”.

Semua orang, kita doakan untuk kebaikannya. Yang tampak tidak baik, kita doakan agar menjadi baik. Yang tampak sudah baik, kita doakan agar bertambah baik. Ini adalah cara untuk membersihkan hati, dan memositifkan pikiran. Jangan biarkan hati kita berpikiran negatif. Jangan biarkan hati kita terkotori oleh berbagai fenomena dalam dunia maya maupun dunia nyata.

Inilah proses pembersihan hati. Berlatihlah untuk senantiasa berpikiran positif kepada orang lain, dan mendoakan kebaikan bagi orang lain. Dengan cara ini, kita telah berproses memberihkan hati kita dari berbagai kekotoran yang hanya akan memburukkan diri.

Dengan hati yang bersih hidup kita akan nyaman. Dengan hati bersih, hidup kita akan damai. Dengan hati yang bersih, kita akan husnul khatimah. Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang ingin Allah menganugrahkan baginya husnul khatimah maka hendaknya ia berbaik sangka kepada manusia”.

Tidak Membiarkan Hati Dikendalikan Orang Lain

Hati kita, jiwa kita, sepenuhnya dalam kendali kita sendiri. Tentu atas bimbingan dan petunjuk Allah Ta’ala. Maka jangan biarkan hati kita terkotori oleh tindakan orang lain. Jangan biarkan hati kita tercemari oleh settingan pihak lain. Kita adalah pemilik otoritas atas perasaan, pikiran, sikap dan perilaku yang kita pilih.

Jika melihat orang lain berlaku jahat kepada kita, jangan kita absahkan diri kita untuk ikut berlaku jahat kepadanya. “Karena dia jahat kepada aku, maka aku gantian berbuat jahat kepada dia”. Pikiran seperti ini akan mengotori hati. Tak ada bedanya kita dengan orang itu. Pada saat itu, perasaan dan pikiran kita telah berada dalam kendali orang lain.

Jika orang lain mencaci maki kita, jangan membiarkan kita ikut mencaci maki orang tersebut. ”Karena dia sudah mencaci maki aku, maka aku harus membalas mencaci maki dia”. Pikiran seperti ini hanya akan mengotori hati. Tak ada bedanya kita dengan orang itu. Jika kita lakukan, perasaan dan pikiran kita telah berada dalam kendali orang lain.

Jika orang lain menjelek-jelekkan kita, jangan relakan diri kita ikut menjelek-jelekkan orang itu. ”Karena dia menjelek-jelekkan aku, maka aku harus membalas menjelek-jelekkan dia”. Pendapat ini hanya akan semakin menambah kekotoran di hati. Tak ada bedanya kita dengan orang itu. Jika kita lakukan, perasaan dan pikiran kita telah berada dalam kendali orang lain.

Jika orang lain marah-marah kepada kita, jangan ikut-ikutan marah kepada dia. ”Karena dia marah-marah kepada aku, maka aku harus membalas marah kepada dia”. Hal ini hanya akan mengotori hati. Tak ada bedanya kita dengan orang itu. Jika kita ikut marah-marah, perasaan dan pikiran kita telah berada dalam kendali orang lain.

Itulah contoh hati yang tidak merdeka. Kondisi perasaan kita dikuasai orang lain. Jika kita biarkan demikian, maka ada pihak yang sangat mudah untuk meng-instal dan mengendalikan hati kita. Jangan pernah kita izinkan ada pihak lain yang mengendalikan keputusan kita, membawa pikiran dan perasaan kita sesuai dengan program jahat yang sedang ia jalankan kepada kita.

Membuat Kontrak dengan Allah

Maka bersihkan hati, positifkan pikiran. Kita adalah hamba Allah yang akan mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan kita di hadapanNya. Masing-masing kita akan bertanggung jawab di hadapan Allah. Kontrak kita adalah kepada Allah, bahwa kita diperintahkan untuk selalu berbuat baik, dan meninggalkan perbuatan jahat.

Ketika kita berbuat baik, itu adalah karena Allah. Karena kita sudah membuat kontrak untuk selalu berbuat baik, karena Allah. Ketika kita meninggalkan kejahatan, itu adalah karena Allah. Karena kita sudah membuat kontrak untuk selalu meninggalkan kejahatan, karena Allah. Bukan karena manusia.

Maka, jika ada orang berlaku jahat kepada kita, itu urusan dia sendiri dengan Allah. Jika ada orang mencaci maki kita, itu urusan dia sendiri dengan Allah. Jika ada orang menjelek-jelekkan kita, itu urusan orang itu dengan Allah. Masing-masing kita memiliki kontrak dengan Allah dan akan bertanggung jawab di hadapan Allah.

Kalau kita ikut berbuat jahat, maka kita juga akan mempertanggungjawabkan kejahatan tersebut di hadapan Allah. Jika kita ikut berbuat zalim, maka kezaliman ini akan membebani kita sendiri di hadapan Allah. Kalau kita ikut menjelek-jelekkan orang lain, ini pun harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Hendaknya kita selalu mengingat, kontrak kebaikan kita adalah dengan Allah. Bukan dengan manusia. Kuncinya selalu sama : barangsiapa berharap dari manusia, bersiap-siaplah untuk kecewa. Namun jika kita hanya berharap kepada Allah, maka tidak pernah ada yang kecewa.

Hati Bersih, Balasannya Adalah Surga

Hati yang bersih akan berbuah surga. Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian menarik yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rasulullah Saw. Anas bercerita, “Pada suatu hari kami duduk bersama Rasulullah Saw kemudian beliau bersabda : Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga. Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.”

Ketika majlis Rasulullah Saw selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut Nabi sebagai penghuni surga itu. Kemudian dia berkata kepadanya, “Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kau memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu?”

Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidurlah Abdullah di rumah orang itu selama tiga malam. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu istimewa di dalam ibadahnya. Setelah ditanyakan amalan apa, orang Anshar itu menjawab, “Demi Allah, amalku tidak lebih dari yang kau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap sesama muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka”

Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.”

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan