Kembali
Habit Menulis

Biasakan Membuat Rencana Tulisan

.

Seri Mendesain Habit Menulis – 5

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Our goals can only be reached through a vehicle of a plan, in which we must fervently believe, and upon which we must vigorously act. There is no other route to success” ― Pablo Picasso

.

Salah satu cara untuk mengoptimalkan semua waktu dalam hidup Anda adalah dengan menulis. Jika Anda telah menjadi penulis produktif, maka di semua tempat dan di semua waktu, Anda bisa menulis dan menghasilkan karya tulis yang menginspirasi orang lain. Tak ada waktu yang terbuang, jika Anda telah menjadi penulis produktif.

Untuk menjadi penulis produktif, Anda harus mendesain habit sebagai penulis produktif. Mulai hari ini, saya mengajak Anda mendesain habit menulis, dengan melakukan berbagai aktivitas sederhana berikut ini.

Pertama, Rutin Menulis Setiap Hari

Kedua, Berhentilah Menunda-nunda

Ketiga, Banyak Membaca

Keempat, Banyak Bergaul di Dunia Nyata

Kelima, Biasakan Membuat Perencanaan

Penulis buku “Life, The Truth and Being Free”, Steve Maraboli, bertanya, “If you don’t know exactly where you’re going, how will you know when you get there?” Jika Anda tidak benar-benar mengerti kemana akan pergi, bagaimana Anda akan mengerti kapan telah sampai?

Saat Anda akan menulis, bagaimana Anda mengerti bahwa tulisan Anda sudah selesai, jika Anda tidak pernah membuat perencanaan? Jika Anda merencanakan membuat novel, artinya Anda harus menulis minimal 40.000 kata. Anda juga bisa menciptakan novel yang panjang, hingga lebih dari 200.000 kata.

Jika Anda merencanakan membuat cerpen, artinya Anda harus menulis minimal 3.000 kata, sampai dengan 5.000 kata. Jika cerpen Anda sampai 20.000 kata atau lebih, itu namanya cerbung. Jika Anda menulis artikel atau opini untuk koran dan majalah nasional, maka Anda harus menulis sekitar 1.000 kata. Jika Anda menulis artikel untuk blog pribadi, maka Anda perlu 500 kata.

Nah, ini semua bermula dari perencanaan. Anda merencanakan menulis apa, untuk siapa, tujuannya apa, bentuknya apa? Tanpa perencanaan, Anda akan kebingungan mengawali sebagaimana kebingungan untuk mengakhiri.

Seorang peserta Kelas Menulis Online bertanya kepada saya, “Pak Cah saya sudah menyelesaikan satu karya tulis. Tapisaya bingung, ini namanya fiksi atau nonfiksi?”

“Lah, awal Anda merencanakan menulis apa? Anda mau menulis fiksi atau nonfiksi, kok jadinya membuat Anda bingung?” tanya saya.

Inilah pentingnya perencanaan dalam menulis. Anda harus merencanakan, sesederhana apapun rencana itu. Semakin besar proyek menulis, semakin detail Anda harus merencanakan. Jika Anda akan membuat novel panjang, lebih dari 200.000 kata, perencanaan harus lebih detail dibandingkan dengan membuat novel 40.000 kata.

Membuat buku yang tebalnya di atas 500 halaman, harus lebih detail dibanding dengan membuat satu artikel untuk koran dan majalah. Ini sama dengan perencanaan perjalanan, dan perencanaan pembangunan.

Jika Anda tinggal di Jakarta, untuk bepergian ke Pantai Ancol tidak memerlukan perencanaan yang rumit. Tinggal menentukan waktu, sedikit perbekalan, dan rencana teknis keberangkatan. Sampailah ke Ancol.

Namun jika Anda tinggal di Nabire, untuk menuju Pantai Ancol Anda memerlukan perencanaan yang lebih detail. Persiapan serta perbekalannya juga lebih banyak. Ini karena jarak tempuh yang jauh.

Apalagi ketika Anda hendak bepergian ke luar negeri, tentu persiapan dan perencanannya lebih detail lagi. Harus mengurus paspor, visa perjalanan, mengurus tiket pesawat, merencanakan tempat menginap selama di luar negeri, dan lain sebagainya. Harus sangat detail, berapa hari perjalanan, berapa banyak bekal, dan lain sebagainya.

Rencana  Jangka Panjang

Bukan hanya merencanakan satu artikel atau satu buku, bahkan Anda perlu merencanakan dalam jangka panjang. Goncalo Hoshi menyarankan, “You must focus on the long-term. Whatever hopes and dreams you have of seeing any result within the next month must be forgotten. Instead, look 6 months, 1 year, 5 years into the future”.

Jangan hanya merancang aktivitas satu dua bulan ke depan. Namun Anda harus merencanakan program menulis 6 bulan, satu tahun dan bahkan lima tahun ke depan. Saat pertama kali saya melaunching buku Wonderful Family dan ternyata —alhamdulillah, sangat laris, saya ditanya penerbit.

“Berapa banyak seri Wonderful Family nanti?” tanya penerbit.

“Sepuluh judul buku”, jawab saya dengan mantap.

Jika saya menulis setahun dua buku, berarti serial Wonderful akan terselesaikan dalam kurun waktu lima tahun. Sekarang sudah tercapai delapan buku, masih hutang dua buku lagi serial wonderful family. Ini adalah contoh perencanaan jangka panjang dalam menulis.

Mengapa harus merencanakan jangka panjang? Goncalo Hoshi memberi alasan, “By doing this, not only will your plan be much more doable, but you will also be able to enjoy the process and focus on what you’re doing”. Dengan perencanaan jangka panjang, Anda akan lebih mampu menikmati irama prosesnya. Bukan saja hasilnya.

Manfaat Perencanaan Menulis

Menulis —terlebih untuk ukuran yang panjang— harus diawali dengan perencanaan yang matang. Sangat banyak manfaat yang bisa dihasilkan dari menulis, di antaranya adalah:

  • Membuat tulisan lebih logis dan sistematis

Tulisan apapun, fiksi ataupun nonfiksi, akan logis dan sistematis apabila direncanakan dengan baik. Outline atau kerangka tulisan, atau plot, adalah salah satu wujud perencanaan tersebut. Dengan outline, tulisan yang panjang akan tetap urut, logis dan sistematis.

  • Membuat tulisan lebih matang dan berkualitas

Cerpen dan novel Anda akan semakin matang dan berkualitas, jika Anda merencakan alur cerita dengan baik. Mengatur konflik, mengelola klimaks serta antiklimaks. Demikian pula artikel serta esai Anda akan tersusun dengan matang dan berkualitas, apabila Anda merencanakan dengan pembuatan outline yang baik.

  • Menjadi bisa menentukan bahan dan rujukan

Bahan apa yang Anda perlukan, rujukan apa yang Anda butuhkan, akan terdefinisikan sejak awal apabila Anda merencanakan tulisan. Dengan demikian Anda sudah bisa menyediakan bahan-bahan serta rujukan yang relevan, yang akan memperlancar proses penyusunan tulisan.

  • Membuat bisa memperkirakan lama waktu menulis dan satuan pekerjaan

Jika Anda ingat program SHSB (Seratus Hari Satu Buku), maka itu adalah contoh sebuah perencanaan. Membuat buku ukuran standar A5, dengan tebal 200 halaman isi, dilakukan dalam waktu 100 hari. Setiap hari harus menulis 2000 karakter, maka dalam 100 hari terkumpul 200.000 karakter. Hitungan ini adalah buah dari perencanaan.

  • Untuk evaluasi proses menulis

Menulis harus terukur. Misalnya berapa banyak jumlah kata atau karakter yang ditargetkan? Berapa jumlah halaman buku yang ingin dihasilkan? Berapa lama waktu untuk menyelesaikan tulisan? Dengan demikian Anda menjadi tahu, apakah aktivitas menulis Anda efektif atau tidak. Serta bisa menentukan hal apa yang bisa dilakukan jika target waktu atau target jumlah tidak bisa terpenuhi.

Maka rencanakan tulisan Anda, agar semakin produktif dan profesional. Rencanakan proses Anda agar semakin banyak karya bisa Anda persembuhkan dalam kehidupan.

Bahan Bacaan

Goncalo Hoshi, How To Plan For Success, https://medium.com, 5 Januari 2020

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.