Jangan Beri Nama Anakmu Abdul Covid

Jangan Beri Nama Anakmu Abdul Covid

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Seorang teman bercerita, bahwa ada bayi laki-laki lahir di masa pandemi corona ini, diberi nama Abdul Covid. Mungkin sang ayah ingin mengabadikan kenangan saat si bayi lahir, dalam suasana berkembang wabah Covid-19, agar kelak menjadi kenangan tersendiri bagi keluarga. Mungkin seperti itu maksud dari nama tersebut.

Saya yakin, maksud nama ini adalah mengambil salah satu asma’ul husna, yaitu Al-Khafidh. Abdul Khafidh berarti hamba Allah Al-Khafidh. Salah satu nama Allah yang terdapat dalam QS. Al-Waqi’ah ayat yang ke-3.

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ] لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ [خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ

“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.  (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)”. (QS. Al-Waqi’ah : 1-3).

Al-Khafidh (الخَافِض) dalam bahasa Arab berasal dari kata kha-fa-dha artinya merendahkan. Allah Al-Khafidh, artinya Allah merendahkan derajat siapa saja yang Dia kehendaki. Allah merendahkan derajat orang musyrik dan orang kafir kelak di akhirat dengan memasukkan mereka ke dalam neraka. Allah merendahkan mereka yang dalam kehidupan di dunia memiliki kedudukan tinggi, namun amal perbuatannya melanggar ajaran Allah. Maka Allah merendahkan mereka di dunia, dan kelak di akhirat memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang merugi.

Namun, tatkala asma’ul husna Al-Khafidh ditulis dengan Covid, penulisan ini langsung mengasosiasikan dengan covid-19 yang tengah mewabah di dunia. Secara pengucapan pun sangat berbeda. Al-Khafidh dibaca dengan awalan huruf kha’, sedangkan Covid dibaca dengan Co. Kalaupun orangtua menulis Abdul Covid, dengan cara membaca yang benar sesuai asma’ul husna, yaitu Abdul Khafidh, tetap saja bisa memberikan bias makna. Antara Covid yang memiliki makna Khafidh, dengan Covid sebagai wabah corona yang sangat berbahaya.

Apakah Arti Sebuah Nama?

“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet”, demikian kata William Shakespeare. Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.

Kalimat ini sering digunakan untuk menyatakan bahwa nama itu tidak penting, karena yang lebih penting adalah jatidirinya. Menurut saya, kalimat ini tidak menunjukkan tidak pentingnya nama, namun ingin menunjukkan kepada sesuatu yang lebih esensial. Yaitu seseorang akan dinilai dengan perbuatannya, dengan amal, dengan karya dan kinerjanya, tidak semata-mata dengan namanya.

Sebenarnya, apakah makna dari sebuah nama? Mengapa setiap manusia harus memiliki nama? Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, hakikat penamaan adalah memperkenalkan sesuatu yang diberi nama. Sebab, jika sesuatu itu ada dan tidak diketahui namanya, tentu tidak ada sesuatu yang menyebabkannya dikenal.”

Lalu, apakah ada pengaruh nama bagi kepribadian dan keadaan seseorang? Ternyata ada. Itulah sebabnya, Nabi saw mengganti nama-nama yang bermakna negatif menjadi nama-nama yang bermakna positif. Pepatah Arab mengatakan,

لِكُلِّ مُسَمَّى مِنْ اِسْمِهِ نَصِيْبٌ

“Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya”.

Mari kita simak kisah Sa’id bin Al-Musayyib, tatkala Nabi Saw mengarahkan kakeknya agar mengganti namanya. Nama kakek Sa’id adalah Hazn, yang artinya keras, kaku, dan kasar. Nabi saw meminta agar diganti dengan Sahl, yang artinya mudah dan lunak, namun Hazn tidak mau mengubah namanya.

Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah meriwayatkan dari bapaknya, bapaknya dari kakeknya, bahwa ia datang kepada Nabi saw maka Nabi bertanya, “Siapa namamu?” Ia (kakeknya Sa’id) menjawab, “Hazn.” Nabi saw berkata, “Engkau Sahl.” Hazn berkata, “Aku tidak akan mengubah nama yang diberikan oleh bapakku.” (HR. Bukhari no. 6190)

Sa’id bin Al-Musayyib bin Hazn rahimahullah berkata, “Perangai kaku / keras selalu ada di tengah-tengah (keluarga) kami.”

Kisah Sa’id bin Al-Musayyib ini menunjukkan, bahwa nama memiliki pengaruh terhadap kepribadian dan keadaan seseorang. Oleh karena itu, orangtua hendaknya memilihkan nama anak yang terbagus, yang memiliki makna positif, dan tidak akan dikonotasikan secara negatif. Begitu orang mendengar sesuatu nama, langsung terbayang hal-hal yang baik dan positif.

Jangan Beri Beban Kepada Anakmu dengan Nama

Saya pernah menulis tentang “Anak Lelaki Bernama Martini”, berkisah tentang pengaruh nama bagi seorang anak. Anak lelaki ini kelak membunuh orang yang mengejek namanya. Sebuah kisah dari Remmy Sylado, memberi inspirasi secara kocak kepada kita agar tidak sembarangan memberi nama. Ternyata nama Martini menjadi beban dalam kehidupan si anak saat ia dewasa.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan penjelasan yang sangat menarik dalam hal memberi nama kepada anak. Beliau menyatakan, “Hendaknya seorang memilihkan untuk anaknya nama yang nantinya anak tidak akan menanggung celaan di saat dewasa dan tidak merasa tersakiti dengan nama itu. Terkadang seorang ayah menyukai suatu nama tertentu akan tetapi di kemudian hari sang anak merasa tersakiti dengan nama tersebut sehingga menjadi sebab anak itu terganggu. Suatu hal yang maklum bahwa menyakiti seorang mukmin itu haram, maka seseorang (hendaknya) memilihkan nama yang terbagus dan paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla” (Lihat : Asy-Syarhul Mumti’ 7/320—321)

Mari kita garis bawahi penjelasan Syaikh Utsaimin di atas. Bahwa orangtua harus memberikan nama kepada anak dengan nama yang baik, dimana si anak tidak akan menanggung celaan di saat dewasa dan tidak merasa tersakiti dengan nama itu. Tentu saja si bayi tidak bisa ditanya, apakah ia akan malu atau tersakiti atau menjadi beban dengan nama itu. Namun orangtua harus bijak, memberi nama anak jangan hanya asal aneh, unik, atau sekedar mengabadikan kenangan. Berikan nama anak yang membuatnya bangga dengan nama itu, yang membuatnya baik dengan nama itu, yang membuatnya terhormat dengan nama itu.

Dan jangan dilupakan, setiap kali kita mendengar nama seseorang disebut, kita langsung bisa membayangkan karakter ayah yang memberinya nama. Seperti pepatah Arab mengatakan,

مِنْ اِسْمِكَ أَعْرِفُ أَبَاكَ

“Dari namamu, aku bisa mengetahui bagaimanakah ayahmu.”

 

 

Daftar Bacaan:

Cahyadi Takariawan, Anak Lelaki Bernama Martini, dalam : www.kompasiana.com/pakcah, 15 November 2011

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan