Hadirkan Cinta untuk Sesama

Hadirkan Cinta untuk Sesama

Oleh : Ida Kusdiati[i]

 

 

Di masa pandemi Covid-19 saat ini, banyak kalangan mendapatkan kenyataan beberapa sahabat atau salah satu anggota keluarganya terkonfirmasi positif. Ada rasa kecewa melihat reaksi orang di sekitar atas musibah ini.

Siapakah yang dapat menghindari takdir? Apalagi jika takdir itu adalah “buruk” dalam pandangan manusia, salah satunya penyakit. Pernahkah ada di dunia ini orang yang ingin mengidap suatu penyakit berbahaya? Pasti jawabnya — tidak! Karena itu bukan pilihan manusia itu hak prerogatif Allah.

Saat ada sahabat dan keluarga yang mengalami sakit berbahaya, bahkan bertahun atau yang memiliki resiko tinggi kematian bagaimana sikap kita seharusnya? apakah layak kita mengatakan “kok bisa?” Lalu mulai mengorek berbagai “catatan” lama yang tak ada hubungan dengan penyakit sang pasien, atau “membuka lembaran usang” dari sumber yang tidak jelas untuk menyatakan bahwa itu adalah “hukuman” atas sang penderita. Na’udzubillah min dzalik…

Tak cukupkah kita mengatakan sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 156 :“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Selanjutnya mendoakan mereka dengan salah satu doa kesembuhan yang dibaca Rasulullah SAW untuk keluarganya sebagaimana diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA. Yang artinya, “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri” (Imam An-Nawawi, Al-Adzkar).

Orang yang sakit butuh dukungan semangat serta doa kebaikan yang menyertainya, bukan hanya material. Bagaimana kita bisa membantu dengan senantiasa mengingatkan dan menumbuhkan keyakinan bahwa sakit yang dideritanya saat ini adalah ujian/cobaan bagi orang yang sabar.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

Dan bagi yang merawat orang sakit dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan mendampingi serta menghadirkan cinta dalam perawatannya. Mereka adalah keluarga atau orang terdekat dari sang pasien. Dukungan Moril bagi mereka adalah sumber motivasi hadirnya sabar dan syukur.

Maka hadirkan cinta bagi mereka karena Allah (Zat yang mendatangkan dan yang menghilangkan penyakit) dengan janji kebaikan dariNya atas ujian yang dihadirkan. Mari berempati karena bisa jadi besok kita yang diuji.

Allahu a’lam.

 

 

[i] Penulis adalah Ketua PW Salimah Kalimantan Barat, penulis buku Khatulistiwa Cinta

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan