Fenomena Kata “Jangan” dalam Mendidik Anak

Fenomena Kata “Jangan” dalam Mendidik Anak

Oleh : Diah Mahmudah, S.Psi, PsikologA

Ayah Bunda..

Coba kita hayati 2 kelompok kalimat di bawah ini :
#1 :
Jangan lari-lari.
Jangan manjat-manjat.

#2 :
Jangan menyekutukan Allah.
Jangan mendekati zinah.

Keduanya memakai kata “jangan”. Hanya, berbeda konteks.

Kata jangan di kelompok pertama pada anak adalah dalam konteks perkembangan dan membersamai aktivitas harian anak. Ketika memakai kata jangan, terlebih untuk anak usia di bawah 7 tahun dimana anak masih membutuhkan ruang eksplorasi dan masih dalam tahap berpikir konkret, maka kata jangan sebaiknya diganti dengan kalimat arahan yang konkret, sesuai dengan dunia perkembangan anak.

Misalnya ada seorang ibu yang sedang berbelanja bersama anaknya berusia 4 tahun di sebuah mall. Sering ibu berkata ke anaknya : “Jangan lari-lari”, “Nak..jangan jauh-jauh”. Sebaiknya kalimatnya diganti dengan : “Nak, jalan saja ya”, “Nak..deket-deket dengan Ibu”. Clear buat anak, ia diminta jalan dan dekat dengan ibunya. Tentu untuk perintah ke anak usia dini, sebaiknya sambil dicontohkan. Hanya setelah dicontohkan, belum tentu anak pun menuruti berjalan dan dekat ibunya. Bisa saja anak akan tetap berlari mengingat ia dalam masa eksplorasi dan dalam masa mengenyangkan fitrah bergeraknya.😄
Setidaknya dengan arahan konkret itu, anak akan lebih paham apa yang diharapkan oleh ibu kepadanya.

Penggunaan kalimat arahan pada anak sebenarnya sudah sangat jelas dicontohkan oleh Rasulullaah sebagai role model parenting kita, yang disebutkan dalam sebuah hadist :

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abi Salamah radliyallahuanhumaa, dia berkata, telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam kepadaku, “Sebutlah Nama Allah (Bacalah bismillah sebelum makan) dan makanlah dengan tangan kanan, serta makanlah makanan yang terdekat denganmu”. ~Muttafaqun ‘alaihi (Diriwayatkan dalam dua kitab sahihain oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Rasulullah tidak mengatakan : “Jangan mengambil makanan yang jauh-jauh” TAPI “Makanlah makanan yang terdekat denganmu”. Jelas sekali arahan ini buat pemahaman anak. Anak menjadi paham apa yang harus dilakukannya.

Lalu penerapan kata “jangan” dalam konteks perkembangan anak pun sifatnya bukan berarti tabu untuk digunakan. Tetap dibutuhkan dalam pendidikan, terutama ketika anak sudah dalam usia pendidikan (7 tahun ke atas). Selain diberikan kalimat arahan, anak pun membutuhkan penjelasan yang disesuaikan dengan logika berpikir anak. Misalnya : “Jangan bermain gadget sambil tiduran soalnya buruk buat kesehatan matamu. Sambil duduk saja ya, Nak”. Sambil dicontohkan cara duduk yang seperti apa, misalnya seperti huruf L.

Kemudian penggunaan kata “jangan di kelompok kedua”, ini adalah bentuk peringatan syar’ie dan diberikan dalam aktivitas penanaman Tauhid dimana koridornya adalah pendidikan keimanan yang memiliki ilmu dan konsep pendidikan tersendiri. Kata “zinah”, kata “menyekutukan”, tampaknya kata peringatan ini pun bukan untuk diberikan kepada anak di bawah 7 tahun namun diberikan ke anak yang sudah di atas 7 tahun, dengan pengembangan dialog keimanan 2 arah dan disesuaikan dengan pemahaman anak.

Jadi menurut saya, kesimpulannya kita tidak perlu membenturkan issue kata “jangan” dalam konteks perkembangan dan keimanan. Gunakanlah kata jangan dalam konteks yang tepat, tujuan yang benar juga cara yang baik sesuai dengan usia perkembangan anak sehingga tujuan pendidikan tercapai optimal dan paripurna.

Wallaahu a’lam bish-showaab.🙏😊

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan