Dilema Suami, Antara Ibu dan Istri

Dilema Suami, Antara Ibu dan Istri

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Sering muncul dilema pada beberapa kalangan suami, mana yang lebih diutamakan, ibu atau istri? Sebagian suami mengatakan, lebih utama ibu, karena yang paling berhak atas laki-laki adalah ibunya. Benarkah yang paling berhak atas laki-laki adalah ibunya? Mari kita lihat duduk perkaranya.

Pemahaman ini rata-rata didasarkan pada hadits Nabi saw,

أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلانَ، قَالَ: نا أَبُو أَحْمَدَ، قَالَ: نا مِسْعَرٌ، عَنْ أَبِي عُتْبَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الْمَرْأَةِ ؟ قَالَ: ” زَوْجُهَا “، قُلْتُ: فَأَيُّ النَّاسِ أَعْظَمُ حَقًّا عَلَى الرَّجُلِ؟ قَالَ: ” أُمُّهُ “

Telah mengkhabarkan kepada kami Mahmud bin Ghailan, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ahmad, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Mis’ar, dari Abu ‘Utbah, dari ‘Aisyah ra, ia berkata, aku bertanya kepada Nabi saw, “Siapakah manusia yang paling berhak atas seorang istri?” Beliau bersabda, “Suaminya.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapakah manusia yang paling berhak atas seorang laki-laki?” Beliau bersabda, “Ibunya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 9099. Diriwayatkan pula oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/144, 4/171, Ibnu Abid Dunya dalam Al-‘Iyal no. 525, Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani dalam Al-Fawa’id 1/52.

Derajat hadits ini diperselisihkan para ulama. Al-Mundziri menyatakan, sanad hadits ini baik. Al-Hakim menyatakan derajat hadits ini hasan. Al-Bushairi dalam kitab Ithaful Khiyarah nomer 3205 menyatakan hadits ini hasan.

Al Hafizh Ibnu Hajar menukil hadits ini namun tidak memberikan komentar.

Namun As-Sayuthi dan Daruquthni menyatakan hadits ini dhaif. Anis As-Sary menyatakan hadits ini dhaif. Syaikh Nashiruddin Al-Albani juga menyatakan hadits ini dhaif dalam Dhaifut Targhib nomer 1212.

Mari Kita Lihat Persoalan Aplikasi

Bagi sebagian kalangan, hadits dhaif seperti di atas tidak bisa digunakan untuk berhujah. Apalagi telah dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al Alabani. Namun, terlepas dari derajat hadits apakah hasan atau dhaif, ada persoalan aplikasi yang perlu diluruskan. Dalam konteks “yang paling berhak atas istri adalah suami”, hal ini didukung oleh banyak hadits sahih, maka tidak ada masalah dalam pemahaman ini. Namun, memahami “yang paling berhak atas suami adalah ibunya”, bisa memunculkan persoalan dalam aplikasi, jika tidak tepat dalam memahami. Harus sangat berhati-hati meletakkannya.

Yang dikhawatirkan adalah terjadi kondisi yang tidak nyaman dalam kehidupan berumah tangga, apabila mengaplikasikan hadits tersebut secara tidak tepat. Kondisi tidak nyaman akan terjadi pada istri, apabila suami berperilaku mendikhotomikan atau mempertentangkan ibu dengan istri. Misalnya, contoh kejadian berikut ini.

  1. Seorang suami lebih mementingkan ibu kandungnya, hingga melalaikan kewajiban terhadap istri
  2. Seorang suami lebih mengutamakan memberikan kecukupan nafkah kepada ibu, dan kurang peduli dengan istri
  3. Seorang suami selalu membela ibu dalam setiap perbedaan pendapat antara ibu dengan istri
  4. Seorang suami selalu membenarkan tindakan ibu dan menyalahkan istri
  5. Seorang suami lebih merasa bertanggung jawab menjaga dan membantu ibu dibanding menjaga dan membantu istri

Pada contoh-contoh tersebut, pemahaman hadits yang tidak tepat bisa digunakan sebagai “senjata pamungkas” bagi laki-laki yang ingin menghindari dari tanggung jawab terhadap sang istri. Misalnya, seorang suami yang selalu mengutamakan mengurus ibu kandung, dengan mentelantarkan sang istri. Ia lebih mengutamakan pelayanan kepada ibu, sementara ia tidak mempedulikan kebutuhan istri. Ini adalah contoh mendikhotomikan atau mempertentangkan.

Ada suami yang ingin poligami, sang istri menentang dan sang ibu mengizinkan. Lalu si suami menggunakan hadits di atas untuk membenarkan sikapnya, karena laki-laki adalah milik ibunya. Padahal yang akan terkena ‘dampak’ langsung dari poligami adalah sang istri. Bagaimana dengan mudah laki-laki ini mengabaikan istri, tidak mendengar pendapat istri, lantaran merasa dirinya milik sang ibu? Inilah contoh mendikhotomikan dan mempertentangkan itu.

Mencukupi Kebutuhan Istri

Laki-laki adalah penanggung jawab keluarga, yang berarti harus bertanggung jawab penuh kepada istri dan anak-anaknya. Jika sampai istri dan anak-anak terlantar karena tidak diurus suami, maka suami berdosa. Sangat banyak dalil untuk menunjukkan kewajiban suami dalam mengurus istri dan anak-anak.

Imam Asy-Syaukani berkata, “Dalam hadits terdapat dalil tentang wajibnya suami memberi makan kepada istrinya dengan apa yang ia makan dan memberi pakaian kepada istrinya dengan apa yang ia pakai, tidak boleh memukulnya dan tidak pula menjelekkannya.” (Nailul Authar, 6/376)

Karena nafkah lahir berupa materi menjadi kewajiban suami, maka istri diperbolehkan mengambil harta suami untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarga apabila suami tidak memberikan kewajiban tersebut kepada dirinya. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata bahwa Hindun binti ‘Utbah, istri dari Abu Sufyan, telah datang berjumpa Rasulullah saw, lalu berkata:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu orang yang sangat pelit. Ia tidak memberi kepadaku nafkah yang mencukupi dan mencukupi anak-anakku sehingga membuatku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah berdosa jika aku melakukan seperti itu?”

Nabi Saw bersabda:

خُذِى مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِى بَنِيكِ

“Ambillah dari hartanya apa yang mencukupi anak-anakmu dengan cara yang patut.” (HR. Bukhari, no. 5364 dan Muslim, no. 1714).

Dalam kondisi suami hanya memiliki dana yang sangat terbatas, siapakah yang seharusnya didahulukan? Rasulullah saw telah bersabda,

أَفْضَلُ دِيْنَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ،

وَدِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Dinar (rupiah) yang paling utama yang dibelanjakan oleh seseorang adalah dinar yang dinafkahkan untuk keluarganya, dan dinar yang dibelanjakan oleh seseorang untuk tunggangannya dalam jihad di jalan Allah ‘azza wa jalla dan dinar yang diinfakkan oleh seseorang untuk teman-temannya di jalan Allah.” (HR. Muslim no. 994)

Dari hadits di atas, dapat dipahami bahwa kewajiban suami adalah memberikan nafkah pertama kali kepada keluarganya —yaitu istri dan anak-anaknya. Jika suami memiliki harta yang terbatas, maka yang harus diutamakan adalah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Setelah keluarga tercukupi kebutuhan pokoknya, baru bisa digunakan untuk berinfak dan membantu hal-hal lainnya.

Memuliakan Ibu dan Istri

Di sisi lain, sebagai anak, suami wajib birrul walidain, menghormati dan berbakti kepada kedua orangtua. Namun, istri juga punya kewajiban birrul walidain, menghormati dan berbakti kepada kedua orangtua. Maka jangan pernah mengkonfrontir antara ibu dengan istri. Jangan mempertentangkan, jangan mendikhotomikan. Berpikirlah untuk menunaikan hak-hak dan kewajiban secara tepat.

Kadang, saking sayangnya kepada istri dan anak-anak, seorang lelaki mengabaikan dan mentelantarkan ibu kandungnya. Ini tidak boleh terjadi. Kewajiban memuliakan, mencintai, menghormati kedua orangtua berlaku seumur hidup mereka dan seumur hidup kita. Suami harus pandai membagi perhatian, waktu dan resources untuk bisa adil dalam mencintai, memuliakan dan mengurus ibu serta istri. Pandai-pandailah membagi perhatian, waktu dan resources untuk bisa adil dalam menjalin hubungan baik dengan keluarga besar kedua belah pihak —dari pihak suami dan istri.

Maka, bagi para suami, bimbing dan ajaklah istri untuk memuliakan ibu anda. Juga, bimbing dan ajaklah istri untuk memuliakan ibunya. Demikian pula, bimbing dan ajaklah istri untuk memuliakan ayah anda, serta ayah istri anda. Jangan mempertentangkan kedua keluarga besar —keluarga besar anda dan keluarga besar istri anda— jika ingin keluarga anda bahagia.

Jangan biarkan istri anda berkonflik dengan ibu anda. Jangan biarkan ibu anda membenci istri anda. Sebagai suami, anda wajib mencintai dan memuliakan keduanya. Cintai dan muliakan ibu anda dengan sepenuh jiwa, bukan separuhnya. Cintai dan muliakan istri anda dengan sepenuh jiwa, bukan separuhnya.

 

 

Referensi:

Terimakasih ilmu dan penilaian derajat haditsnya, ustadz KH. Ghozali Mukri, ustadz KH. Khudori, Lc dan ustadz KH. Ma’ruf Amari, Lc.

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan