Keluarga sebagai Sumber Energi Positif

Keluarga sebagai Sumber Energi Positif

Keluarga sebagai Sumber Energi Positif

 

By Ummu Rochimah

“Ah.. baru dapat nilai segitu aja kamu udah seneng, harusnya tuh kamu dapat nilai 100.”

“Tumben dapat nilai segini, biasanya kan kamu dapat 50 atau 60, paling tinggi 70, Kamu nyontek ya!”

“Waah.. alhamdulillah anak Mama dapat nilai 60! Besok-besok kalau kamu lebih rajin belajarnya bisa dapat nilai 80 atau 90.”

“Bagus! Hebat kamu bisa dapat nilai segitu. Papa bangga sama kamu.”

Dari kalimat-kalimat di atas, mana yang sering kita ucapkan kepada anak-anak? Kalimat pertama dan kedua atau kalimat ketiga dan keempat?

Sebuah eksperimen dilakukan oleh pendiri dan fasilitator di WEBE Self Empowerment Training, pak Agung WEBE terhadap nasi. Dalam eksperimennya dia meletakkan nasi dalam dua wadah yang ukuran dan bentuknya sama, lalu keduanya ditutup rapat dengan lakban. Pada salah satu wadah ditempelkam kertas yang bertuliskan kata-kata pujian, kata-kata manis dan indah, seperti : aku suka kamu, kamu manis, kamu baik, kamu hebat, dan lain-lain. Sedang di wadah yang lain ditempel kertas dengan kata-kata negatif, seperti : aku benci kamu, kamu jelek, kamu bodoh, kamu payah, dan lain-lain.Kedua wadah diletakkan di tempat yang biasa dilalui oleh keluarganya. Setiap ada kesempatan, anggota keIuarganya yang melewati kedua wadah itu membaca kata-kata yang ada pada kertas tadi. Begitu terus setiap hari. Selang bebrapa hari kedua wadah tersebut dibuka, dan apa yang terjadi? Nasi yang ditempeli kertas dengan kata-kata yang baik, kata-kata positif kondisinya masih cukup baik, tidak berbau dan tidak busuk, hanya warnanya saja yang berubah. Namun, nasi yang ditempeli kata-kata negatif kondisinya sangat buruk, berbau tidak sedap dan membusuk.

Dari sini, kira dapat renungkan, apa yang terjadi pada anak- anak jika setiap hari anak mendapat kata-kata yang negatif, merendahkan, menjatuhkan motivasinya, tidak menghargai usaha dan kerja kerasnya?

Sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam linhkungan keluarganya. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat dominan dalam mendidik anak. Di dalam keluargalah aktifitas anak dan anggota keluarga lebih banyak dilakukan, seperti : mendengarkan, berbicara, berpikir, bertindak, bergaul , dan lain-lain.

Selain di dalam keluarga, anak-anak juga akan menyerap apa yang ada di lingkungan terdekatnya, seperti kerabat, tetangga atau teman-teman sekolah atau bermainnya. Seringkali hal ini menjadi kekhawatiran bagi sebagian orang tua untuk melepas anaknya bermain keluar dari lingkungan rumah. Ketika anak sedang bermain dengan temannya, mungkin saja dia melihat temannya membuang sampah sembarangan, mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, jorok, kasar, atau melihat hal-hal yang sebenarnya belum pantas dilihat seorang anak. Disadari atau tidak, semua yang didengar, dilihat, dirasakan akan terekam dalama memorinya, dan jika itu berlangsung secara terus menerus, lambat laun akan membentuk pola kebiasaan yang akan ditiru dan dilakukan.

Namun, tidak mungkin juga orangtua mengurung anaknya di dalam rumah dengan alasan khawatir atau takut anaknya menjadi berperilaku buruk. Karena anak juga memiliki hak untuk bergaul dan bersosialisasi. Bergaul dengan teman-teman sebaya akan mendorong anak-anak untuk bisa menunjukkan eksistensi dirinya dan dapat meningkatkan rasa percaya diri.

Maka, orang tua harus membekali anak-anak dengan imunitas yang tinggi. Di sinilah tugas orang tua untuk selalu menetralisir pengaruh energi negatif yang diterima anak. Menetralisir dengan pola-pola bimbingan, arahan, didikan, ajakkan dan-lain lain yang bersifat positif. Tugas orang tua dan anggota keluarga yang lainnya untuk terus menumbuhkan kesadaran dalam diri anak bahwa hal-hal negatif yang dia dengar, dia lihat atau dia rasakan adalah tidak benar dan tidak pantas. Pola penyadaran yang dilakukan bukan dengan cara disuruh-suruh atau diperintah, dipaksa, dilarang, diancam, atau dibentak dan dimaki.

Namun, pola penyadaran yang dilakukan harus dilandasi kasih sayang yang tulus tanpa syarat, tutur kata yang lembut dan nyaman didengar, senyuman hangat, pelukan yang bersahabat, dan contoh teladan yang baik. Maka anak-anak akan dengan penuh kesadaran dan pengertiannya akan mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan mana yang tidak boleh dilakukan.

Orang tua harus menyadafi bahwa kata-kata adalah doa. Oleh karena itu, orang tua harus selalu memberikan kata-kata yang positif. Karena kata-kata mempunyai kekuatan yang dahsyat sebagaimana ditunjukkan dalam eksperimen diawal tadi. Berikan hanya kata-kata positif yang penuh inspirasi dan optimisme. Karena kata-kata dapat membentuk persepsi, membentuk pemahaman dan melahirkan tindakan atau perbuatan.

Jangan sampai orang tua mengeluarkan kata-kata caci maki dan sampah yang akan memberi dampak negatif pada anak, merasa direndahkan, dilecehkan, tidak dihargai. Kekuatan kata-kata ibarat pedang bermata dua. Jika digunakan dengan baik maka akan memberi manfaat yang sangat besar. Begitupun sebaliknya, jika menggunakan dengan tidak benar, akan membawa dampak negatif bahkan bisa membawa bencana. Kata-kata juga dapat melemahkan dan mematikan.

Maka, ayah bunda harus dapat mengontrol kata-kata yang keluar dari lisannya agar hanya memberikan kata-kata positif untuk anak-anak.

Tapi, kalau anak-anak bikin emosi bagaimana?
Susit..susah dan sulit mengontrol kata-katanya.

Cukup satu kata jawabnya, yaitu D.I.A.M
Ya, lebih baik diam, jika orang tua tidak bisa mengontrol kata-katanya.

 

27 Ramadhan 1441

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan