Kadang Doa Dikabulkan Dengan Cara yang Tak Terduga

Kadang Doa Dikabulkan Dengan Cara yang Tak Terduga

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Bagi sebagian orang —-bisa jadi—- #StayAtHome di masa pandemik corona adalah bagian dari terkabulkannya doa dengan cara yang tak diduga sebelumnya. Misalnya, ketika seorang lelaki yang sangat sibuk dalam kerja, ia berdoa, “Ya Allah berikanlah aku kesempatan untuk lebih banyak di rumah sehingga bisa sering bertemu keluarga”. Atau ketika seorang istri yang merasa kesepian karena terlalu sering ditinggal suami bekerja ke luar kota, ia berdoa, “Ya Allah berikan waktu yang panjang kepada suamiku untuk bisa berada di rumah”.

Begitu instansi pemerintah maupun swasta mulai menerapkan kebijakan #WorkFromHome, dan masyarakat dihimbau untuk #StayAtHome, berkumpullah suami, istri dan anak-anak di rumah saja. Mereka melewati hari-hari bersama keluarga, beberapa pekan bahkan mungkin hingga beberapa bulan lamanya. Di rumah terus, bertemu terus, persis seperti doa yang dipanjatkan oleh beberapa orang. Namun tidak dinyana bahwa bentuk pengabulan doanya dalam bentuk wabah corona.

Pengabulan Doa yang Tak Terduga

Kita segera diingatkan dengan sebuah kisah yang ditulis dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari tentang sebuah doa yang dikabulkan Allah, namun membuat menyesal hamba yang memunajatkan doa.

Tersebutlah seorang ahli ibadah yang memohon pada Allah agar setiap hari diberikan rezeki berupa dua potong roti, segelas air, dan segelas susu tanpa harus bekerja. “Jika Allah memberikan kepadaku dua potong roti, segelas air dan segelas susu setiap hari kepadaku, niscaya aku akan bisa lebih tekun beribadah, tanpa disibukkan dengan bekerja mencari nafkah”.

Ternyata Allah mengabulkan doanya dengan cara yang tak terduga. Mendadak sang ahli ibadah ditimpa fitnah yang membuatnya masuk penjara. Di dalam penjara, dia mendapat jatah dua potong roti, segelas air, dan segelas susu setiap hari —–persis seperti isi doanya yang sangat detail. Tanpa harus bekerja mencari nafkah, dia memiliki waktu luang untuk tekun beribadah setiap hari. Tetapi di dalam penjara.

Setelah berada di dalam penjara, dia sibuk meratapi nasibnya yang menderita. Dimasukkan penjara jelas sesuatu yang tidak pernah dibayangkan seumur hidupnya. Ia tidak pernah menduga bahwa Allah memberikan pengabulan doa dengan cara yang sebegitu ‘dramatis’. Sebagus apapun kondisi dan ransum penjara, itu tetap saja penjara yang tidak ramah bagi penghuninya.

Saya juga ingat kisah-kisah yang dirangkum dalam buku “Secercah Cahaya di Langit Sukamiskin” (2017). Salah satunya, kisah mantan Bupati Bener Meriah, Aceh, yang bisa belajar membaca dan menghafal Qur’an selama berada di dalam lapas Sukamiskin. Saat sang ibu menjenguk ke dalam lapas, beliau menceritakan, “Dari dulu anak saya ini paling bandel kalau disuruh belajar Al-Qur’an. Tapi, ibu bersyukur Allah mengabulkan doa ibu, agar Pak Gen belajar Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, walau di tempat ini”.

Kini Pak Gen — H. Ruslan Abdul Gani— sangat tekun belajar Al-Qur’an di Lapas Sukamiskin. Ternyata doa ibu yang dikabulkan Allah dengan cara yang tidak terduga.

Doa Terbaik

Maka berhati-hatilah dalam berdoa dan berharap. Tentu saja kita boleh meminta apapun kepada Allah, dengan bahasa kita sendiri, karena memang hanya Allah yang Maha Mengabulkan doa. Namun, sesunggunya doa terbaik adalah yang sudah ada tuntunannya di dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi saw, karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk dunia dan akhirat kita.

Jika kita khawatir kalimat doa kita tidak tepat, atau bahkan salah, sebaiknya menggunakan doa-doa yang sudah ada tuntunannya dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi saw. Apalagi ketika doa tersebut terlalu teknis, sampai menyebut bilangan tertentu dan jenis tertentu, seperti “dua potong roti, segelas air dan segelas susu”, maka belum tentu ini menjadi doa yang tepat. Sungguh Allah lebih mengetahui kebutuhan kita dibanding kita sendiri.

Kita mengenal doa yang sering disebut sebagai “sapu jagat”, karena bisa digunakan untuk sarana meminta apa saja kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Doa sapu jagat dituntunkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, “Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar. Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah : 201).

Doa ini bisa digunakan untuk meminta kepada Allah berbagai jenis kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Maka ketika ada seorang sahabat yang berdoa dengan kalimatnya sendiri —yang ia tidak menyadari dampak dari kalimat doanya—- Nabi saw meluruskan.

“Rasulullah saw menjenguk seorang sahabat yang (sakit sehingga badannya) telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah saw bertanya, “Apakah kamu berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?” Ia berkata, “Ya, aku meminta kepada Allah : Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah saw bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa kamu tidak mengucapkan, “Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar”. Maka orang itupun berdoa dengannya, dan Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim).

Sahabat tersebut berdoa menggunakan bahasanya sendiri, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia”. Rupanya, ia tidak menyadari ‘bahaya’ dari kalimat doa tersebut apabila dikabulkan oleh Allah. Maka Nabi saw menuntunkan doa sapu jagat untuk sahabat, dan dengan lantaran itu Allah menyembuhkan dirinya.

Selain doa sapu jagat, sangat banyak pilihan doa dan dzikir yang dituntunkan dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Kita bisa memilih berbagai doa tersebut sesuai konteks yang kita inginkan. Tentu saja boleh menggunakan kalimat kita sendiri, sepanjang kita yakin itu doa yang benar.

 

Daftar Pustaka

Didit Abdul Majid (ed.), Secercah Cahaya di Langit Sukamiskin : Bahagia Bersama Al Qur’an, Sygma Creative Media, Bandung, 2017
Ibnu Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam, Turos Khazanah Pustaka Islam, 2018

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan