Best Friend Forever

Best Friend Forever

BEST FRIEND FOREVER

@ummurochimah

 

Best Friend Forever atau Sahabat Sejati. Apa itu sahabat sejati?

Sahabat adalah orang yang dekat di hati. Banyak hal-hal menyenangkan yang bisa didapatkan dari seorang sahabat, karenanya mudah saja berbagi canda dan tawa dengan dirinya. Sahabat adalah orang yang mudah diajak bicara untuk semua, atau paling tidak untuk sebagian besar masalah. Siap menerima semua keluh kesah dan acapkali memberi solusi yang dianggap memuaskan untuk masalah yang dihadapi.

Seseorang itu biasanya tidak akan menjaga penampilan dan sikap ketika berada di hadapan sahabatnya, ia akan mampu tampil dan berlaku apa adanya, baik maupun buruk dirinya akan terlihat di depan sahabatnya. Senang dan sedihnya pun diketahui oleh sahabatnya. Karena yakin bahwa kekurangan yang dimilikinya tidak akan menjadi bahan hinaan atau celaan oleh sahabatnya. Mengkritik atau menasehati sahabat itu sesuatu yang biasa saja, tidak menimbulkan perasaan sakit hati atau tidak senang.

Dengan sahabatnya seseorang dapat berbicara apa adanya, mulai dari pembicaraan santai dan remeh temeh hingga pembicaraan serius dan tingkat tinggi, tidak ada perasaan harus menjaga penampilan atau sikap saat berbicara serius atau menjaga harga diri saat berbicara santai. Dua orang yang bersahabat dapat saling berbicara lepas tanpa suatu sekat di antara mereka, sehingga kedekatan akan tetap terjaga. Dengan kata sederhana, sahabat itu adalah seseorang yang paling mengetahui kelebihan dan kekurangan, paling memahami isi hati yang terdalam.

Itulah persahabatan.

Dengan pola hubungan semacam itu, banyak orang kemudian yang bisa menjalani langkah hidup yang lebih baik lantaran memiliki sahabat yang selalu peduli padanya.

Alangkah indahnya bila pola persahabatan semacam itu bisa diterapkan dalam rumah tangga, suami isteri adalah dua sahabat yang saling menyayangi. Bahkan seharusnya pasanganlah orang yang paling tepat untuk menampung semua suka duka suami atau istri.

Namun sayangnya, tak semua pasangan mampu menerapkan pola semacam ini. Hubungan suami isteri, disikapi sebagai hubungan atasan-bawahan, ordinat-sub ordinat. Perasaan setara, kesamaan, sebagai dasar terbentuknya persahabatan tidak ada sama sekali. Maka, jangankan berbagi cerita, mengungkapkan satu hal kecil saja menjadi teramat sulit lantaran batasan hirarki yang tegas. Lalu ke mana isteri atau suami bila ingin mengungkapkan segala keluh kesahnya?

Islam mengajarkan konsep sekufu dalam berumah tangga, artinya bahwa pasangan suami istri dalam menjalankan kehidupan rumah tangganya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Maksudnya adalah bahwa hak—hak suami istri berlaku secara saling timbal balik, karena keduanya sekufu. Tidak ada satu pun tugas yang dilakukan seorang istri untuk suaminya melainkan seorang suami pun memiliki tugas serupa yang ia kerjakan untuk istrinya. Jika tidak serupa pada karakternya, maka ia bisa serupa pada jenisnya. Suami dan istri serupa pada hak dan tugasnya, masing-masing adalah sosok manusia yang sempurna dan memiliki akal untuk berpikir tentang kemaslahatan.

 

Menjadikan Pasangan Sebagai Sahabat

Pasangan suami istri itu diikat secara formal oleh suatu akad nikah dan buku nikah. Sebutan “suami” atau “istri” adalah sebuah pernyataan hukum yang menandakan bahwa di antara keduanya telah terikat dengan suatu pernikahan. Ada konsekuensi hukum yang berlaku atas mereka. Surat nikah hanyalah bukti legal formal bahwa mereka berdua sudah sah untuk hidup dalam satu rumah, sudah sah untuk melakukan hubungan suami istri. Namun, apakah buku nikah saja cukup untuk menjadikan keduanya mampu bertahan dalam mengarungi bahtera rumah tangga?

Melewati semua tantangan-tantangan dan halangan-halangan. Menjadikan suatu pernikahan itu bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah? Tentu sangat tidak memadai bila hanya bermodalkan sepucuk buku nikah. Ada banyak faktor yang akan mempengaruhi kebahagiaan pasangan suami istri.

Banyak dijumpai pada kenyataannya, pasangan suami istri yang tidak mampu mempertahankan rumah tangganya. Mewarnai pernikahannya dengan pertengkaran, pembiaran satu sama lain, saling menyakiti baik fisik maupun verbal sehingga tidak ada kebahagiaan dan ketenangan di dalam rumah tangga tersebut. Akhirnya ada di antara mereka lebih memilih untuk berpisah karena merasa tidak cocok satu sama lain. Atau muncul orang lain di antara keduanya yang menjadi “teman” mengobrol atau curhat yang kemudian membuat seorang suami atau istri melupakan keluarganya sehingga muncullah perselingkuhan.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Salah satu penyebab kerumitan yang terjadi dalam suatu rumah tangga adalah karena suami istri itu tidak menjadikan pasangan mereka sebagai seorang sahabat. Pasangan suami istri itu harus bisa menjadi sahabat sejati satu sama lainnya, saling mendekat dan tidak berjarak, bukan menjadi saling asing atau saling menjadi orang lain.

Sejak awal pernikahan, seringkali pasangan suami istri masing-masing memposisikan dirinya sebagai suami atau sebagai istri semata, bahkan ada yang kemudian berlaku pola hubungan atasan dan bawahan. Lalu berjibaku dan berjuang menjalani pernikahan dengan segala pemahaman tentang tugas dan kewajiban masing-masing.

Secara hukum ini benar adanya, tetapi di antara mereka tidak boleh sampai melupakan pola interaksi hubungan di antara keduanya, yang menggambarkan bila keduanya adalah sahabat sejati. Teman dalam suka dan duka, kawan dalam berbagi cerita.

Pasangan suami istri yang menghabiskan sebagian hidupnya secara bersama, makan bersama, bepergian bersama bahkan tidurpun bersama, pastilah akan menemukan keistimewaan maupun kekurangan dari pasangannya, sehingga sudah sepantasnya apabila pasangan suami isteri itu menjadi sahabat satu sama lain. Saling mengerti tentang karakter dan sifat masing-masing sehingga dapat menempatkan diri dengan benar di hadapan pasangan. Tidak menjadi orang asing bagi pasangannya.

 

Bagaimana Menjadikan Pasangan Sebagai Sahabat?

Persahabatan itu tidak dapat dipaksakan, tetapi dapat diupayakan. Terlebih untuk pasangan suami istri, sudah semestinya seorang suami memiliki sahabat sejati yaitu istrinya. Demikian pula seorang istri haruslah menjadikan suaminya sebagai sahabat sejati.

Menjadikan pasangan sebagai seorang sahabat adalah suatu keharusan bagi seorang suami atau istri, keduanya harus mengupayakan sekuat tenaga persahabatan tersebut. Mungkin dapat menjadi hal yang sulit, terutama bila di antara keduanya memilki banyak perbedaan sifat dan karakter, namun bukan suatu hal yang tidak mungkin diwujudkan. Kuncinya adalah kemauan dan motivasi keduanya untuk mewujudkan persahabatan tersebut.

Ada beberapa hal yang dapat diupayakan untuk membentuk persahabatan suami istri, antara lain :

Belajar Memahami Kesenangan Pasangan

Tidak sedikit pasangan suami istri yang memiliki kesenangan yang berbeda, seperti contoh, seorang istri yang senang melakukan kegiatan traveling tetapi memiliki suami seorang yang sangat suka menghabiskan waktu liburnya di rumah. Dua kesenangan yang saling bertolak belakang. Bila pasangan suami istri ini tidak mampu mengelola perbedaan ini, dan masing-masing memiliki ego yang tinggi, maka dapat dipastikan sering muncul pertengkaran di antara mereka.

Pasangan  suami istri itu harus saling bertoleransi terhadap kesenangan pasangan. Tidak boleh mementingkan kesenangan pribadi dan memaksakan pasangan untuk selalu mengikuti kesenangannya atau membenci kesenangan pasangannya.

Harus bersedia untuk mau secara bergantian melakukan kegiatan yang disukai oleh pasangannya, walaupun itu sesuatu yang tidak ia sukai. Dari sini keduanya dapat belajar tentang menekan rasa egois, belajar untuk memberi kesempatan kepada pasangan untuk melakukan kesenangannya.

Suami istri seharusnya adalah dua orang yang paling mengerti secara mendalam tentang kesenangan pasangannya, sehingga dengan memahami kesenangan pasangan, ia dapat memberikan kebahagiaan kepada pasangan yang dapat melahirkan keharmonisan dalam rumah tangganya.

 

Memberi Kepercayaan Kepada Pasangan

Sahabat itu adalah orang yang saling percaya satu sama lain, setiap ucapan sahabat menjadi pegangan bagi seseorang, tindakan yang dilakukan oleh sahabat akan diberi dukungan, bahkan menitipkan suatu barang kepada seorang sahabat tidak akan diikuti rasa khawatir. Begitulah sebuah persahabatan.

Suami istri seharusnya menjadi sahabat yang saling percaya satu sama lain, tidak mudah cemburu buta kepada pasangan, atau lebih mempercayai omongan pasangan dari pada omongan orang-orang di luar mereka. Jika ada yang harus diklarifikasi, keduanya lebih memilih untuk langsung berbicara kepada pasangan dan berusaha mempercayai keterangan yang disampaikan oleh pasangan.

Bila ada pasangan suami istri yang tidak saling mempercayai satu sama lain, sering curiga pada pasangan atau lebih percaya pada omongan orang lain dari pada omongan pasangannya, ini menunjukkan bahwa mereka berdua belum menjadi sahabat sejati. Masih ada kecurigaan di antara mereka. Karena itu mereka harus mulai belajar memberikan kepercayaan secara penuh kepada pasangan. Dan keduanya pun harus memegang erat kepercayaan yang telah diberikan oleh pasangan sebagai sebuah amanah yang tidak boleh dikhianati.

 

Bersedia dan Betah Mengobrol dengan Pasangan

Dua orang yang bersahabat dapat mengobrol apa saja selama berjam-jam tanpa ada rasa bosan. Tema dan perkara apapun dapat menjadi bahan perbincangan bagi mereka, mulai dari perkara yang santai dan tidak penting hingga perkara pelik dan rumit dapat mereka perbincangkan. Dan bahasa keduanya pun dapat selaras sehingga perbincangan itu dapat terus mengalir. Lalu akan timbul kerinduan manakala kedua sahabat ini tidak bertemu dan mengobrol dalam waktu yang lama.

Demikian pula seharusnya pasangan suami istri, sebagai pasangan sahabat sejati. Masing-masing harus memiliki rasa betah ketika mengobrol dengan pasangannya. Jadikan tema : mengobrol dengan pasangan sebagai tema utama saat menghabiskan waktu berdua, di mana pun mereka berada.

Ciptakan suasana yang selalu menyenangkan untuk keduanya dapat mengobrol. Walau terkadang yang sering terjadi adalah seorang suami yang diam saja mendengarkan istrinya asyik bercerita tentang segala hal. Karena memang umumnya seorang perempuan memiliki kosa kasa yang sangat banyak, sehingga mudah bagi perempuan untuk bercerita tentang apa saja. Tapi bukan berarti diamnya sang suami karena tidak suka, namun ia menikmati alunan suara istrinya seperti alunan sebuah nada yang indah, inilah yang membuat ia betah mengobrol dengan pasangannya.

Pasangan suami istri yang bersahabat tidak perlu memikirkan apa bahan pembicaraan dengan pasangan.  Karena sejatinya apa pun peristiwa atau kejadian yang dialami oleh keduanya dapat menjadi tema obrolan bagi mereka, tanpa perlu memikirkan itu penting atau tidak bagi pasangan, itu asyik atau tidak untuk diobrolkan.

Jangan berpikir tidak mempunyai bahan obrolan dengan pasangan sehingga tidak pernah mengobrol dengan pasangan. Atau merasa bahwa pasangan bukanlah teman mengobrol yang asyik. Jika ini yang terjadi berarti mereka belum menjadi sahabat sejati.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan