Kembali
Dunia Penulis

Di Balik Penulisan Buku Happy Mama

.

Oleh : Leni Cahya Pertiwi

“Saya sempat kehilangan ide dan kata-kata. Saya merasa buntu, bahkan nyaris akan mengganti outline dengan tema lainnya” — Leni Cahya Pertiwi

.

Buku saya Happy Mama menempuh perjalanan cukup panjang dan berliku hingga akhirnya bisa sampai ke tangan pembaca.

Bermula dari keisengan saya bergabung di kelas menulis online (KMO) kelompok non fiksi batch 30, yang akhirnya membawa saya ke kelas emak-emak punya karya (EEPK). Di kelas EEPK inilah saya (kami) di genjot habis-habisan untuk menghasilkan sebuah karya berupa buku solo, bukan hanya sekedar antologi.

Setiap hari postingan pembakar semangat selalu hadir di kelas. Kami menyebutnya kuliah subuh bergizi. Ya, karena postingan ini akan mampir di grup sebelum atau sesudah sholat subuh. Jika Pak Cah telat memposting tulisan, akan ada anggota kelas yang bertanya-tanya ‘kenapa pagi ini kita belum dapat sarapan ya?’.

Tulisan Pak Cah selalu kami nantikan karena sangat sering menjawab tanya di hati kami , walaupun kami belum atau tidak menanyakannya. Beliau seolah tahu kondisi kami.

Mungkin karena pengalamannya yang cukup panjang dalam dunia kepenulisan, beliau jadi paham betul apa yang kami rasakan. Kegelisahan kami akan mutu tulisan yang meragukan. Pertanyaan-Pertanyaan dalam hati ‘pantaskah tulisan saya dibaca orang lain?’. Bahkan sampai pada tingkat ingin menghentikan tulisan yang sudah separuh jadi.

Maka, untuk mengembalikan kepercayaan diri kami, Pak Cah biasanya membuat sebuah postingan yang dengan telak menjadikan tulisan itu ‘aku banget’.  Semangat yang sempat kendor akan kembali terbakar. Ribuan karakter akan kembali memenuhi file naskah tulisan.

Kami selalu diingatkan, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak menulis. Jika kami merasa terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tidak sempat meluangkan waktu untuk menulis, maka Pak Cah akan memposting tulisan tentang seorang penulis yang juga sangat sibuk, namun telah menghasilkan banyak buku di sela-sela kesibukannya.

Bahkan usia tua juga bukan alasan untuk menghasilkan sebuah buku. Nenek Toyo Shibata menulis di usia 98 tahun, dan pada usianya yang ke 100 tahun buku perdananya menjadi best seller di Jepang. Jadi, apa alasan untuk tidak menulis? Tidak ada!

Terus, apakah dengan begitu perjalanan menghasilkan sebuah buku akan lancar seperti jalan tol? Jawabannya tergantung pribadi masing-masing orang. Di kelas kami Bu Ida Kusdiati, beliau masuk ke kelas dengan membawa bekal yang cukup, maka tak butuh waktu lama naskah beliau langsung naik ke penerbit.

Bagaimana dengan saya? Nah, ini dia! Dalam komitmen aksi yang saya buat pada tanggal 21 Juli 2020, saya berjanji akan menulis minimal 2000 karakter setiap hari. Waktu yang saya alokasikan untuk menulis adalah selama 2 jam perhari yakni dari jam Sembilan hingga jam sebelas malam.

Saya memang termasuk golongan burung hantu, yang merasa nyaman menulis di malam hari, di tengah keheningan. Target normalnya, saya akan menyelesaikan penulisan naskah buku pada tanggal 30 oktober 2020 atau selama seratus hari.

Semua peserta EEPK memang ditargetkan bisa menyelesaikan sebuah naskah untuk dijadikan buku dalam waktu seratus hari. Saya ingin melampaui target itu. Saya bertekad akan menyelesaikannya dalam waktu sesingkat yang saya mampu. Bagaimana caranya? Alokasi resmi waktu menulis saya adalah jam sembilan hingga sebelas malam. Pandemi Covid 19 memberikan saya berkahnya.

Dengan waktu yang lebih banyak di rumah otomatis saya punya waktu lebih banyak untuk menulis. Usai memberikan tugas kepada siswa, saya memanfaatkan waktu pagi hari dengan menulis. Menulis, menulis, dan menulis. Karena rumus menjadi seorang penulis ada tiga. Yang pertama anda menulis, yang kedua anda menulis dan yang ketiga anda menulis. Hehehhehe.

Naskah Happy Mama berhasil saya selesaikan dalam kurun waktu sekitar 40 hari. Tidak lebih. Tanggal 31 Agustus naskahnya sampai ditangan editor, setelah sebelumnya saya coba edit sendiri. Bagi saya yang baru belajar menulis, waktu 40 hari adalah capaian yang luar biasa.

Terus, tema apa yang bisa diangkat jadi tulisan? Bebas! Tidak ada ketentuan kita harus menuliskan tema tertentu. Anda mau menulis tentang keluarga? Silakan. Bagaimana jika tulisan tentang hobi tertentu? Tidak masalah. Kalau tentang pendidikan? Kenapa tidak, itu tema yang sangat universal.

Tulis apa saja yang paling mudah bagi anda, itu saran paling jitu dari mentor kami Pak Cah. Sesuatu yang dekat dengan diri kita, maka akan mudah bagi kita untuk mengisahkannya. Seorang guru tentu akan sangat mudah bercerita tentang pahit manis dan lika liku dalam mendidik anak negeri ini. Demikian juga seorang praktisi kesehatan, tulisannya akan mengalir lancar seperti air mengalir ketika berbicara tentang dunia kesehatan.

Lalu, kenapa saya memilih menulis tentang ibu saya? Ada kisah yang cukup panjang kenapa akhirnya saya memutuskan memilih menulis tentang ibu. Akan saya perpendek jawabannya. Sebagai pemula, saya ingin menuliskan sesuatu yang mudah, yang tidak terlalu membebani saya. Keseharian saya dan orangtua atau anak adalah pilihannya.

Menulis tentang anak bisa saya lakukan lain waktu (saya sudah janji pada anak bujang akan menuliskan buku tentangnya dan kakaknya). Saya ingin memberikan kado terindah untuk ibu saya, jika tidak sekarang kapan lagi?

Tidak ada jaminan beliau masih bersama saya di dunia ini tahun depan, demikian juga tidak ada jaminan saya masih ada bersama beliau untuk menuliskan kisahnya tahun depan. Saya bulatkan tekad, kado saya harus sudah menjadi buku sebelum tahun berganti menjadi 2021.

Meskipun saya menuliskan secuil kisah ibu saya, bukan berarti semua perjalanan menulis akan lancar dan baik-baik saja. Tidak, sangat banyak kendala yang saya hadapi dalam menuliskan buku ini. Mulai dari kendala teknis seperti netbook yang saya gunakan sangat tidak mendukung.

Nyaris setiap mulai membuka netbook saya dibuat kesal, proses warm up nya sangat lama. Kemudian proses penyimpanan data juga mengalami masalah yang sama. Jangan ditanya jika saya mencari referensi di internet. Lelet! Lalu apakah saya akan menyerah?? Oho, bukan saya kalau hanya gegara netbook lantas memutuskan berhenti menulis.

Saya beralih menulis di ponsel. Saya membuat sebuah grup whatsup yang anggotanya hanya saya sendiri. Tulisan yang saya ketik, saya share di grup. Nanti jika sudah cukup banyak baru saya pindahkan ke netbook (kali ini saya meminjam netbook suami). 

Kendala lain yang saya hadapi adalah saya orang yang moody. Adakalanya saya sangat bersemangat menulis. Dari bangun tidur hingga tengah malam saya tidak beranjak dari depan netbook kecuali untuk salat, makan dan buang air.

Di lain waktu berhari-hari saya tidak menuliskan satu kalimat pun untuk naskah buku saya. Saya kehilangan ide dan kata-kata. Saya merasa buntu, bahkan nyaris akan mengganti outline dengan tema lainnya.

Kemudian anak-anak yang biasanya membantu saya membereskan pekerjaan rumah harus kembali ke asrama. Kesibukan pun semakin bertambah. Selain kelas menulis online, saya mengikuti berbagai kelas belajar lainnya.

Ada kelas belajar bahasa arab dimana selain sebagai siswa, saya juga korektor, ada halaqoh-halaqoh ilmu, dan kelas parenting. Materi disajikan  berupa video atau audio dan ada evaluasi atau ulangan yang harus dikerjakan. Semuanya tentu sangat menyita waktu saya. Dan itu membuat saya beralasan tidak punya waktu untuk menulis.

Namun karena bergabung dalam sebuah komunitas, dimana hal-hal positif selalu ditebarkan. Semangat  dikobarkan. Jalan keluar setiap masalah dicarikan. Maka semua alasan jadi gugur. Saya diingatkan bahwa tulisan saya menunggu untuk dibukukan.

Kado saya yang saya janjikan untuk ibu menunggu sentuhan tangan dan hati saya. Suami dan anak-anak berharap dukungan mereka tidak sia-sia. Saya semakin menguatkan tekad untuk menyelesaikan apa yang telah saya mulai.

“Fokus Hingga Selesai” kalimat yang ditulis Pak Cah dalam artikel berjudul Selesaikan Apa yang Sudah Anda Mulai di laman Lockdown 2020 itu merupakan salah satu poin yang menjadi cambuk bagi saya untuk segera menyelesaikan naskah.

Alhamdulillah, atas izin Allah, kemudian saya dibimbing oleh mentor yang andal, teman-teman dan keluarga yang sangat mendukung, akhirnya naskah Happy Mama berhasil saya selesaikan dalam kurun waktu sekitar 40 hari. Tidak lebih.

Tanggal 31 Agustus naskahnya sampai ditangan editor, setelah sebelumnya saya coba edit sendiri. Bagi saya yang baru belajar menulis, waktu 40 hari adalah capaian yang luar biasa.

Karena itu saya mengajak teman-teman yang sangat ingin membukukan tulisannya, atau yang ingin belajar menulis dan membukukan tulisannya, untuk bergabung di sebuah komunitas menulis. Silakan bergabung di kelas apa pun yang anda sukai. Namun, saya sangat merekomendasaikan kelas Emak-Emak Punya Karya untuk para emak atau calon emak. Dan kelas Bapak-Bapak Punya Karya untuk bapak-bapak dan calon bapak.

Kelas dibuat sekondusif mungkin agar semangat menulis senantiasa terjaga. Materi diberikan secara ringan dan mudah dipahami. Bimbingan sampai buku terbit, hingga seluruh detilnya akan dibahas tuntas.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.