Bolehkah Meninggalkan Shalat Jumat di Masa Wabah Corona?

Bolehkah Meninggalkan Shalat Jumat di Masa Wabah Corona?

Oleh : Ma’ruf Amari. Lc. M.Si. (Pembina Sekolah Fikih / SELFI)

 

 

Pada masa berkembangnya wabah corona saat ini, masyarakat diminta untuk #StayAtHome guna memotong matarantai penyebaran virus. Maka aktivitas lebih banyak di rumah, termasuk shalat lima waktu. Yang banyak menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan pelaksanaan ibadah Jumat? Bolehkah meninggalkan shalat Jumat di masa wabah? Bagaimana kalau lebih dari tiga kali Jumat?

Inilah pertanyaan yang sering dijumpai di kalangan masyarakat muslim. Berikut akan saya coba jelaskan, berdasarkan hadits-hadits Nabi saw terkait masalah ini.

Larangan Meninggalkan Shalat Jumat

Terdapat dua versi hadits berkenaan dengan tema tersebut.

Pertama, larangan secara mutlak. Dalam shahih Muslim, Rasulullah saw mengancam siapa saja yang tidak melaksanakan shalat Jumat. Beliau bersabda,

«لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ»

“Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jumat, atau – kalau tidak berhenti – niscaya Allah Swt menutup hati mereka kemudian mereka sungguh termasuk orang-orang yang lalai”. HR.Muslim no 865

Dalam hadits tersebut Rasulullah Saw tidak memberikan batasan berapa kali shalat Jumat yang ditinggalkan dan ada tidaknya faktor atau alasan yang menyebabkan shalat Jumat ditinggalkan.

Kedua, larangan meninggalkan shalat Jumat tiga kali, kecuali ada udzur atau alasan yang dibenarkan agama. Nabi saw bersabda,

” مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثَ مِرَارٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ، طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ “ شعيب الأرنؤوط: صحيح لغيره، وهذا إسناد حسن من أجل أسِيد

“Barang siapa yang meninggalkan Jumat tiga kali tanpa udzur, maka Allah menutup hatinya”. HR. Ahmad no 14559. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan: hadits ini shahih lighairihi.

Dalam hadits yang lain, Nabi saw bersabda,

” مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ ”

شعيب الأرنؤوط: إسناده حسن من أجل محمد بن عمرو  — والحاكم 1/280 من طريق يحيى بن سعيد، بهذا الإسناد. وقال الحاكم: هذا حديث صحيح على شرط مسلم، ولم يخرجاه، ووافقه الذهبي!

“Barangsiapa yang meninggalkan tiga kali shalat Jumat dengan sikap meremehkan, tanpa udzur (yang dibenarkan agama) maka Allah akan tutup hatinya”. HR. Ahmad no 15498. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan: Sanadnya hasan. Al-Hakil mengatakan: “Ini adalah hadits shahih sesuai syarat Muslim dan keduanya –Al-Bukhari dan Muslim –tidak meriwayatkannya”. Adz-Dzahabi menyepakatinya.

Untuk memahami kedua versi hadits di atas, bahwa hadits yang mutlak – tanpa batasan – harus difahami sesuai dengan hadits yang ada batasannya yaitu bila meninggalkannya dibarengi sikap meremehkan dan tanpa udzur yang dibenarkan oleh agama. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Asy-Syaukani dalam Nailul Authar 3/266: “Maka selayaknya membawa –pemahaman– hadits-hadits yang mutlak kepada hadits yang muqayyad (dengan batasan)  dengan tahawun (menyepelekan) ini”.

Ketika terjadi wabah penyakit yang menular, maka kondisi itu merupakan udzur yang membolehkan tidak melaksanakan shalat Jumat, karena wabah adalah mafsadah, yaitu sesuatu yang merusak atau membahayakan. Rasulullah Saw besabda:

“لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ”

“Segala yang membahakan dihilangkan dan tidak boleh menghilangkan yang membahayakan dengan membahayakan yang lain”. HR. Ibnu Majah no. 2341. Syu’aib Al-Arnauth mengatakan: Shahih lighairihi.

Kaidah Fiqhiyyah juga mengatakan:

الضَّرَر يُزَال

“Sesuatu yang membahayakan itu dihilangkan.”

Fatwa MUI, NU, Muhammadiyah, serta Para Ulama

Selaras dengan hadits-hadits dan kaidah fiqhiyyah di atas, kita bisa menyimak pula arahan dan fatwa yang keluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), serta Majlis Tarjih PP Muhammadiyah.

  1. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh mengatakan, ada tiga jenis orang yang tidak melaksanakan shalat Jumat. Pertama, orang yang tidak shalat Jumat karena inkar akan kewajiban Jumat, maka dia dihukumi sebagai kafir. Kedua, orang Islam yang tidak shalat Jumat karena malas. Ketiga adalah orang Islam yang tidak Jumatan karena ada udzur syar’i, maka ini dibolehkan.

Menurut pandangan para ulama fikih, udzur syar’i tidak shalat Jumat, antara lain adalah karena sakit. Ketika sakitnya lebih dari tiga kali Jumat, dia tidak shalat Jumat tiga kali berturut-turut pun tidak berdosa. Udzur syar’i berikutnya adalah kekhawatiran terjadinya sakit. Dalam kondisi ketika berkumpul dan berkerumun itu diduga kuat akan terkena wabah atau menularkan penyakit, maka ini menjadi udzur untuk tidak melaksanakan shalat Jumat.

Dalam kitab Asna Al-Mathalib karya Abu Yahya Zakariya As-Sunaiki Asy-Syafi’i (1/215) dinyatakan :

وَقَدْ نَقَلَ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَن الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْمَجْذُومَ وَالْأَبْرَصَ يُمْنَعَانِ مِنْ الْمَسْجِدِ وَمِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ، وَمِنْ اخْتِلَاطِهِمَا بِالنَّاسِ

“Pengertian kalimat tersebut adalah, orang yang terjangkit penyakit menular dicegah untuk ke masjid dan shalat Jumat, juga bercampur dengan orang-orang (yang sehat(.

Dalam kitab Al-Inshaf karya Al-Mardawai Al-Hanbali (2/300) disebutkan:

وَيُعْذَرُ فِي تَرْكِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ الْمَرِيضُ بِلَا نِزَاعٍ، وَيُعْذَرُ أَيْضًا فِي تَرْكِهِمَا لِخَوْفِ حُدُوثِ الْمَرَض

“Udzur yang dibolehkan meninggalkan shalat Jumat dan jamaah adalah orang yang sakit tanpa ada perbedaan di kalangan Ulama. Termasuk udzur juga yang dibolehkan meninggalkan shalat Jumat dan jamaah adalah karena takut terjadinya sakit,”

  1. Fatwa LBM PB Nahdlatul Ulama

Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU mengeluarkan tiga poin arahan, khususnya untuk daerah yang terjangkit virus mematikan itu.

Pertama, orang-orang yang sudah mengetahui bahwa dirinya positif mengidap virus corona (Covid-19), maka virus corona bukan hanya udzur yang membolehkan yang bersangkutan meninggalkan shalat Jumat, melainkan juga menjadi larangan baginya untuk menghadiri shalat Jumat. Dalam konteks itu, berlaku hadits “la dharara wa la dhirar”, tidak boleh melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Akan tetapi apabila dia tetap ikut melaksanakan shalat Jumat atau jamaah di masjid maka shalatnya tetap sah, karena meskipun dia dilarang namun larangannya tidak kembali kepada sesuatu yang dilarang yaitu shalat, melainkan karena faktor ekstrernal, yaitu karena menimbulkan bahaya kepada orang lain.

Kedua, jika umat Islam tinggal di daerah zona merah virus corona, maka mereka dianjurkan melaksanakan shalat zuhur di rumah masing-masing dan tak memaksakan menyelenggarakan shalat Jumat di masjid. Sebab, di zona merah, penularan virus corona, meski belum sampai pada tingkat yakin, tapi sekurang-kurangnya sampai pada dugaan kuat atau potensial yang mendekati aktual.

Di sini penularan virus corona tidak hanya berstatus sebagai udzur tetapi menjadikan larangan untuk menghadiri shalat Jumat. Artinya, masyarakat muslim yang ada di zona merah bukan hanya tidak diwajibkan shalat Jumat atau tidak dianjurkan shalat jamaah dalam jumlah besar, melainkan justru mereka tak boleh melakukan dua aktivitas tersebut.

Sebagai gantinya, mereka melaksanakan shalat zuhur berjamaah di kediaman masing-masing. Tambahan pula, menghadiri atau menyelenggarakan shalat Jumat di zona merah sama halnya dengan melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri. Ini masuk dalam keumuman firman Allah Swt:

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29).

Ketiga, umat Islam yang berada di zona kuning virus corona, maka penularan virus masih dalam batas potensial-antisipatif. Karena itu, virus corona tidak menjadi larangan melainkan hanya menjadi udzur shalat berjamaah dan shalat Jumat. Artinya, virus corona menjadi alasan bagi masyarakat muslim di zona kuning itu untuk tidak melaksanakan shalat Jumat dan shalat berjamaah dan tidak sampai menjadi larangan bolehnya mereka melakukan dua aktivitas tersebut.

Sebab, menurut para fuqaha, salah satu yang bisa dijadikan alasan (udzur) untuk tidak melaksanaan shalat jumat dan jamaah di masjid adalah adanya kekhawatiran (khauf) yang meliputi tiga hal, yaitu kekhawatiran akan keselamatan jiwa, tercederainya kehormatan, dan kekhawatiran akan hilangnya harta benda.

Memerhatikan demikian berbahayanya virus corona ini, maka umat Islam yang berada di zona kuning pun tetap dianjurkan mengambil dispensasi (rukhshah) dalam syari’at Islam, yaitu memilih melaksanakan shalat zuhur di rumah masing-masing daripada shalat Jumat di masjid.

  1. Edaran PP Muhammadiyah

Dalam Surat Edaran yang dikeluarkan oleh PP Muhammadiyah, terdapat dua nomor yang berhubungan dengan tema ini.

Pertama, poin nomor 7. Dalam kondisi tersebarnya Covid-19 seperti sekarang dan yang mengharuskan perenggangan sosial (at-tabaʻud al-ijtimaʻi / social distancing), shalat lima waktu dilaksanakan di rumah masing-masing dan tidak perlu dilaksanakan di masjid, musala, dan sejenisnya yang melibatkan konsentrasi banyak orang, agar terhindar dari mudarat penularan Covid-19.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ”. رواه مالك وأحمد واللفظ له.

“Tidak ada kemudaratan dan pemudaratan” (HR. Malik dan Aḥmad).

Nabi saw juga menegaskan bahwa orang boleh tidak mendatangi shalat jamaah, meskipun sangat dianjurkan, apabila ada udzur berupa keadaan menakutkan dan adanya penyakit.

عن ابن عباس قال: قال رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “مَن سمعَ المُناديَ فلم يمنعْه من اتباعِه عُذر -قالوا: وما العُذرُ؟ قال: خوف أو مرضٌ- لم تُقبَل منه الصَّلاة التي صلَّى”

Dari Ibnu ‘Abbas (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa mendengar azan, lalu tidak ada udzur baginya untuk menghadiri jamaah –para Sahabat bertanya: Apa udzurnya? Beliau menjawab: keadaan takut dan penyakit –, maka tidak diterima shalat yang dilakukannya. (HR. Abu Dawud).

Selain itu agama dijalankan dengan mudah dan sederhana, tidak boleh secara memberat-beratkan sesuai dengan tuntunan Nabi saw,

عن أَبَي بَرْزَةَ قَالَ: َقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:” عَلَيْكُمْ هَدْيًا قَاصِدًا “، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ،؛ فَإِنَّهُ مَنْ يُشَادَّ الدِّينَ يَغْلِبْهُ ”

Dari Abu Barzah al-Aslami (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Hendaklah kamu menjalankan takarub kepada Allah secara sederhana – beliau mengulanginya tiga kali– karena barangsiapa mempersulit agama, ia akan dipersulitnya (HR. Aḥmad).

Nabi saw juga menuntunkan bahwa perintah agama dijalankan sesuai kesanggupan masing-masing,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: « …. ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ» متفق عليه.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw (diriwayatkan bahwa) beliau bersabda: … maka apabila aku melarang kamu dari sesuatu, tinggalkanlah, dan apabila aku perintahkan kamu melakukan sesuatu, kerjakan sesuai kemampuanmu (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua nomor 10.  Shalat Jumat diganti dengan shalat zuhur (empat rakaat) di rumah masing-masing. Hal ini didasarkan kepada keadaan masyaqqah dan juga didasarkan kepada ketentuan dalam hadits berikut bahwa shalat Jumat adalah kewajiban pokok, dan mafhumnya shalat zuhur adalah kewajiban pengganti. Ini juga adalah kaul jadid Imam Asy-Syāfiʻi. Dalam kaidah fikih dinyatakan,

إذا تعذر الأصل يصار إلى البدل

Apabila yang pokok tidak dapat dilaksanakan, maka beralih kepada pengganti. (Syarḥ Manzumat Al-Qawaʻid Al-Fiqhiyyah)

Berdasarkan kaidah ini, karena shalat Jumat sebagai kewajiban pokok tidak dapat dilakukan, maka beralih kepada kewajiban pengganti, yaitu shalat zuhur empat rakaat yang dikerjakan di rumah masing-masing. Peralihan kepada kewajiban pengganti ini (shalat zuhur) dapat didasarkan kepada mafhum aula (argumentum a minore ad maius) dari hadits berikut. Mafhum aula (argumentum a minore ad maius) menyatakan bahwa apabila suatu hal (masyaqqah) yang lebih ringan dapat membenarkan tidak melakukan suatu yang wajib, maka hal (masyaqqah) yang lebih berat tentu lebih dapat lagi membenarkan tidak melakukan yang wajib itu. Hadits dimaksud adalah,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ: ” إِذَا قُلْتَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَلَا تَقُلْ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قُلْ: صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ “، قَالَ: فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ، فَقَالَ: «أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا، قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي، إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ»

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas (diriwayatkan) bahwa ia mengatakan kepada muazinnya di suatu hari yang penuh hujan: Jika engkau sudah mengumandangkan asyhadu an la ilaha illallah (aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah), asyhadu anna Muḥammadan Rasulullah (aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah), maka jangan ucapkan hayya ‘alash shalah (kemarilah untuk shalat), namun ucapkan shallu fi buyutikum (shalatlah kalian di rumah masing-masing).

Rawi melanjutkan: Seolah-olah orang-orang pada waktu itu mengingkari hal tersebut. Lalu Ibnu ‘Abbas mengatakan: Apakah kalian merasa aneh dengan ini? Sesungguhnya hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah saw). Sesungguhnya shalat Jumat itu adalah hal yang wajib (‘azmah), namun aku tidak suka memberatkan kepada kalian sehingga kalian berjalan di jalan becek dan jalan licin (HR. Muslim)

Dalam hadits ini suatu hal (masyaqqah) yang kecil, yaitu hujan yang tidak menimbulkan bahaya dan mudarat, hanya menyebabkan sedikit ketidaknyamanan, dapat menjadi alasan untuk tidak menghadiri shalat Jumat, maka keadaan (masyaqqah) yang jauh lebih berat, seperti penyebaran Covid-19 sekarang yang sangat berbahaya, tentu lebih dapat lagi untuk menjadi alasan tidak menghadiri shalat Jumat. Bahkan penyelenggaraan shalat Jumat ditiadakan dalam rangka  menghindari bahaya tersebut. Menghindari mudarat lebih diutamakan dari mendatangkan maslahat, sesuai dengan kaidah,

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Menghindari kemudaratan lebih diutamakan dari mendatangkan maslahat (Al-Asybah wa An-Naza’ir oleh As-Sayuthi, h. 87; oleh Ibn Nujaim, h. 78)

Penggantian shalat Jumat menjadi shalat zuhur bagi orang yang udzur juga didasarkan pada hadits panjang yang menceritakan tentang perjalanan haji wada’ Nabi. Ketika itu Nabi berada di Arafah pada hari Jumat, dan beliau tidak melaksanakan shalat Jumat, tetapi menjamak shalat zuhur dengan asar sebagaimana kutipan hadits berikut,

ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ، وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Kemudian Nabi bangkit lalu melaksanakan shalat zuhur, dan bangkit kembali untuk melaksanakan shalat asar. Di antara dua shalat itu, Nabi tidak melaksanakan shalat yang lain (Lihat selengkapnya pada HR. Muslim no. 1218)

Fatwa-Fatwa Ulama

Lajnah Da’imah menuliskan fatwa, “Barangsiapa yang berkewajiban shalat Jumat dan ia tinggalkan dengan sengaja tanpa udzur yang dibenarkan agama, maka ia telah melakukan salah satu dosa besar”.

Makna dari Fatwa tersebut adalah kebolehan dan tidak berdosa tatkala meninggalkan shalat Jumat, sekalipun Fatwa tersebut tidak menjelaskan bentuk-bentuk udzur.

Syaikh Bin Baz menyampaikan fatwa, “Dan siapapun yang tidak menghadiri Jumat tanpa udzur syar’i – seperti sakit dan rasa takut – maka dia diancam api neraka”.

Dari fatwa dan arahan MUI, PB NU dan PP Muhammadiyah, serta fatwa Lajnah dan fatwa Bin Baz terdapat kesamaan, yaitu kebolehan meninggalkan shalat Jumat apabila terdapat udzur. Dan Covid-19 yang penularannya dengan cepat merupakan udzur, maka shalat Jumat diganti dengan shalat zuhur di rumah. Dan tentunya itu dilaksanakan sampai udzurnya hilang sekalipun lebih dari tiga kali Jumat.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

 

Referensi:

  1. Kitab Shahih Muslim
  2. Musnad Ahmad dengan Tahqiq Syaikh Syu’aib Al-Arnauth
  3. Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz
  4. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah
  5. Edaran PP Muhammadiyah No 02/EDR/I.0/E/2020 tentang Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19, dalam : muhammadiyah.or.id
  6. LBM PBNU Keluarkan Larangan Shalat Jumat bagi Masyarakat Muslim di Zona Merah Covid-19, dalam : nu.or.id
  7. Fatwa Nomor 14  Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19, dalam : mui.or.id

 

 

 

 

ruangkeluarga

Tinggalkan Balasan