ISTIFTAH : MENGGAPAI HIDUP YANG BERSIH

ISTIFTAH : MENGGAPAI HIDUP YANG BERSIH

Kuliah Ramadhan Hari Kesembilan

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Setelah takbiratul ihram, disunnahkan untuk membaca doa iftitah atau doa istiftah. Hukumnya sunnah. Para ulama menjelaskan ada banyak pilihan doa istiftah, dimana kita bisa memilihnya.

Salah satu doa istiftah, adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ

Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98)

Doa ini biasa dibaca Rasulullah Saw dalam shalat fardhu dan dinilai paling sahih diantara doa istiftah lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (2/183).

Dalam doa istiftah ini, kita memohon kepada Allah agar dijauhkan dari kesalahan, sejauh timur dan barat. Juga permohonan kepada Allah agar dibersihkan dari kekotoran dan kesalahan, seperti kain yang kembali putih bersih setelah sempat terkena kotoran. Sebuah pengakuan diri di hadapan Allah, bahwa kita adalah hamba yang lemah dan banyak kesalahan, kekotoran, serta kekurangan.

Karena banyak kekotoran dan kesalahan, maka sebelum memulai gerakan shalat lainnya, kita meminta kepada Allah agar dijauhkan dan dibersihkan dari kekotoran dan kesalahan. Kita ingin memiliki orientasi hidup yang lurus dan bersih. Benar-benar bersih, karena berjarak sangat jauh dari kesalahan, dan telah bersih dari kekotoran.

Ada pula doa istiftah yang sangat ‘populer’ dibaca masyarakat muslim Indonesia, yaitu:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri.

Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau.

Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aka aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertaubat kepadaMu” (HR. Muslim 2/185 – 186)

Doa ini biasa dibaca Nabi Saw dalam shalat fardhu dan shalat sunnah. Dalam doa istiftah ini, kita berjanji untuk menghadapkan ‘wajah’ secara lurus dan ikhlas hanya kepada Allah. Inilah orientasi kehidupan, yang harus bersih dan lurus.

Mengawali shalat dengan takbiratul ihram, dimana kita memahabesarkan Allah di atas segala sesuatu, dilanjutkan dengan doa istiftah, mengakui kelemahan diri di hadapan Allah serta berjanji untuk menghadapkan orientasi hidup hanya kepada Allah.

Demikian pula hendaknya dalam kehidupan keseharian. Kita berusaha untuk selalu lurus, selalu bersih, selalu menjauhkan diri dari kekotoran dan kesalahan. Sampai kita benar-benar menjadi hamba yang seluruh aktivitas hidup kita, bahkan mati kita, hanyalah untuk Allah.

Semoga kita semua menjadi hamba yang lurus, hamba yang bersih dari kesalahan dan kekotoran, dari waktu ke waktu. Jangan lupa, perbanyak pula sedekah, mumpung ketemu bulan penuh berkah.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan