Fiqih Keluarga: Status Anak Hasil Perzinaan

Fiqih Keluarga: Status Anak Hasil Perzinaan

Anak yang lahir dari hasil perzinaan, atau lahir di luar pernikahan yang sah, memiliki status sebagai berikut.

  1. Dinasabkan kepada ibu kandung

Mayoritas ulama berpendapat bahwa anak hasil zina tidak dinasabkan kepada ayah biologisnya tetapi dinasabkan kepada ibunya. Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al Mughni:

وَوَلَدُ الزِّنَا لَا يُلْحَقُ الزَانِــي فِي قَوْلِ الْجُمْهُورِ

“Menurut mayoritas ulama anak zina tidak dinasabkan kepada lelaki pezina.”

  1. Kewajiban mengasuh dan menafkahi ada pada ibu

Karena anak hasil zina dinasabkan kepada ibu, maka dianggap tidak memiliki pertalian darah dengan ayah biologisnya. Oleh karena itu tanggung jawab sepenuhnya berada di pundak sang ibu, termasuk di dalamnya mengasuh, membesarkan dan memberi nafkah.

  1. Tidak ada hubungan waris dengan ayah

Anak hasil zina tidak berhak mendapatkan waris dari ayah biologisnya. Memaksakan diri untuk meminta warisan, statusnya merampas harta yang bukan haknya. Di antara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash, beliau mengatakan:

قَضَى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ مَنْ كَانَ مِنْ أَمَةٍ لَمْ يَمْلِكْهَا ، أَوْ مِنْ حُرَّةٍ عَاهَرَ بِهَا فَإِنَّهُ لا يَلْحَقُ بِهِ وَلا يَرِثُ

“Nabi saw. memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka, tidak dinasabkan kepada ayah biologisnya dan tidak pula mewarisinya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth).

  1. Tidak boleh di-bin-kan kepada ayah biologis

Para ulama menyimpulkan bahwa anak hasil zina sama sekali bukan anak bapaknya. Karena itu, tidak boleh di-bin-kan atau dinasabkan kepada bapaknya. Jika anak itu dinasabkan kepada ayah biologisnya, hukumnya terlarang atau haram, berdasarkan hadits dari Sa’d, Nabi saw. bersabda:

من ادعى إلى غير أبيه وهو يعلم أنه غير أبيه فالجنة عليه حرام

“Siapa yang mengaku anak seseorang, sementara dia tahu bahwa itu bukan bapaknya maka surga haram untuknya.” (HR. Bukhari no. 6385)

  1. Anak di-bin-kan kepada ibu

Karena anak hasil zina tidak memiliki bapak yang sah secara hukum syari’ah, maka dia di-bin-kan kepada ibunya. Sebagaimana Nabi Isa ‘alaihis salam, yang dengan kuasa Allah, dia diciptakan tanpa ayah. Karena Nabi Isa tidak memiliki ayah, maka beliau dinasabkan kepada ibunya, sebagaimana dalam banyak ayat, Allah menyebut beliau dengan Isa bin Maryam.

  1. Wali nikah

Anak hasil zina, siapakah wali nikahnya? Anak perempuan dari hasil hubungan zina tidak memiliki ayah. Dengan demikian, dia tidak memliki hubungan kekeluargaan dari pihak ayah biologis. Baik ayah biologis, kakek, maupun paman dari ayah biologis, tidak berhak menjadi wali. Karena mereka bukan paman maupun kakeknya. Lalu siapakah wali nikahnya? Pihak yang mungkin bisa menjadi wali nikahnya adalah (a) anak laki-laki ke bawah, jika dia janda yang sudah memiliki anak; atau (b) Wali Hakim, dalam hal ini pejabat resmi KUA.

 

 

Disarikan dari keterangan Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah), dalam web Konsultasi Syari’ah www.KonsultasiSyariah.com

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan