Kembali
Uncategorized

Bulan Ramadan Bukan Tradisi Kuliner

@ummurochimah

“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.”

(Q.S. Asy Syu’ara : 150-152)

Sedang ramai di media sosial dan menjadi trending topik mengenai persaingan berburu takjil antara umat muslim dengan non muslim. Di satu sisi ini menjadi berita gembira, bahwa ternyata ramadan bukan saja membawa kegembiraan kepada kaum muslimin, namun juga bagi mereka yang tidak wajib menjalankan puasa ramadan. Namun, di sisi lain akan terlihat kesan bahwa bulan ramadan menjadi tradisi kuliner yang bisa mengakibatkan munculnya pembengkakan anggaran belanja.

Salah satu hikmah ramadan, seperti yang dikatakan oleh Ibnul Qayim al Jauziyah adalah mengurangi biaya belanja keluarga. Namun kenyataan yang sering dijumpai di masyarakat saat ini adalah selama ramadan justru terjadi pembengkakan anggaran belanja. Mengapa ini bisa terjadi?

Hal ini bisa disebabkan karena masih adanya masyarakat yang  menganggap ramadan sebagai tradisi, menjadikan ramadan sebagai bulan makan, berbagai menu yang tidak biasa hadir di bulan lain, menjadi seakan-akan ‘wajib’ hadir saat ramadan, misalnya aneka takjil; kolak, bubur biji salak, bubur mutiara, sop buah hingga makanan berat seperti nasi kebuli, dan sebagainya. Sehingga mau tidak mau akan menambah biaya belanja keluarga, sampai kepada tingkat pemborosan.

Tentu bukan kesalahan ulama ketika menyebutkan bahwa ramadan adalah bulan penghematan, tapi pemahaman dan pengetahuan kita yang masih terbatas. Maka, perlu kiranya untuk terus belajar menyelami samudra keilmuan Islam.

Dalam Islam dikenal konsep israf yang berarti melampaui batas atau berlebih-lebihan. Disebutkan dalam kamus Lisan Al-Arab bahwa kata ‘saraf’ dan ‘israf’ memiliki arti melampaui batas tujuan. Kemudian, istilah israf sendiri digunakan untuk merujuk pada perilaku berlebih-lebihan, termasuk perilaku boros.

Israf atau pemborosan tergolong sebagai perbuatan yang tidak terpuji, sebagaimana Allah Ta’ala katakan dalam al Quran surat Asy-Syu’ara ayat 150-152, yang artinya;

“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan.”

Tentu menjadi sebuah ironi, ibadah puasa di bulan ramadan yang seharusnya mendidik diri dan keluarga untuk bisa mengendalikan nafsu termasuk nafsu belanja, justru membuat semakin banyak pengeluaran.

Oleh karena itu, perlu rasanya kita tata ulang kembali pola pikir tentang puasa ramadan agar tujuan utama puasa dapat tercapai. Keluarga perlu disamakan pandangannya tentang bulan ramadan. Jangan sampai pemahamannya hanya sebatas bahwa sahur itu persiapan untuk lapar di siang hari, sehingga menyiapkan sahur seolah-olah tidak akan bertemu makanan selama-lamanya. Sedangkan berbuka puasa adalah momen balas dendam, seolah seperti orang yang tidak ketemu makanan dalam waktu yang lama, semua makanan ingin dimakan di satu waktu.

Kebaikan-kebaikan konsep berpuasa dan keberkahan yang ada pada bulan ramadan hendaknya terinternalisasi dalam setiap diri dan keluarga muslim, sehingga menjalani ibadah puasa ramadan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasululllah dan para ulama terdahulu. 

Wallahu’alam

Jakarta, 8 Ramadan 1445 H

Ditulis oleh Ummu Rochimah

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.