EMPAT LEVEL BERSUCI

EMPAT LEVEL BERSUCI

Kuliah Ramadhan Hari Ketiga

Oleh : Cahyadi Takariawan, Dewan Pembina LazisQu

 

 

Penyucian jiwa adalah syarat kebahagiaan manusia. Tidak ada kebahagiaan, jika melakukan tindakan yang mengotori jiwa. Kebahagiaan hanya akan diraih pada mereka yang senantiasa menyucikan jiwa. Allah telah berfirman:

“Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang justru mengotorinya.” (QS. Asy Syams: 9 – 10).

Dalam kehidupan keseharian, kita menjumpai perilaku manusia zaman modern yang sangat peduli dengan kesucian dan kebersihan badan serta pakaian. Mereka sedemikian peduli dan memiliki perhatian yang sangat detail tentang kebersihan fisik. Ada sangat banyak jenis sabun mereka gunakan. Ada sabun yang berbeda untuk anggota tubuh yang berbeda. Untuk rambut saja, pembersihnya beraneka rupa. Apalagi untuk wajah, sangat detail perawatannya.

Sayangnya, banyak yang tidak diimbangi dengan perhatian pada sisi kesucian dan kebersihan jiwa. Mereka terfokus hanya pada penyucian badan, pakaian dan penampilan. Padahal, penyucian badan adalah level satu dari thaharah atau bersuci.

Ibnu Qudamah al-Maqdisy dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin membagi thaharah dalam 4 tingkatan:

Level satu, menyucikan anggota badan dari hadats, najis dan kotoran.

Level dua, menyucikan anggota badan dari dosa dan kesalahan-kesalahan.

Level tiga, menyucikan hati dari perilaku yang buruk dan tercela yang dibenci Allah.

Level empat, menyucikan lintasan pemikiran dari segala sesuatu kecuali hanya Allah, dan inilah level tertinggi.

Syaikh Mu’min Al Haddad, “Jaddid Shalataka : Al Khusyu’ fish Shalah” menuliskan, “Banyak manusia zaman now yang tidak memahami tingkatan-tingkatan bersuci ini. Mereka hanya mengenal bersuci pada tingkatan yang pertama. Oleh karena itu mereka sangat peduli dengan kebersihan badan, seperti mandi, membersihkan wajah, membersihkan pakaian, bahkan dengan cara yang cenderung berlebihan”.

“Mereka tidak mengetahui bahwa orang-orang terdahulu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyucikan hati dan pikiran. Umar bin Khaththab pernah mengambil air untuk berwudhu’ dari sebuah guci yang biasa digunakan oleh orang-orang Nasrani. Orang salih zaman dulu biasa shalat di atas tanah, berjalan tanpa sandal, melakukan istijmar (bersuci) dengan batu secukupnya apabila tidak ada air, dan mereka tidak berlebihan dalam menggunakan air”.

Seluruh level bersuci tersebut hendaknya dipenuhi oleh setiap muslim. Kesucian badan dari kotoran, hadats dan najis, tentu harus dipenuhi dengan cara yang benar, tanpa berlebihan. Namun hendaknya, badan kita sucikan dari perbuatan maksiat, salah dan dosa.

Bukan hanya badan yang kita sucikan dengan thaharah, hati dan pikiran juga harus kita sucikan dari berbagai kekotoran. Sampai puncaknya kita bisa merasakan kehadiran Allah secara nyata dalam jiwa kita, yang menandakan hati dan pikiran kita telah suci dari selainNya. Inilah puncak thaharah.

Selamat beribadah di bulan Ramadhan, dengan imanan wahtisaban. Jangan lupa, perbanyak sedekah, mumpung ketemu bulan penuh berkah.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan