DIKUNJUNGI MURABBI

DIKUNJUNGI MURABBI

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Hari ini, Senin 12 Agustus 2019, saya berbahagia sekali. Bukan saja karena merayakan hari pertama Tasyrik, namun mendapatkan kunjungan istimewa dari salah seorang pembina spiritual saya. Murabbi, demikian saya biasa memanggilnya. Ya, salah seorang Murabbi, yang mengenalkan saya kepada jalan dakwah, duapuluhan tahun lalu, pada kurun waktu 1988 – 2001.

Ustadz Aus Hidayat Nur —Kang Aus, begitu beliau akrab disapa. Tidak dinyana beliau jauh-jauh dari Jakarta hadir ke rumah saya, bersama istri beliau. Kemaren beliau mengirim pesan chat melalui WA, menanyakan apakah saya tengah berada di Jogja. Setelah mendapat kepastian bahwa saya di Jogja, beliau menyampaikan ada yang ingin berkunjung ke rumah saya.

Saya sempat menduga, itu mungkin putra putri beliau. Karena sudah lama beliau menyatakan, putra putrinya ingin silaturahmi ke rumah saya. Tapi toh saya tidak bertanya kepada beliau, siapa yang ingin berkunjung ke rumah saya tersebut.

Ternyata yang datang beliau bersama istri beliau. Subhanallah, saya merasa sangat tersanjung mendapat kunjungan yang tak terduga ini. Dikunjungi Murabbi, sungguh sangat membahagiakan dan membanggakan hati.

Sangat banyak hal yang saya dapatkan dari kunjungan beliau sekitar dua jam hari ini tadi. Saya lebih banyak mendengar dan bertanya kepada beliau, mumpung bertemu dan dalam suasana yang santai dan tidak formal. Sejarah dakwah, itu pengetahuan yang paling mahal harganya. Karena sangat banyak hal tak tertulis dan tak tersampaikan di forum-forum apapun.

Sebagai salah seorang aktivis dakwah senior, beliau memiliki peran yang amat sangat strategis untuk menyambungkan antara generasi terdahulu dalam dakwah, dengan generasi saat ini. Ada sangat banyak hal yang harus dimengerti oleh para aktivis dakwah, bahwa semua pencapaian dakwah yang dilihat hari ini, tak pernah bisa dilepaskan dari peran para pendahulu.

Sebagian dari para pendahulu itu telah berpulang. Tugas mereka di dunia telah selesai. Maka para pendahulu dakwah yang masih hidup saat ini, adalah sumber sejarah, karena mereka pelaku utama. Dari merekalah sejarah dakwah bisa kita dapatkan dan kita dengarkan.

Kisah-kisah membuka lahan dakwah di masa lalu, sungguh menggugah. Sangat banyak hal yang tak akan pernah terbayang pada generasi dakwah saat ini. Heroik, penuh pengorbanan, sekaligus penuh keajaiban. Saya menjadi lebih mengerti banyak sosok tokoh terkenal di dunia dakwah hari ini, yang dulunya bukan siapa-siapa.

Dan sosok yang mengunjungi rumah saya hari ini, adalah salah seorang pelaku dakwah sejak masa awal terdahulu, dan tetap istiqamah hingga di masa kini. Dengan lancar dan penuh semangat beliau bercerita kisah-kisah perjuangan di masa lalu. Untold story, tak tertulis, tak terdokumentasi.

Saya tersentak medengar cerita demi cerita tersebut. Jika kita merasa besar saat ini, hendaknya malu dan mengevaluasi diri. Sungguh, peran para pelaku dakwah terdahulu, luar biasa besarnya. Di masa sulit, di masa penuh tantangan, di masa penuh keterbatasan, namun dakwah terus bergerak tak mengenal berhenti.

Mungkin mereka tidak terkenal. Bahkan di lingkungan aktivis dakwah saat ini, nama mereka pun tak dikenali. Mereka bergerak di zaman yang masih sangat sunyi. Tak ada publikasi. Tak ada internet dan gadget. Tak ada fesbuk, instagram dan youtube.

Mereka pekerja dakwah yang perannya tak lagi dikenali.

Saya ingat salah satu petuah Ustadz Hilmi Aminuddin suatu hari. “Apabila pekerjaan menggali pondasi sudah selesai, hadirlah petugas yang mengerjakan pembangunan hingga menjadi gedung menjulang tingi. Para penggali pondasi ini tak akan diingat lagi”.

Setiap zaman punya pelakunya —likulli marhalatin rijaluha. Ternyata Allah pilihkan tipe generasi awal dakwah, orang-orang kuat, yang tak mengharap pujian dan balasan.

Maka peran pelaku dakwah saat ini adalah menjalankan amanah dakwah sesuai tahapnya, tanpa melupakan peran para penggali pondasi yang bekerja dalam sunyi. Tanpa peran mereka di masa lalu, bangunan dakwah saat ini tak akan kokoh berdiri.

 

 

Yogyakarta, 11 Dzulhijah 1440 H

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan