Jangan Takut untuk Takut

Jangan Takut untuk Takut

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Situasi yang tidak menentu akhir-akhir ini, membuat orang takut berbuat karena takut terjangkiti Covid-19. Ada yang takut keluar rumah, ada yang takut pergi ke masjid, ada yang takut bertemu orang, semuanya karena takut terjangkiti Covid-19. Namun ada pula yang takut untuk merasa takut, karena takut masuk kategori manusia yang tidak takut kepada Allah. Mereka takut untuk takut kepada Covid-19, karena takut bahwa ketakutannya kepada Covid-19 adalah indikasi lemahnya takut kepada Allah. Ketakutan yang terakhir ini sungguh bertumpuk-tumpuk.

Mari kita bicara tentang takut, namun dengan kondisi jiwa yang tidak takut. Perlu saya ingatkan kembali kepada anda, kisah usang jaman dulu, tentang lingkaran ketakutan. Coba simak lingkaran ketakutan berikut ini. Tikus takut kepada kucing. Kucing takut kepada anjing. Anjing takut kepada harimau. Harimau takut kepada pemburu. Pemburu takut kepada istrinya. Istri pemburu takut kepada tikus. Gak lucu ya….

Ada lagi kisah jaman dulu tentang lingkaran ketakutan saat demonstrasi mahasiswa berhasil menggoyang Orde Baru yang perkasa. Mahasiswa takut kepada dosen. Dosen takut kepada Dekan. Dekan takut kepada Rektor. Rektor takut kepada Menteri. Menteri takut kepada Presiden. Presiden takut kepada Mahasiswa. Ini juga tidak lucu.

Begitulah anekdot jaman dulu yang sering menjadi penggambaran rasa takut pada makhluk. Rupanya, semua makhluk Allah dikaruniai rasa takut. Pun demikian dengan manusia. Adalah manusiawi, bahwa manusia memiliki rasa takut terhadap sesuatu. Manusia yang paling pemberani sekalipun, pasti ada hal atau sesuatu yang ditakuti. Ini adalah perasaan yang wajar dan lumrah saja pada manusia. Maka jangan takut untuk takut. Yang penting takutnya benar.

Dua Jenis Takut

Ada dua jenis rasa takut yang dimiliki oleh manusia. Keduanya merupakan rasa takut yang dikaruniakan Allah kepada hambaNya. Keduanya merupakan perpaduan sifat manusia, yang di satu sisi memiliki kelemahan namun di sisi lain memiliki kelebihan. Keduanya berada pada dimensi yang berbeda, serta tidak bertentangan satu dengan yang lain.

Kedua jenis rasa takut itu adalah, pertama, rasa takut yang disertai tindakan menjauh, dan kedua, rasa takut yang disertai tindakan mendekat.

Jenis pertama adalah rasa takut yang bersifat alami atau al-khauf ath-thabi’i. Sebuah rasa takut yang Allah karuniakan pada jiwa manusia justru untuk menjaga jiwa mereka dari kebinasaan. Manusia yang tidak memiliki rasa takut jenis pertama ini, akan bersifat sembrono, gegabah dan menyepelekan marabahaya, karena tidak tahu, atau merasa kuat dan hebat, atau justru karena masa bodoh.

Ketika anak kecil tidak tahu bahaya api atau listrik, mereka tidak merasa takut saat mendekat ke api atau bermain listrik. Kelak ketika mulai bertambah usia, anak-anak mulai mengerti betapa bahayanya api atau listrik, sehingga mereka bersikap hati-hati dan waspada. Manusia dewasa pasti takut jika dimasukkan ke dalam nyala api yang berkobar. Mereka mengetahui, jika kulit terkena api bisa mengelupas, wajah bisa hancur, dan tubuh bisa hangus.

Anak kecil tidak takut bermain dengan singa buas, karena tidak tahu bahaya yang bisa menimpa dirinya. Namun saat usia makin bertambah, mereka akan takut berhadapan dengan singa buas, karena mengetahui bahwa singa bisa menerkam bahkan memakan dirinya. Maka ketika manusia memiliki rasa takut terhadap binatang buas, adalah hal yang alami dan manusiawi. Inilah yang disebut sebagai al-khauf ath-thabi’i.

Takut jenis pertama ini memiliki dampak yang sama, yaitu membuat manusia lari dari sesuatu yang ditakuti dan berusaha menyelamatkan diri. Misalnya, ketika berada di tengah hutan dan mengetahui ada segerombolan binatang yang sangat buas, manusia akan berusaha menghindar, menjauhkan diri, atau lari untuk menyelamatkan diri. Rasa takut ini membuat manusia melakukan aksi menjauh atau menghindar dari sumber takut. Manusia tidak akan menantang dan mendekat, karena mengetahui kadar bahaya yang bisa dialaminya.

Dalam Al-Qur’an, digambarkan bagaimana Nabi Musa yang dikaruniai fisik yang kuat, juga memiliki rasa takut (khauf). Allah berfirman,

فَخَرَجَ مِنْهَا خَآئِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu” (Al-Qashash: 21).

Allah juga memberitakan alasan rasa takut yang diungkapkan oleh Nabi Musa,

قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ

Musa berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku, telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. (QS. Al-Qashsash : 33).

Rasa takut yang ditampakkan oleh Nabi Musa, diungkapkan dalam dua ayat di atas tanpa ada celaan sedikitpun. Allah tidak mencela Nabi Musa karena memiliki rasa takut semacam itu. Ini adalah dalil yang jelas, bahwa rasa takut pada manusia, al-khauf ath-thabi’i, bukanlah perbuatan yang tercela, bukan pula sebuah dosa, serta tidak bertentangan dengan aqidah sebagai muslim.

Allah Ta’ala juga memberitakan ungkapan rasa takut Nabi Musa dalam konteks yang berbeda,

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku”. (QS. Asy-Syu’ara:12).

Ayat-ayat di atas menggambarkan kondisi al-khauf ath-thabi’i yang lazim dimiliki oleh manusia. Maka, rasa takut terhadap sesuatu yang bisa mendatangkan kecelakaan, kehancuran, kerusakan, kebinasaan dan kematian, adalah tabiat manusia. Takut terkena wabah Covid-19 adalah wajar, dan bukan tindakan syirik. Takut terserang wabah (tha’un) adalah manusiawi, dan bukan tanda lemahnya iman. Maka tindakan yang harus dilakukan adalah dengan menjauh dari hal yang bisa mendatangkan kecelakaan, kehancuran, kerusakan, kebinasaan dan kematian tersebut.

Takut Kepada Allah

Adapun jenis yang kedua adalah rasa takut yang bersifat penghambaan diri, atau khauf al-ibadah. Sangat berbeda dimensinya dengan jenis pertama, takut jenis kedua ini, disertai dengan mahabbah (cinta), ihtiram (penghormatan), ta’zhim (pengagungan), tadzallul (menghinakan diri), serta khudhu’ (ketundukan).

Rasa takut seperti ini bukan membuat manusia lari menjauh, namun justru membuat  mendekat, karena mencintai, menghormati, mengagungkan serta taat tunduk terhadap sesuatu yang ditakuti. Di dalam Al Qur’an, rasa takut seperti ini kadang disebut dengan lafaz khauf, khasyah, atau rahbah.

Allah memerintahkan Bani Israil untuk memiliki rasa takut kepada-Nya, dengan menggunakan lafadz rahbah,

يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتِىَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا۟ بِعَهْدِىٓ أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ

“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk). (QS. Al-Baqarah: 40).

Ayat di atas, perintah takut kepada Allah diungkapkan dengan lafazh rahbah. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan, bahwa makna rahbah adalah khasyah, yaitu rasa takut yang disertai dengan pengagungan.

Rasa takut kepada Allah juga diungkapkan dengan lafadz khauf, seperti ketika Allah Ta’ala memerintahkan orang beriman agar hanya memiliki rasa takut kepada Allah saja,

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

”Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku (Allah), jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175).

Dalam ayat yang lain, Allah menggunakan lafazh khasyah, sebagaimana firman-Nya,

ٱلَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَٰلَٰتِ ٱللَّهِ وَيَخۡشَوۡنَهُۥ وَلَا يَخۡشَوۡنَ أَحَدًا إِلَّا ٱللَّهَۗ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ حَسِيبٗا

“Orang-orang yang menyampaikan risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorang pun selain kepada Allah; dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.” (al-Ahzab: 39)

فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِي

“Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kalian kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 150).

Takut kepada Allah, harus disertai dengan tindakan mendekat kepadaNya, bukan menjauhiNya. Semakin  takut seseorang kepada Allah, justru akan semakin dekat dengan Allah. Berbeda dengan jenis takut yang pertama, dimana semakin takut dengan sesuatu, akan semakin menjauh dari sesuatu tersebut.

Maka rasa takut yang berdimensi penghambaan seperti ini, hanya boleh diberikan kepada Allah semata, tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Barangsiapa takut kepada selain Allah disertai pengagungan, maka mereka berdosa karena melakukan tindakan syirik, serta harus melakukan taubat nasuha. Penghambaan manusia hanya layak diberikan kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya dalam ibadah.

Takut Wabah Covid-19

Dari penjelasan di atas, bisa dipahami bahwa takut wabah Covid-19 adalah wajar dan merupakan tabi’at manusia. Sesuai dengan tabiatnya, maka rasa takut terhadap wabah Covid-19 harus disertai dengan tindakan menjauh dari wabah, menjauh dari penyakit, sejauh-jauhnya. Hal ini sesuai dengan pengarahan Nabi saw, yang mengarahkan para sahabat untuk lari menjauhi lepra,

وَفِرَّ مِنَ المَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ

“Larilah dari penderita lepra/kusta sebagaimana engkau lari dari singa.” (HR. Bukhari)

Artinya, jangan mendekati sumber penyakit, karena mudah menular. Rasa takut tertular kusta adalah manusiawi dan alami, tidak bertentangan dengan rasa takut kepada Allah. Menjauh dari penyakit kusta adalah perintah Nabi saw, maka tindakan ini bernilai ibadah dan sekaligus melaksanakan sunnah. Saat menghadapi wabah, Nabi saw bahkan memerintahkan agar lari sebagaimana lari menjauh dari singa yang akan menerkam. Jadi jangan sok berani terhadap Covid-19 dengan beralasan hanya takut kepada Allah.

Dalam riwayat lain, Nabi saw menjelaskan bahwa ketika tengah terjadi wabah, mereka yang menyelamatkan diri dengan memilih tinggal di rumah (fi baitihi), akan mendapatkan pahala syahid meskipun mereka tidak meninggal dunia karena wabah tersebut.

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-، أَنَّهَا قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ “.

Dari Aisyah ra, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang wabah (tha’un), maka Rasulullah saw mengabarkan kepadaku, bahwasannya wabah (tha’un) itu adalah adzab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah) dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid”. (HR. Imam Ahmad nomer 26139. Menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth, sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Imam Bukhari).

Lafadz hadis di atas adalah riwayat Imam Ahmad, dengan menyebutkan “fi baitihi”, di rumahnya. Hadits ini diriwayatkan pula oleh  Imam Bukhari (3474) dan An-Nasa’i di dalam As-Sunan al-Kubra (7527), namun dalam riwayat Imam Bukhari (3474), disebutkan dengan lafal “fi baladihi”, di kota atau kampungnya. Ini adalah arahan “lockdown”, untuk menghindari penyebaran wabah penyakit.

Dari lafadz riwayat Imam Bukhari, Nabi saw menyatakan, orang yang tetap tinggal di kampung atau kotanya (fi baladihi) saat wabah, mendapat pahala syahid walaupun tidak meninggal dunia.

عائشة أنَّهَا سَأَلَتْ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فأخْبَرَهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أنَّه كانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ علَى مَن يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فليسَ مِن عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ في بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أنَّه لَنْ يُصِيبَهُ إلَّا ما كَتَبَ اللَّهُ له، إلَّا كانَ له مِثْلُ أجْرِ الشَّهِيدِ

Dari Aisyah ra, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang wabah (tha’un), maka Rasulullah saw mengabarkan kepadaku, bahwasannya wabah (tha’un) itu adalah azab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di kampungnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah) dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid”. (HR. Bukhari, nomer 3474).

Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, konsekuensi  eksplisit hadits ini adalah, orang yang memiliki sifat yang disebut pada hadits tersebut akan mendapatkan pahala syahid walaupun tidak meninggal dunia. (Fathul Bari: 10:194).

Sudah jelas dan terang pengarahan Nabi saw. Tinggallah “fi baitihi” dan juga sekaligus “fi baladihi”, saat terjadi wabah, untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang sangat cepat. Tindakan itu dijanjikan pahala syahid meskipun tidak meninggal dunia. Mereka yang memilih tinggal fi baitihi dan fi baladihi tersebut, adalah orang yang takut kepada Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah.

Tentu saja berbeda dengan mereka yang memiliki tugas sebagai garda terdepan untuk melakukan tindakan pencegahan, pemberantasan dan sekaligus penyembuhan dan pemulihan saat terjadi wabah. Mereka harus bertugas di pos masing-masing yang telah ditentukan. Mereka harus keluar rumah karena tugas.

Sedangkan untuk masyarakat pada umumnya, untuk sementara waktu, mari hentikan aktivitas keluar negeri, keluar kota, atau keluar kampung. Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid19. Jangan takut untuk takut. Stay at home, kecuali jika ada keperluan yang tak bisa dihindarkan untuk keluar rumah. Kita lawan corona bersama-sama. Biidznillah, kita bisa.

 

Mertosanan Kulon, 24 Maret 2020

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan