Hafalan Quran Birru

Hafalan Quran Birru

HAFALAN QURAN BIRRU

 

@Ummu Rochimah

Tulisan ini dibuat untuk menyimpan jejak dan bentuk apresiasi atas pencapaiannya.

Ini Birru Muhammad Yazid saat ini ia sedang menunggu pengumuman kelulusannya di SD Laboratorium PGSD Jakarta.

Semua orang tua muslim tentu sangatlah berharap bila anak-anaknya mampu menjadi penghafal Quran, karena banyak keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh seorang penghafal quran. Seberapapun tingkat kesholihan orang tua, ketika ditanyakan kepadanya, “Apakah ingin bila anaknya bisa menghafal Quran?”. Kemungkinan besar mereka akan menjawab, “Mau, siapa sih orang tua yang tidak ingin anaknya hafal Quran?”

Maka pada sebagian orang tua lalu memilih dan mengarahkan anak-anaknya memasuki dunia yang akan menghantarkannya menjadi penghafal Quran, umumnya ke pesantren atau sekolah-sekolah Islam. Ini cara umum yang biasa dilakukan orang tua untuk menjadikan anaknya sebagai penghafal Quran.

Lalu, bagaimana dengan orang tua yang tidak mampu dan tidak memiliki kecukupan biaya untuk memasukkan anaknya ke sekolah Islam atau karena pertimbangan lainnya, atau tidak berhasil mengajak anak-anaknya untuk masuk ke dunia pesantren karena keengganan dari anak-anaknya untuk masuk pesantren, walaupun sudah dibujuk-bujuk, diiming-imingi, namun sang anak tetap berkeras tidak mau memasuki dunia pesantren. Apa kemudian harus memaksa mereka untuk masuk pesantren? Tidak!! Jangan pernah lakukan hal ini ya wahai ayah bunda, yakinlah cara ini tidak akan memberikan hasil yang maksimal!

Lalu, apakah hanya sekolah islam dan pesantren yang memberi kesempatan bagi anak-anak untuk menjadi penghafal quran, sedang mereka yang tidak berkesempatan memasuki institusi tersebut kemudian tidak memiliki kesempatan untuk menjadi penghafal Quran?

🍁Proses Itu Lebih Penting Daripada Hasil*

Ananda Birru ini, sebagaimana abang-abangnya, ia menempuh jenjang sekolah dasarnya di sekolah umum, sebagaimana sekolah umum di negeri ini, pendidikan agama tentulah mendapat porsi yang hampir sama dengan pelajaran lain, sehingga hanya sebatas pengetahuan standar yang akan mereka dapat di sekolah.

Lalu dari mana keinginan menghafal itu muncul? Apakah ia mendapat tugas menghafal dari sekolahnya? Sama sekali tidak, keinginan itu tumbuh dari dalam dirinya sendiri, pun dengan surat yang ingin dihafalnya. Ia sampaikan kepada kami bahwa ia ingin menghafal surat An Naazi’at. Ketika ditanyakan, “Kenapa memilih surat itu untuk dihafal bukan surat yang lain?”
(*karena terus terang, sebagai seorang dewasa yang pernah mencoba menghafal surat ini, cukup merasa kesulitan untuk menghafalnya. Atau justru karena sudah dewasa baru mencoba menghafal jadi terasa sulit? 😊)

Ia hanya menjawab, “Ya, pengen nya yang itu.”

Baiklah, maka proses menghafal pun dimulai, kami buat kesepakatan bahwa ia harus menambah hafalan satu ayat perhari.

Dan alhamdulillah, hingga saat ini ia masih konsisten dengan kesepakatan itu. Bahkan di akhir-akhir surat ia sudah dapat menambah hafalan menjadi 2 ayat perhari.

Pencapaian diri, apapun itu bentuknya, selama hal itu tumbuh dari dalam diri sendiri akan memberikan motivasi yang sangat kuat untuk tetap konsisten.

🌷Menjaga Konsistensi

Pencapaiannya ini, membuat kami sebagai orang tuanya sangat bahagia dan bersyukur. Maka, kondisi ini harus terus dijaga, jangan sampai semangatnya untuk menghafal menjadi kendor karena orang tua kurang mendukungnya, baik itu berupa pengabaian atau keengganan untuk mendengarkannya muraja’ah hafalan. Tinggalkan semua aktifitas saat ia ingin melakukan mujara’ah hafalannya.
Ini beberapa hal yang kami lakukan untuk menjaga hafalannya, yaitu :

1. Memperdengarkan murotal Quran secara intensif. Kami terbiasa menyetel murotal menjelang anak-anak tidur dan mematikannya saat bangun tidur di subuh hari. Jadi mereka mendengar al quran sepanjang tidurnya.

2. Memancing hafalannya dengan membacakan awal-awal ayat, dan ia melanjutkan ayat berikutnya. Atau sebaliknya, saat ia tiba-tiba memulai satu ayat, kami lanjutkan ayat berikutnya.

3. Menyediakan waktu khusus untuk menambah atau mengulang hafalannya. Kami biasa melakukannya sehabis sholat maghrib. Mengulang-ulang ayat yang akan disetor sebanyak minimal tiga kali bila ayatnya pendek, atau tujuh kali bila ayatnya aga panjang. Sejauh ini hafalannya masih di juz 30.

Jadi, memiliki anak sebagai penghafal quran bukan hanya milik orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah islam atau pesantren.

Siapapun orang tuanya, bersekolah dimanapun anaknya, ia bisa menjadi penghafal quran. Kuncinya hanya KEMAUAN DAN KONSISTENSI.

Dan satu lagi yang harus ingat, bahwa orang tua jangan pernah berbangga hanya dengan jumlah hafalan sehingga melupakan esensi keimanan yang hakiki. Terus tanamkan benih-benih fitrah keimanan dalam diri anak-anaknya, sehingga hafalannya bukan hanya sekedar pemanis lisan dan pemuas kebanggaan.

Wallahu’alam

#suratCintatukAnanda
#menulis untuk pengingat diri

#catatansurvivor

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan