KETAATAN SEPENUH CINTA

KETAATAN SEPENUH CINTA

Oleh: Ummu Rochimah

Setiap perempuan yang memasuki sebuah pernikahan mestilah memiliki cita-cita dan harapan ingin menjadi istri yang sholihah dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Maka mulailah ia membangun angan-angan, harapan dan cita-citanya. Selangkah demi selangkah ia mulai menapaki jalan untuk menuju harapan tersebut.

Namun, ternyata harapan dan cita-cita tidak selalu seiring sejalan dengan kenyataan dan realita kehidupan. Seringkali kenyataan hidup justru bertolak belakang dengan cita-cita yang telah diangankan.

Hingga perempuan itu seperti berada di persimpangan jalan, berjumpa belokan yang sebenarnya tidak ingin ia lalui, namun diujung jalan tersebut nampak pemandangan yang menggambarkan cita-citanya. Atau bertemu tikungan jalan mulus dan rata yang secara naluriah manusia menyukai jalan tersebut, namun ternyata di penghujung jalan tersebut tak nampak sesuatu bayangan yang menjadi cita-cita dan harapannya . Tinggallah perempuan itu kemudian menjadi galau, sementara ia harus segera memutuskan jalan mana yang harus ia ambil.

Menjadi istri sholihah atau ibu yang baik bukanlah suatu bentuk akhir yang terjadi begitu saja tanpa melalui sebuah proses. Ada banyak proses yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tersebut. Dan tentu saja itu tidak mudah untuk mewujudkannya.

Seorang istri harus mengetahui apa-apa saja karakteristik istri sholihah, sehingga ia dapat mengambil lagkah-langkah yang benar dalam menjalani proses menuju cita-citanya.

Walaupun tidak ada perumusan yang baku mengenai karakteristik istri sholihah, namun Al Quran dan Sunnah Nabi banyak menggambarkan ciri-ciri dan karakter istri sholihah, sebagaimana hadits Nabi :
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sebaik-baik harta pusaka seseorang? Yaitu wanita shalihah, yang menyenangkan jika dipandang, menaati jika diperintah suami, dan bisa menjaga (harta dan kehormatan) jika diti ghal pergi.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)

Dari petikan hadits di atas, dapat ditarik benang merah karakter istri sholihah antara lain ; menyenangkan pandangan mata suami, memiliki ketaatan kepada suami dengan sepenuh cinta, mampu membesarkan dan mendidik anak-anak dalam kerangka taat kepada Allah, mampu menjaga harta dan kehormatan suami, menjadi sahabat suami dalam suka dan duka, mampu memotivasi dan menginspirasi suami dalam berbuat kebaikan, menghormati dan memuliakan suami, dan lain-lain.

Ketaatan dalam Sepenuh Cinta

Di antara adab-adab ketaatan istri kepada suami, yaitu hendaknya hal itu lahir dari dalam hati yang disertai keridhoan, cinta dan dalam batasan yang ma’ruf.

“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal-hal yang ma’ruf.” (HR. Muslim)

Maka, ketika seorang suami mengarahkan dan mengajak istrinya dalam kerangka kebenaran dan kebaikan, tidak ada alasan bagi istri untuk menolak dan membantah arahan tersebut. Justru di sana terdapat ladang ketaatan istri kepada suami yang dapat mengantarkannya menuju surga.

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi)

Suami adalah sosok wali bagi istri setelah ia lepas perwalian dari ayahnya, maka sebagai suami ia harus bisa memastikan bahwa istrinya dapat menjadi pendamping yang bisa mengantarkan mereka berdua serta keluarga ke dalam surga. Maka, sewajarnya jika ia memiliki hak untuk ditaati oleh istri setelah taatnya kepada Allah dan Rasul.

Ketaatan istri kepada suami dapat terjadi karena suatu paksaan, namun bisa juga terjadi karena kesadaran bahkan karena kecintaan. Hal ini tergantung bagaimana pola hubungan interaksi dan komunikasi keduanya.

Apabila suami menerapkan pola otoriter dalam kepemimpinannya, tidak memahami perasaan istrinya, tidak mengerti kondisi istri dan suka memaksakan kehendak, mungkin ketaatan tetap akan ada. Namun, kondisi tersebut melahirkan suasana ketidaknyamanan dan rasa ketakutan bagi istri. Kondisi ini dapat diibaratkan seperti menyimpan sebuah bom, yang suatu saat dapat meledak dan menghancurkan segalanya. Rumah tangga mengalami petaka yang besar.

Maka, dalam membangun ketaatan istri kepada suami, hendaknya suami mengembangkan pola kepemimpinan yang dilandasi cinta dan kasih sayang. Suami berlaku lemah lembut kepada istri, karena seorang istri sangat senang dengan kelembutan, suami harus berlaku bijak dan penuh pengertian. Hal ini akan membawa kenyamanan bagi istri. Ketika istri sudah merasa nyaman dengan kondisi tersebut, ketaatan akan muncul secara sadar dan sukarela, ketaatan yang berasal dari dalam hati dilandasi dengan ketulusan, bukan sebuah kepura-puraan atau ketakutan dan keterpaksaan.

Kepemimpinan suami yang penuh cinta dan kasih sayang ini akan membawa kehidupan keluarga yang penuh berkah, keluarga yang tenang, tidak ada kalimat-kalimat keras dan kasar, keluarga yang semua anggotanya merasa senang dan bahagia berada di dalamnya. Maka jadilah keluarga itu laksana surga di dunia.

Tidak ada paksaan dan pemaksaan kehendak.

Sekalipun suami memiliki otoritas, namun ia tidak menindas.

Walaupun istri wajib taat pada suami, namun istri tidak merasa berat.

 

Kisi-Kisi Membangun Ketaatan Istri

Ketaatan istri kepada suami menjadi salah satu karakter yang harus dimiliki oleh istri sholihah. Dan hal ini tidak akan mungkin terwujud bila ia berusaha seorang diri saja tanpa bantuan dari orang-orang di sekelilingnya, terutama suaminya.

Maka, para suami hendaknya mampu menempatkan diri dalam kehidupan keluarga dengan sikap, perbuatan dan ucapan yang membuat istri merasa diterima, dihormati dan dicintai.

Ada kisi-kisi yang dapat dilakukan oleh para suami untuk membantu istri menjadi istri sholihah, antara lain :

1. Suami harus menciptakan pola interaksi dan komunikasi menyenangkan.

Jangan karena merasa memiliki otoritas dalam keluarga, maka kemudian yang terjadi adalah pola komunikasi yang bersifat instruksi, kata-kata yang terucap dari mulutnya hanya sebatas kata perintah, permintaan dan komunikasi searah saja, terlebih lagi jika ada intimidasi di dalamnya. Hal ini hanya akan melahirkan ketaatan yang bersifat keterpaksaan.

Hendaknya para suami, menciptakan pola interaksi dan komunikasi yang dialogis, berlangsung dua arah, memberikan arahan dan bimbingan dengan suasana yang menyenangkan dan penuh kelembutan.

2. Suami hendaknya mengerti kondisi dan perasaan istri.

Seorang perempuan lebih banyak menggunakan emosi dan perasaannya ketimbang akal dan logikanya. Ini sudah menjadi rahasia umum yang harus dikenali dan dipahami oleh laki-laki atau para suami.

Hendaknya suami selalu berusaha memahami dan mengerti hal ini. Suami yang penuh pengertian akan menjadi “sesuatu banget” bagi istri. Istri akan mendapatkan kebahagiaan yang penuh ketika mendapati suaminya mempunyai pengertian ini.

Kalimat-kalimat sederhana seperti,
“Apa yang bisa Abang bantu Dek?” atau

“Sudah kamu istirahat dulu saja. Biar Aa yang beresin mainan anak-anak.”

Duuh, itu terdengar seperti suara dari surga bagi seorang istri, apalagi disaat istri sedang mengalami kerepotan atau kelelahan karena mengurus rumah dan anak-anak.

3. Mendialogkan keinginan dan bermusyawarah dengan istri.

Sirah nabawiyah memberikan contoh yang begitu apik mengenai perlunya melakukan musyawarah dengan istri. Seperti tercatat dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, di mana Rasulullah bermusyawarah dengan istrinya, Ummu Salamah.

Saat itu terjadi situasi yang sangat genting ketika para sahabat enggan untuk melaksanakan perintah Nabi untuk menyembelih unta dan mencukur rambut. Mereka masih memiliki ganjalan di hati karena perjanjian Hudaibiyah yang telah disepakati oleh Nabi dengan kaum Quraisy, yang menurut mereka seperti sebuah kekalahan di pihak Nabi, hal ini membawa dampak psikologis dalam hati mereka berupa keengganan untuk serta merta menuruti perintah Nabi.
Keengganan para sahabat ini pun membuat Nabi menjadi risau hingga beliau “curhat” kepada istrinya, Ummu Salamah. Dan ternyata, Ummu Salamah menyarankan kepada Nabi untuk memberikan contoh saja dengan melakukannya terlebih dahulu tanpa banyak bicara. Benar saja, nasihat itu ampuh. Ketika Nabi melakukan penyembelihan unta dan memotong rambutnya, para sahabat seketika langsung melakukan hal yang sama. Sungguh! Pendapat Ummu Salamah begitu tepat dan mujarab.

Contoh seperti inilah yang hendaknya dilakukan para suami kepada istrinya. Memberikan keteladanan tentang perlunya musyawarah dalam keluarga. Hendaknya para suami bisa mendialogkan keinginannya dalam bahasa musyawarah, atau bahasa yang menyenangkan. Tidak melulu memakai kalimat perintah atau permintaan.

Sungguh, ketaatan istri kepada suami dapat menjadi salah satu jalan baginya untuk mendapatkan surga.

“Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR. Ibnu Hibban)

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan