Kepercayaan Dirinya

Kepercayaan Dirinya

By.Ida.K

Seperti biasa pagi ini anggota keluarga sudah siap dengan rutinitas masing-masing meski ananda kuliah dan sekolah daring, namun jadwal kegiatan pribadi dari subuh hingga pukul 07.30 tidak pernah berubah seperti hari biasanya. Termasuk Azka yang selalu bangun subuh, namun kali ini dia semangat 45 menyambut pagi. Wajahnya sumringah bak bintang kejora dengan senyum merekah disana.

“Ada apa sih, Az. Semangat banget nampaknya hari ini,” tanyaku penasaran.
“Ah Mama kepo ya…” jawabnya sambil mesem-mesem bikin aku makin penasaran.

“Cerita dong, Az… mau ngapain sih kok segitu semangatnya,” tanyaku lagi.
“Mama mau tahu atau mau tahu banget,” ujarnya dengan gaya ngegemesin.
“Hadeh nih anak.” Bathinku.

“Mau tahu banget, serius Mama nih, Az!” Seruku makin tak sabar.

“Hari ini tuh… Azka udah janji ama Iqis dan Humairo (dua sohib akrabnya), pagi ini ama sore mau main sepeda. Terus Ayra (sahabat satunya lagi) mau ngajak main slime, Ma… Ayra janji mau memberi Azka slime, seru deh hari ini!” Jawabnya mantap.

“Lah… belajarnya kapan, pagi-pagi udah main terus ntar sore main lagi,” tanyaku memancing ingatannya akan disiplin diri.

“Belajar kan nanti siang, Ma… ngaji juga kan siang. Nanti Azka pulang siang, bilang aja ama Abang susul Azka di rumah Ayra biar Azka pulang,” jawabnya tenang.

“Hemmm… Alhamdulillah ingat dia.” Pikirku.

“Ok, deh. Jangan lupa ya, Az… kasihan kan ustazah nunggu di G Meet dan Ammah Upik yang datang nanti,” ujarku lagi mengingatkan.

“Astaghfirullah Maa… Azka udah bilang iya, Ma,” jawabnya dengan sedikit gusar.

Ternyata gaya jengkelnya meniru diriku, dimulai dengan istighfar cantik…hahaha aku tertawa dalam hati seperti memandang cermin melihat gayanya barusan tadi. Pembicaraan pagi selesai, aku pun harus berangkat kerja. Ananda sudah ku bagi habis tugas di rumah dan Abang akan memastikan Azka dengan janjinya hari ini.

****

Tiba sore hari pulang kerja, sampai dirumah menjelang magrib. Azka belum nampak kelibatnya.
“Azka mana, Bang?” tanyaku pada Abang anak ke-3 kami yang berumur 10 tahun dan sudah kutugaskan sebagai penjaga adik di sela SFH nya.

“Biasa, Ma… main sepeda sama teman di depan rumah Iqis. Tapi anehnya temannya pakai sepeda dianya larian. Tadi pagi udah jatuh dan luka, tapi ndak kapok turun lagi sore ini,” jawab abang panjang kali lebar.

“Tolong dijemput dong, kan menjelang magrib,” pintaku padanya.
“Abang mau persiapan ke Masjid, Ma.. ntar terlambat,” jawabnya kurang sreg dengan perintahku.

“Oh, ok minta tolong Kak Ika ya, Mama mandi dulu ganti baju karena dari perjalanan jauh,” jawabku memaklumi kondisinya, dan meminta untuk di bantu kakak nomor 2.
“Ok, Ma,” jawab Abang senang.

Selesai mandi dan berberes diri, keluar dari kamar aku sudah melihat Azka dengan wajah merah padamnya duduk di kursi sofa depan kamar ku.

“Eh, Azka udah pulang, cantik. Mandi yuk habis itu salat magrib ama Mama,” ucapku refleks melihat kehadirannya dan langsung mengambil posisi disampingnya.

“Bentar dulu ya, Ma.. Azka masih capek nih,” ujarnya dengan gaya santuy.
“Ok, 5 menit ya, Az habis itu langsung mandi.” Kali ini jawabku tegas yang disambut lirikan mata maut Azka tanda kurang sreg, namun dia tak berani komentar dan menjawab karena nada bicaraku sudah bisa ditangkapnya sebagai perintah.

Ada kalanya dengan anak umur 5 tahun dibutuhkan keluwesan dalam komunikasi namun tetap ada ketegasan dalam keputusan agar dia menangkap itu sebagai “aturan” yang memang wajib untuk dilakukan.

Dan pada Azka tantangan ini kurasakan lebih berat. Karena satu sisi perasaan sebagai anak paling bungsu dengan kemanjaannya. Serta keadaan lingkungan sekitar yang memiliki perbedaan pola asuh, seringkali dijadikannya sebagai pembanding. Kalau sudah seperti itu, biasanya aku memilih tidak ngotot, namun membuat Azka bisa mengambil hikmah dari kejadian yang dialaminya.

Contoh suatu ketika saat berlangsung G Meet dengan teman sekelas TK dan Ustazahnya. Azka lebih banyak diam, ini tidak seperti biasanya sekaligus menimbulkan pertanyaan. Selesai acara aku mulai menginterogasi azka.

“Kenapa, Nak… tadi kok Azka banyak diam,” tanyaku penasaran sambil memangkunya dan menciumi belakang kepalanya, aku menangkap ada kecewa dan rasa sedih di sana.

“Ma, Azka mau belajar sama Mama ya. Teman-teman tadi pintar-pintar baca bukunya,” jawabnya lirih dengan nada sedih.
“Eh… Azka juga pintar kok tadi Mama dengar, hanya belum lancar saja. Entar kita buat lancar jaya, tapi… Azkanya mesti disiplin jangan banyak mainnya. Kalau Mama tidak ada atau tidak sempat, Azka belajarnya bisa sama Kakak,” jawab ku sambil menyemangatinya.

“Iya, Ma. Tapi… Mama juga janji kalau Azka ngajak belajar Mama harus mau,” jawabnya lagi bernegosiasi.

Aku tersenyum dengan tawarannya, kadang kala saat keinginan belajarnya hadir aku dalam posisi sudah siap cuss ke kantor jam 06.30 pagi. Masya Allah, benar-benar sebuah tantangan. Namun… seperti inilah komunikasi senantiasa dibangun. Memberinya pujian, menghargai keputusannya, memberinya ruang berargumentasi meski tak semuanya benar dan harus disetujui.

Semua bagian dari ikhtiar kami menumbuhkan rasa percaya diri ananda. Dan semoga Azka bisa menyusul 3 saudara lainnya yang memiliki kepercayaan diri namun tak tinggi hati.

Wallahu’alam…

 

Ida Kusdiati

One thought on “Kepercayaan Dirinya

Tinggalkan Balasan