Kehilangan Harapan Lebih Buruk daripada Kehilangan Tangan

Kehilangan Harapan Lebih Buruk daripada Kehilangan Tangan

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Pernahkah Anda dihadapkan pada masalah hidup yang pelik? Pernahkah Anda merasa sangat kecewa karena cita-cita dan harapan tidak terwujud? Pernahkah Anda merasa putus asa dalam berusaha? Sangat mungkin, kita semua pernah merasakannya. Lalu bagaimana menghadapinya?

Kita dilahirkan ke dunia melewati berbagai tahap perkembangan dan pertumbuhan. Ketika bayi, kita merangkak lalu berdiri dan mulai belajar berjalan. Seberapa banyak kita terjatuh? Tapi kita segera bangkit lagi untuk berdiri dan berjalan.

Itulah fitrah manusia, tidak diciptakan untuk merangkak tapi untuk terus tumbuh dan berkembang. Tidak masalah seberapa banyak kita terjatuh tapi bagaimana usaha kita untuk kembali bangkit. Dorongan yang membuat kita bangkit adalah harapan. Ya, harapan seperti matahari yang selalu terbit bersinar di pagi hari. Ia akan mengganti kelamnya malam, menyinari bumi dengan kehangatan.

Manusia bisa bertahan hidup tanpa makan hingga tiga minggu. Akan tetapi, tanpa minum manusia hanya bisa bertahan selama empat hingga tujuh hari, tergantung situasi. Lalu apakah manusia bisa bertahan hidup tanpa harapan? Seperti matahari, ketika terbenam maka bumi pun menjadi kelam. Jika harapan hilang, dalam satu detik hidup jiwa manusia bisa melayang.

Semua Orang Punya Masalah

“Semua orang punya masalah”. Kalimat itu saya ambil dari kiriman email seorang teman, yang mencoba mengambil pelajaran penting dari akhir kehidupan Tony Scott yang tragis. Sebagaimana diketahui, Tony Scott, 68 tahun, mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri.

Tidak ada yang menduga, bahwa Tony yang dipuji banyak kalangan perfilman, harus mengalami akhir kehidupan yang mengenaskan. Pada 19 Agustus 2012, Tony naik ke jembatan Vincent Thomas Bridge, Los Angeles, dan meloncat ke sungai.

Tony adalah sutradara sukses di Hollywood. Ia telah berhasil menyutradarai film-film papan atas Hollywood seperti Top Gun, Beverly Hills Cop, True Romance, Enemy of the State dan Unstoppable. Rupa-rupanya, Tony telah kehilangan harapan, atas penyakit yang diderita dan selama ini selalu disembunyikannya.

Banyak orang mengakhiri hidup dengan bunuh diri, karena telah kehilangan harapan. Lalu bagaimana agar harapan itu selalu ada dalam diri kita? Bagaimana cara menjaga harapan agar selalu menyala?

Ada sangat banyak cara. Salah satunya adalah berkomunitas dan bergaul dengan orang-orang salih, yang kehidupannya selalu memancarkan harapan. Bergaul dengan orang-orang positif, yang kehidupannya selalu penuh motivasi. Bersama mereka, kita akan terlarut dalam suasana kehidupan yang penuh harapan.

Itulah sebabnya kita tidak boleh sembarangan berteman dan berkomunitas. Nabi Saw telah mengajarkan:

“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas memberikan pesan, perhatikan teman pergaulanmu, karena mereka yang akan membentuk dirimu. Ini bisa dipahami dalam makna yang sangat luas. Misalnya, jika kita berteman dengan orang-orang yang malas, akan membangun jiwa malas pula dalam diri kita. Jika kita berteman dengan orang-orang yang positif, akan membangun jiwa positif pula dalam diri kita, dan seterusnya.

Dalam hadits yang lain, Nabi Saw mengajarkan, “Ruh manusia itu seperti tentara yang berkelompok-kelompok, jika saling mengenal mereka akan menjadi akrab, dan jika saling bermusuhan maka mereka akan saling berpisah” (HR. Muslim).

Orang-orang positif, akan cenderung berkomunitas dengan sesama mereka. Sebagaimana orang-orang negatif akan cenderung berkomunitas dengan sesama mereka. Maka jangan sampai salah, pilih selalu komunitas positif. Bergaul dengan orang-orang positif akan memberikan dorongan positif dalam kehidupan kita.

Bergaul dalam hal ini tidak terbatas pada interaksi sosial saja, bergaul bisa juga dengan menyelami buah pikirannya. Contohnya adalah buku. Buku yang ditulis oleh orang-orang yang selalu berpikir positif bisa memberikan kita inspirasi serta motivasi.

Kalau Berbeda, Lalu Kenapa?

Saya pernah membaca buku Nick Vujicic dan Hirotada Ototake yang sangat positif. Keduanya terlahir dengan anggota tubuh yang tidak sempurna, berbeda dari manusia lainnya. Namun mereka menjalani hidup dengan positif.

Ternyata tak jauh dari kita, juga ada sosok yang sangat positif. Tak perlu melongok Nick di Australia atau Ototake di Jepang. Kita bisa belajar memupuk harapan dari seorang Agus Yusuf. Seorang pelukis kelas dunia, yang telah mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional.

Kita bisa menyimak kisah hidupnya yang sangat positif, dalam buku “Kalau Berbeda Lalu Kenapa”, karya Sri Rohmatiah. Ini adalah salah satu buku yang banyak memberikan inspirasi dan motivasi bagi saya. Tidak menyangka, ada tokoh pelukis yang berkarya menggunakan alat lukis yang digigit dengan giginya.

Agus Yusuf terlahir tanpa kedua tangan, dan hanya memiliki kaki kiri. Kita bisa membandingkan kesempurnaan fisik yang Allah berikan kepada kita, dengan seorang Agus Yusuf yang difabel. Tanpa kedua tangan, hanya punya kaki kiri, ia terus memupuk harapan dengan berkarya. Ia mampu berkeliling dunia lantaran karyanya.

Orangtuanya sempat terpukul dengan keadaan fisik Agus ini. Hidup dalam kondisi penuh keterbatasan ekonomi, bersyukur orangtua Agus Yusuf mampu bersikap bijaksana. Mereka menanamkan sikap positif sehingga Agus tumbuh menjadi manusia dewasa yang positif pula.

Yang dilakukan Agus setiap hari adalah terus memupuk harapan. Sebab, kehilangan harapan jauh lebih buruk daripada kehilangan kedua tangan dan kaki kanannya. Hanya dengan satu kaki, dia mampu melangkah jauh mewujudkan harapan-harapan itu.

Hingga kini Agus menjadi pelukis profesional semenjak berkenalan dengan organisasi VDMK (Vereinigung der Mund-und Fussmalenden Künstler) atau AMFPA (Association of Mouth and Foot Painting Artists). Sejak 20013 karirnya di dunia melukis semakin maju dengan tercatat sebagai anggota Associate member di AMFPA. Itu artinya Agus telah melewati tahap-tahap melelahkan dari perjuangan hidupnya.

Terbatas secara fisik tak berarti terbatas cinta. Justru di hati Agus Yusuf tersimpan banyak cinta. Ia mampu membangun keluarga bahagia bersama istri dan dua buah hati mereka.

Simak kisah Agus Yusuf di buku “Kalau Berbeda Lalu Kenapa”, yang ditulis oleh Sri Rohmatiah, istri tercinta. Sebuah buku yang akan melejitkan harapan hidup Anda.

 

 

Bahan Bacaan

Sri Rohmatiah, Kalau Berbeda Lalu Kenapa? Wonderful Publishing, 2020

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan