HAKIKAT IBADAH

HAKIKAT IBADAH

Kuliah Ramadhan 1440 H Hari Pertama

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Dalam kitab Fathul Majid dijelaskan, secara bahasa ibadah bermakna perendahan diri dan ketundukan. Sedangkan secara istilah, terdapat banyak penjelasan para ulama tentang makna ibadah. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-’Azhim berkata, “Menurut pengertian syari’at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa perkataan atau perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Abul A’la Al-Maududi berpendapat bahwa makna utama ibadah adalah jika seseorang menyatakan ketinggian sesuatu dan kekuasaannya lalu ia menyerahkan kebebasan dan kemerdekaannya serta meninggalkan semua perlawanan dan pembangkangan lalu ia tunduk secara total. Inilah makna hakiki yang terkandung dalam kata ibadah, ta’abbud dan ubudiyah.

Syaikh Shalih al-Fauzan dalam kitab al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad menjelaskan, “Sebagian ulama mendefinisikan ibadah sebagai kesempurnaan rasa cinta yang disertai kesempurnaan sikap tunduk.”  Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menerangkan di dalam Syarh Tsalatsat al-Ushul bahwa pengertian ibadah adalah suatu bentuk perendahan diri kepada Allah yang dilandasi dengan rasa cinta dan pengagungan dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari’at-Nya.

Dari semua penjelasan tersebut, bisa dipahami bahwa pada hakikatnya, ibadah adalah perendahan diri di hadapan Allah, ketaatan yang mutlak kepada Allah, ketundukan yang totalitas tanpa pembangkangan dan perlawanan kepada Allah, mencintai Allah di atas segalanya, serta mengagungkan Allah di atas semuanya. Ibadah bukan hanya bentuk aktivitas lahiriyah, namun juga bathiniyah.

Maka puasa dengan semua aktivitas ibadah selama Ramadhan, menjadi ibadah apabila dalam pelaksanaannya dipahami sebagai bentuk perendahan diri di hadapan Allah, bentuk ketaatan yang mutlak terhadap syariat Allah, bentuk ketundukan yang totalitas kepada Allah, bentuk kecintaan tertinggi kepada Allah, juga bentuk pengagungan terhadap Allah.

Demikian pula semua aktivitas hidup kita yang benar dan lurus, disertai niat ikhlas, akan memiliki nilai ibadah apabila dilakukan dalam kerangka ketaatan, ketundukan, kecintaan,  penghambaan diri, perendahan diri di hadapan Allah, sekaligus pengagungan terhadap Allah.

Sudahkah kita beribadah? Selamat beribadah di bulan Ramadhan, dengan imanan wahtisaban. Jangan lupa, perbanyak sedekah, mumpung ketemu bulan penuh berkah.

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan