Betapa Sempit Rumah Kami

Betapa Sempit Rumah Kami

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Rumah yang luas merupakan dambaan banyak kalangan masyarakat, karena akan lebih memberikan keleluasaan dan perasaan nyaman bagi seluruh anggota keluarga. Selain itu, dengan rumah yang luas akan bisa memberikan tambahan kemanfaatan, selain dari fungsi tempat tinggal. Misalnya rumah bisa untuk tempat kegiatan kemasyarakatan seperti pengajian, pertemuan warga, tempat belajar bersama anak-anak di lingkungan RT, dan sebagainya.

Namun kenyatannya, lahan untuk perumahan di wilayah perkotaan semakin terbatas. Harga tanah terus naik dan kebutuhan akan perumahan selalu bertambah. Maka muncullah konsep rumah mungil –bukan rumah sempit—sebagai alternatif hunian warga kota. Rumah mungil ini menjadi solusi bagi padatnya warga wilayah perkotaan, juga menjadi solusi bagi kalangan masyarakat sesuai kemampuan ekonomi yang dimiliki.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada kurun 2010 – 2015, sejumlah 23% rumah tangga di DKI, menghuni rumah dengan luas lantai kurang dari 20 m2. Sebagian besar (33%) rumah tangga di DKI menghuni rumah dengan luas lantai 20 – 49 m2.

Berarti jika digabung, rumah tangga yang menghuni rumah dengan luas lantai di bawah 50 m2 adalah sebanyak 56 %. Hal ini menunjukkan rumah mungil adalah sebuah solusi yang dipilih oleh kebanyakan masyarakat kita. Bukan hanya di DKI, namun juga di berbagai wilayah lainnya yang relatif perkotaan.

Mengatasi Rasa Sumpek di Rumah Mungil

Menempati rumah mungil memang memiliki berbagai keterbatasan. Apalagi jika rumah mungil tersebut dihuni oleh banyak anggota keluarga. Namun tidak boleh menyalahkan realitas mungilnya rumah untuk membiarkan munculnya berbagai keterbatasan tersebut. Dengan melakukan langkah penataan yang tepat, sesungguhnya bisa tercipta kualitas pemanfaatan ruang secara optimal.

Ada banyak upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa sumpek dalam rumah mungil. Diantaranya adalah dengan menempuh empat kiat berikut ini.

Pertama, Perhatikan Sistem Penyimpanan Barang

Salah satu masalah yang sering ditemui di rumah mungil adalah penyimpanan barang. Di dalam rumah mungil, ruang yang ada harus diprioritaskan untuk fungsi utama, seperti kamar tidur, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi. Kalaupun ada gudang tidak akan maksimal fungsinya karena ukurannya yang kecil. Itulah sebabnya diperlukan sistem penyimpanan yang tepat dan cermat.

Simpanlah barang yang memang masih sering dipakai. Pisahkan barang-barang lama dan tidak terpakai, sehingga anda bisa menyumbangkan untuk keperluan sosial, memberikannya sebagai hadiah kepada orang yang memerlukan, atau bahkan menjualnya jika masih bernilai ekonomis.

Pertimbangkan apakah barang tersebut perlu disimpan atau lebih baik dibuang karena sudah tidak bermanfaat. Usahakan tidak menumpuk barang karena akan menghabiskan tempat.

Kedua, Penuhi Standar Kesehatan dan Kenyamanan

Memiliki rumah mungil tidak berarti mengabaikan standar kesehatan dan kenyamanan hunian. Jangan sampai rumah mungil menjadi lembab dan gelap sehingga mendatangkan sumber penyakit. Untuk mengatasinya, buatlah bukaan secara maksimal di dalam rumah. Bukaan sangat penting karena merupakan akses pertukaran udara dan pencahayaan alamiah.

Bukalah jendela setiap hari untuk memasukkan udara dan cahaya. Perlancar lubang angin, buat skylight dan lain sebagainya. Itu semua penting untuk membuat rumah mungil menjadi segar, sehat dan nyaman. Selain itu, kebiasaan menata dan membersihkan rumah secara rutin dapat membuat rumah mungil lebih indah dan nyaman ditinggali.

Ketiga, Pilihan Perabot yang Efisien

Jangan memilih perabotan yang besar untuk rumah yang mungil. Banyak kalangan masyarakat yang memiliki hobi mengkoleksi barang seni, atau hobi mengkoleksi aneka tanaman hias, atau hobi hewan piaraan dan lain sebagainya.

Itu semua harus dipertimbangkan dengan kondisi rumah yang mungil, agar tidak memenuhi rumah dengan hal-hal yang tidak terlalu mendesak. Pilihan furnitur juga harus diperhatikan yang sesuai dengan mungilnya ruang.

Rumah mungil akan lebih efisien apabila didukung dengan pilihan teknologi yang tepat untuk memperlancar aktivitas kerumahtanggaan. Pilihlah jenis televisi layar datar yang ramping sehingga bisa menghemat ruang. Bila memungkinkan, pakailah mesin cuci bukaan depan sebagai pengganti cara mencuci tradisional.

Pantry sebagai pengganti dapur sebaiknya tidak dipakai untuk kegiatan memasak yang rumit. Jika memungkinkan secara ekonomi, manfaatkan microwave dan toaster untuk menyiapkan makanan secara cepat.

Keempat, Lakukan Penyederhanaan Ruang

Rumah yang mungil pasti hanya memiliki sedikit ruang, jika dibandingkan dengan rumah luas. Untuk itu diperlukan upaya penyederhanaan dan penghematan ruang.

Menghemat ruang dapat dimulai dengan menggabungkan fungsi dua ruang, seperti ruang keluarga dan tamu. Asumsinya adalah bahwa kita tidak menerima kunjungan tamu setiap hari. Tamu adalah kerabat dekat atau teman sehingga batasan di dalam rumah lebih cair.

Konsep lesehan dapat menjadi solusi, karena akan memuat lebih banyak orang dengan suasana lebih akrab. Pada saat berfungsi ruang keluarga, maka akan memberikan perasaan keluasan saat berkumpul. Demikian pula saat berfungsi sebagai ruang tamu akan tampak lebih lapang.

 

 

Referensi :

Natalia Ririh, Sumpek di Rumah Mungil? Lakukan 4 Hal Ini, http://properti.kompas.com  7 Juli 2012

 

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan