Harga Diri Ananda

Harga Diri Ananda

By. Ida Kusdiati

Sore ini cuaca cerah di Kota Khatulistiwa, meski tubuh beberapa hari terakhir seperti kehilangan tenaga karena cuaca ekstrim dari panas yang luar biasa tetiba hujan turun dengan derasnya. Qodarullah… tubuh meminta haknya untuk istirahat sejenak, maka akupun seharian terbaring di kasur sambil sesekali membuka laptop mengecek kerjaan kantor yang masih terhutang.

Sore harinya saat sedang duduk santai di ruang tengah, terdengar suara riuh tangisan Azka si kecil memasuki rumah langsung memeluk aku dan membenamkan wajahnya yang basah air mata bercampur peluh.

Sejak pukul 16.00 tadi, Azka sudah turun ke halaman rumah untuk bermain dengan sahabatnya. Ini komitmen kami terhadap waktu bermainnya sampai maksimal pukul 17.00, Azka sudah harus kembali lagi ke rumah.

Tapi… sore ini baru berjalan 30 menit bermain, Azka sudah pulang dan kali ini dengan tangisan yang tidak seperti biasanya.
“Ada apa sayang kok pulang-pulang nangis?” tanyaku berbisik di telinganya.
“Abang tuh, Ma ndak asyik…” jawabnya sesunggukan dengan air mata yang tumpah ruah. Baru kali ini kulihat Azka menangis sangat serius.

Tak lama orang yang disebut namanya masuk ke rumah menyusul Azka.
“Maaf ya, Ma… kali ini Azka kelewatan banget. Dia udah buat nangis 2 temannya pertama Wahyu kedua Bilqis. Abang lihat sendiri Azka yang ganggu temannya, jadi abang marahkan dan disuruh minta maaf ndak mau, abang jadi tambah jengkel deh!” jawab Abang panjang lebar dengan wajah serius.

“Kan Mama yang bilang kalau bermain jangan suka ganggu teman. Dan kalau ada yang berbuat salah harus diberi tahu agar segera minta maaf, nah ini Azka, nggak mau denger omongan Abang, Ma!”
Suara Abang meninggi karena rasa jengkel dengan kelakuan adiknya disambut tangisan Azka yang semakin histeris.

Secepatnya jari telunjukku merapat ke bibirku tanda agar keep silent pada abang. “Terima kasih ya, Bang…udah ngingatkan Azka. Sekarang abang siap-siap bentar lagi kan mau ke masjid sama ayah salat magrib,” ujarku pada Abang yang terlihat kurang puas karena mungkin dirasakan ada pembelaanku pada Azka.

“Azka biar Mama yang urus ya,” ujarku lagi dengan tersenyum meyakinkannya.
“Ok lah, lain kali jangan gitu loh, Az. Nanti nggak punya teman,” jawab Abang masih dengan omelannya sambil beranjak meninggalkan aku dan Azka.

Setelah itu aku memilih menjadi tempat Azka menyelesaikan tangisnya dengan damai, tanpa pertanyaan dan interogasi apapun karena menurutku ini bukan saat yang tepat. Setelah kulihat Azka tenang, kuajak dia mandi dan menikmati buih sabun dan shampoo sebagai ganti waktu bermainnya yang tersita tadi, dan itu mengembalikan keceriaannya.

Setelahnya kami bersiap diri menjelang salat magrib berjamaah. Selesai dengan zikir dan do’a, Azka masih duduk rapi disampingku. Nah ini kurasa waktu yang tepat memulai interogasi dan memasukan sugesti atas permasalahan sore tadi.

“Az, Mama boleh tahu dong kenapa Azka bisa buat Wahyu dan Bilqis menangis, biasanya Azka tidak seperti itu. Dimana anak solehah Mama?” tanyaku lembut masih diatas sajadah kami.

“Mama… Azka kasih tahu ya, Azka itu cuma mau tahu bagaimana kalau Wahyu sama Bilqis marah kalau Azka ganggu… itu sengaja, Ma,” jawabnya dengan wajah penuh keyakinan.

“Azka tahu kalau itu salah?” Aku kembali memancing jawabannya.
“Ya… kan cuma main-main, Ma… tapi Wahyu sama Bilqisnya malah nangis, eh datang-datang Abang marahin Azka di depan Mamanya Bilqis, Azka malulah,” ujarnya penuh emosi.

“Tapi… Azka tahukan kalau yang Azka lakukan itu salah, dan Azka pasti mau minta maaf sama teman-teman kan?” tanyaku lembut padanya.
“Iya, Ma…kan Azka bilang cuma main-main, tapi besok Azka minta maaf deh!” Jawabnya lagi masih merasa benar dengan apa yang telah dilakukannya namun sudah pada keinginan meminta maaf sebagai tebusannya.

“Ok, Az… Mama ndak larang Azka bergurau sama teman tapi jangan sampai menyakiti, sama dengan Azka juga tidak suka kalau diganggu Abang kan?” ujarku padanya.

“Kan teman suka main sama Azka, buktinya sampai Bilqis nyusul ke rumah, nah kalau tiba-tiba Azka kasar sama teman dianya jadi sedih dong Nak, Azka nggak suka lihat teman sedih kan?”
“Ya, Ma,” jawabnya dengan senyum yang menggemaskan.

“Nah gitu dong anak solehah Mama, kan katanya mau disayang Allah. Besok maukan minta maaf sama teman? Harus jadi orang penyayang seperti Rasulullah ya, Nak,” ujarku padanya sambil menariknya ke pelukanku.
“Siap, Mama sayangggg…” Dia memelukku erat dan menciumi wajahku.

Begitulah anak-anak di usia balita keinginan mengeksplore dirinya sangat luar biasa, aku sebagai orang tua mesti mampu mengimbanginya dengan pikiran jernih dan tidak terbawa emosi. Hal yang dilakukan Azka, kadang juga hal yang diterimanya dari perlakuan sahabat. Bagaimana cara menyikapinya sebagai orang dewasa harus mampu memandang persoalan ini sebagai ajang tumbuh kembangnya sehingga memberi ruang mereka membangun kepercayaan diri.

Menanggapinya dengan emosi di depan banyak orang akan menjatuhkan harga diri mereka dan secara tak langsung kita berkontribusi pada karakternya jika kelak mereka jadi orang yang penakut dan tidak percaya diri.

Mengutip dari Jurnal Pendidikan Usia Dini Volume-9 edisi 2, November 2015, disebutkan bahwa keberhasilan individu dalam hidup ditentukan oleh stimulasi yang diterimanya pada usia dini, anak perlu menguasai berbagai kemampuan terutama kemampuan bersosialisasi dengan baik, karena menurut Goleman, keberhasilan hidup seseorang lebih ditentukan oleh kemampuan emosionalnya dibandingkan dengan kemampuan intelektual.

Dalam jurnal ini juga disebutkan bahwa kemampuan bersosialisasi merupakan fondasi bagi perkembangan kemampuan anak berinteraksi dengan lingkungannya secara luas. Salah satu aspek dalam kemampuan sosial yaitu harga diri. Harga diri yang sehat adalah tameng bagi anak untuk menghadapi tantangan dalam kehidupannya.

Karena itu aku cenderung menahan diri dan mencari waktu yang tepat untuk menasehati agar tak melukai perasaan dan harga diri ananda.

Abang dalam hal ini yang dirasakan Azka membuatnya malu dihadapan banyak orang juga tak luput dari nasehatku. Saat kami hanya duduk berdua di waktu sarapan pagi ada penekanan khusus padanya, “maksud baik juga harus disampaikan dengan cara yang baik, agar membuat orang lain nyaman dengan kebaikan yang kita sampaikan. Bukan melukai perasaan mereka sehingga ada ketersinggungan terhadap harga diri mereka.”

Abang manggut-manggut berupaya memahami nasehatku meski tetap ada pembelaan diri terhadap kasus Azka kemarin dan itu kumaklumi.

Apakah semua langsung berakhir happy ending? tentu tidak, bisa jadi kejadian seperti ini terulang kembali karena mereka masih berproses menuju pribadi berkarakter. Dan adalah tugasku sebagai Ibu menyampaikan pesan pada anak-anaknya. Maka tak ada kata lelah apalagi bosan untuk terus hadir bagi mereka.

Wallahu’alam

Ptk, 5-12-20

Sumber kutipan : Maya Oktia Nora, Pengaruh Kelekatan Dan Harga Diri Terhadap Kemampuan Bersosialisasi Anak, Jurnal Pendidikan Usia Dini Volume 9 Edisi-2, November 2015

Ida Kusdiati

Tinggalkan Balasan