Fikih Prioritas dalam Pernikahan

Fikih Prioritas dalam Pernikahan

Serial NSBM3 – “Nikah Sah Berkah Mudah Murah Meriah”

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Banyak orangtua yang tidak mengetahui dan tidak memiliki fikih prioritas dalam kehidupan, termasuk ketika proses pernikahan anak-anak mereka. Yang dimaksud dengan fikih prioritas adalah ilmu untuk menimbang dan memutuskan, hal apa yang lebih penting daripada yang lainnya, hal mana yang harus didahulukan disbanding yang lainnya, dan seterusnya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita menjumpai sangat banyak prosesi pernikahan yang tidak menggunakan fikih prioritas. Digelarnya pesta yang super-mewah, demi menjaga “nama baik” dan gengsi posisi diri maupun keluarga, adalah contoh kegagapan dalam melihat prioritas pilihan.

Seandainya seseorang memiliki uang Rp. 500 juta yang bisa dialokasikan untuk biaya pesta pernikahan anak, hendaknya ia menimbang, apakah itu benar-benar prioritas, ataukah hanya sekedar memenuhi gengsi dankehormatan diri? Apakah hanya karena malu kalau pestanya tidak meriah, gengsi kalau pestanya tidak mewah.

Padahal pesta pernikahan bisa dilakukan hanya dengan Rp. 50 juta saja, tidak perlu menghabiskan Rp. 500 juta. Dengan penghematan ini, masih ada dana Rp. 450 juta yang bisa digunakan untuk mendaftar haji bagi kedua pengantin, atau untuk biaya pergi umrah berdua, biaya hidup di awal berumah tangga, dan bahkan bisa untuk modal usaha bisnis online.

Seandainya seseorang memiliki uang Rp. 50 juta yang bisa dialokasikan untuk biaya pesta pernikahan, hendaknya ia menimbang, manakah yang benar-benar prioritas. Seandainya seseorang hanya memiliki uang Rp. 5 juta yang bisa dialokasikan untuk biaya pesta pernikahan, hendaknya ia menimbang lebih cermat, mana yang benar-benar diprioritaskan. Bahkan seandainya seseorang hanya memiliki uang Rp. 500 ribu  yang bisa dialokasikan untuk biaya pesta pernikahan, maka ia harus lebih cermat membuat prioritas.

Perhatikan meme yang dibuat oleh seorang netizen, yang sempat viral beberapa waktu lalu. Tampak masih berada di angka Rp. 600 ribu. Namun sesungguhnya bisa dibuat lebih murah lagi daripada itu. Dia menulis, mahar Rp. 200 ribu, padahal mahar bisa saja berupa non-materi. Misalnya hafalan Al Qur’an atau hafalan hadits. Jadi, ini gratis. Dengan demikian, biaya tinggal Rp 400 ribu.

Cobalah menimbang, mana yang benar-benar prioritas, dan mana yang hanya sekedar daftar keinginan. Sangat sayang menggelar pesta mahal, namun tidak memikirkan hal-hal yang sangat penting dalam kehidupan setelah menikah. Haji dan umrah adalah contoh ibadah yang berbiaya, maka perlu dipikirkan dan dialokasikan dengan cermat.

Pesta pernikahan hanya sehari, namun kehidupan kedua mempelai masih sangat panjang membentang. Hendaknya memikirkan dan menyusun urutan daftar prioritas, mana yang lebih penting dan lebih harus diutamakan. Tak masalah pesta sederhana, namun kedua pengantin bisa memiliki tambahan bekal untuk menjalani kehidupan berumah tangga.

Fikih prioritas ini benar-benar penting dalam mengkonsep pesta pernikahan. Sejak dari pilihan tempat acara, apakah di gedung, di masjid atau di rumah saja. Pilihan catering, pilihan dekorasi, pilihan dokumentasi, bahkan pilihan nama : sesiapa saja yang diundang. Semua menggunakan fikih prioritas. Tanpa fikih prioritas, yang terjadi hanyalah daftar keinginan semata-mata.

 

Kereta Api Malioboro Ekspress, Malang – Yogyakarta 22 Juli 2019

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan