Ketika Allah Hendak Mengabulkan Doa HambaNya

Ketika Allah Hendak Mengabulkan Doa HambaNya

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Bagian Satu

 

Sarah menyerah. Cita-cita untuk menjadi sarjana pendidikan, sebagaimana harapan ayah ibunya, kini ia gantungkan di jemuran. Ia merasa tidak mampu untuk menyelesaikan skripsi yang tidak kunjung usai. Banyak data yang kurang, banyak analisa yang tumpul. Dosen menuntut hal yang baginya berat.

Pulang kampung, itu keputusannya. Meninggalkan kota pelajar Yogyakarta tempat ia kuliah selama lima tahun. Ia sudah membulatkan tekad untuk tidak melanjutkan skripsi. Lelah.

Kendati ayahnya terus menyemangati, namun ia merasa patah arang. Sangat berat baginya berkutat kembali dengan skripsi yang tak ada ujung pangkalnya. Sahabat dan saudaranya juga selalu memotivasi, namun ia tetap bergeming pada pilihannya.

Di kampung halaman ia mulai membuka diri untuk kehidupan baru. Menjadi orang biasa, orang kebanyakan, bukan sarjana. Mencoba merancang masa depan, tanpa gelar S1 dari sebuah kampus swasta ternama di Yogyakarta, sebut saja : Universitas Bagus Yogyakarta (UBY).

Di kampung, ia tinggal bersama ayah ibu dan adiknya. Suatu pagi ia pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan sehari-hari. Pasar tradisional terbesar di kampungnya —yang terletak sangat jauh dari Kota Yogyakarta.

Saat tengah membeli suatu barang, ibu penjaga toko mengajaknya mengobrol. Begitulah suasana pasar tradisional kampung. Semua orang bukan hanya berjual beli, namun mereka bersosialisasi. Saling berkenalan, saling mengobrol. Maka pasar menjadi ramai dan hidup.

“Kamu masih sekolah atau sudah bekerja?” Tanya ibu penjaga toko.

“Saya kuliah bu”, jawab Sarah.

“Kuliah dimana, Sarah?” Tanya ibu.

“Di Yogyakarta Bu”.

“Wah keren… Di kampus apa Sarah?”

“Di UBY Bu”.

“Waah… UBY ? Itu kampus yang sangat besar dan megah. Aku pernah ke sana mengantar anakku untuk mendaftar, tapi gagal. Padahal anakku sangat ingin kuliah di situ, tapi tidak berhasil masuk. Bersyukurlah kamu kuliah di situ Sarah. Kamu menjadi kebanggaan kampung kita karena berhasil masuk kampus sangat hebat itu…”, ungkap ibu penuh kekaguman.

“Semoga kamu sukses Sarah. Berbanggalah kamu bisa kuliah di kampus yang sangat megah dan hebat itu. Ibu sampai sekarang masih merasa kecewa anak ibu tidak berhasil diterima di UBY. Jadi ibu ikut bahagia kamu kuliah di situ, Sarah”, lanjut ibu.

Sarah terdiam. Bingung. Terdesak.

“Terimakasih ya Bu, saya pulang dulu…” balas Sarah.

“Iya Sarah… Alhamdulillaaah, ibu senang ketemu mahasiswi UBY hari ini….”

Sarah pulang membawa barang belanjaannya. Ia tidak lagi konsentrasi, apakah semua pesanan ayah ibunya sudah terbelikan. Ia menjadi shock mendengar pernyataan ibu penjaga toko tersebut.

Wajah ibu yang berbinar-binar saat menyebut nama kampus UBY —sebuah kampus yang sedemikian mewah, hebat dan besar di mata ibu itu. Kampus yang —siapapun masuk di dalamnya— membuat ibu itu terkagum-kagum.

Sarah tertohok. “Sedangkan aku tidak pernah merasa sehebat itu. Sedangkan aku tidak pernah merasa sebangga itu”, pikirnya. Namun ternyata sedemikian tinggi harapan masyarakat kepada dirinya. “Kebanggaan kampung, karena kamu berhasil kuliah di UBY”, kata-kata itu terngiang kuat di telinga Sarah.

Malam itu ia tak bisa tidur. Membayangkan betapa berat tanggung jawabnya atas harapan orang yang memiliki persepsi atas kehebatan UBY. Sebuah kampus yang lima tahun ia telah bergelut dan bergulat dengan sangat banyak hal, namun berujung pada keputusasaan.

Perjumpaan dengan ibu penjaga toko pagi itu membuatnya berpikir ulang. Ia limbung. Kembali menimbang keputusasaannya. Kembali mengukur pelariannya, pulang kampung. Ia seperti mendapatkan kekuatan baru.

Malam itu Sarah bangkit. Benar-benar bangkit. Bagaimana kalau ia tiap pagi harus ke pasar dan bertemu dengan ibu itu? Apa yang harus dikatakan kepada ibu itu kalau ia bertanya mengapa dirinya di kampung terus? Bukannya sekarang saat-saat kuliah? Bukankah harusnya di Yogyakarta? Ah, Sarah pasti tak akan mampu menjawab pertanyaan demi pertanyaan si ibu apabila ia ketemu setiap hari.

Terbayang betapa kecewa ibu tersebut apabila “satu-satunya anak kampung ini yang kuliah di UBY” ternyata drop-out karena tak mampu menyelesaikan skripsi. Apapun alasannya, pasti si ibu itu sangat kecewa. Sarah membayangkan, betapa malu dirinya jika hal itu benar-benar terjadi.

Ketika bangun pada pagi harinya, Sarah pun berkemas. Ia mencium tangan ayah dan ibunya, “Doakan Sarah bisa menyelesaikan skripsi. Insyaallah Sarah akan menyelesaikannya”.

Sarah berjanji tidak akan mengecewakan harapan ibu penjaga toko di pasar tradisional itu. Terlebih harapan ayah ibunya –yang keduanya guru dan telah pensiun. Keduanya ingin melihat putrinya diwisuda menjadi sarjana pendidikan dan kelak menjadi guru.

Pagi itu, Sarah kembali ke Yogyakarta. Ia bertekad menyelesaikan skripsinya.

 

********

Bagian Dua

 

“Silakan masuk, Sarah”, ujar dosen pembimbing skripsi.

Sarah duduk di kursi, di depan sang dosen. Menunduk.

“Mau ngapain lagi ke sini, Sarah?” Tanya sang dosen.

“Saya mau meneruskan skripsi Pak. Mohon bimbingannya…” Lirih Sarah mengucap kalimat itu.

“Kamu yakin?”

“Yakin Pak” jawab Sarah.

“Apa yang membuatmu kembali ke sini Sarah? Kamu telah pamit tidak akan menyelesaikan skripsi yang kurang seperempat lagi….”

Sarah terdiam.

“Boleh aku tahu, apa yang membuatmu memutuskan untuk menyelesaikan skripsi?” Sang dosen masih menyelidik.

“Ceritanya memalukan Pak. Tolong jangan ditertawakan”, ujar Sarah.

“Baiklah Sarah. Aku akan dengarkan”.

Sarah memulai cerita tentang perjumpaan dengan ibu penjaga toko di pasar kampung. Sungguh sangat malu Sarah menceritakan semua itu. Hal sangat remeh dan sederhana, yang membuat dirinya mengubah keputusan.

Sang dosen mengangguk-anggukkan kepala.

“Baiklah. Mulai besok pagi, kamu harus ketemu aku setiap hari. Aku siap membimbing kamu sampai kamu berhasil menyelesaikan skripsi. Jangan kecewakan ibu itu. Terlebih kedua orangtuamu”, ujar sang dosen.

Sarah semakin mantap. Ia yakin akan bisa membahagiakan kedua orangtuanya, juga ibu penjaga toko itu.

 

********

 

Bagian Tiga

 

Terkadang Allah mengutus seseorang kepadamu untuk menyampaikan suatu pesan kebaikan. Kemudian Allah menggerakkan hatimu untuk melakukan pesan kebaikan itu. Lantaran dirinya, kamu melakukan aktivitas kebaikan tertentu.

Mari kita lihat contoh kejadian pada diri Sarah.

Ayah dan ibu Sarah, selalu mendoakan putri kebanggannya agar bisa lulus dan wisuda dari Kampus UBY. Doa yang tak putus-putusnya dimohonkan kepada Allah, baik di tengah malam buta saat bangun malam untuk tahajud, atau doa di dalam shalat sunnah mereka dan usai shalat lima waktu.

Nasihat dan motivasi tak lelah disampaikan, namun Sarah selalu bergeming. Ia tidak tergerak hatinya oleh kata-kata kedua orangtuanya. Ia benar-benar merasa mentog, tak mampu menyelesaikan skripsi. Ia telah memilih mundur teratur dari kampus.

Namun Allah hendak mengabulkan doa kedua orangtua Sarah. Maka Allah mempertemukan Sarah dengan ibu penjaga toko —sebuah skenario Allah yang tak pernah direncanakan manusia.

Lewat lisan ibu penjaga toko, Sarah terbuka hatinya, tergerak jiwanya. Lewat perjumpaan tak lebih dari seperempat jam itu, Sarah bangkit. Ia merasa menemukan kekuatan. Ia merasa menemukan alasan, untuk apa menyelesaikan skripsi.

Sarah tak pernah menduga, sangat banyak orang di luar sana yang menginginkan posisi dirinya. Selama ini ia merasa biasa saja menjadi salah satu mahasiwi UBY —satu dari ribuan mahasiwa UBY. Dirinya merasa hanya sebutir pasir di padang pasir nan luas. Tak berarti.

Maka saat ia mundur teratur dari kampus, ia merasa tak akan berpengaruh apapun, kepada siapapun. Itu yang ada di benak Sarah.

Allah ingin Sarah mengerti, bahwa pikirannya itu salah. Maka Allah pertemukan Sarah dengan ibu penjaga toko, yang dengan sangat lugu menceritakan kekagumannya terhadap kampus UBY. Si ibu masih merasa kecewa bahwa anaknya tidak keterima menjadi mahasiswa di UBY, padahal si anak dan kedua orangtuanya sangat ingin bisa keterima di UBY.

Ternyata posisi diri Sarah sebagai salah satu mahasiswi UBY, ada banyak orang lain di luar sana yang menghendakinya. Kapasitas kampus itu terbatas, selalu ada calon mahasiswa yang tidak diterima. Sarah adalah salah satu manusia Indonesia yang beruntung bisa mengenyam pendidikan di kampus bergengsi itu.

Kita saksikan betapa indah dan agung makna di balik peristiwa sederhana perjumpaan Sarah dengan ibu penjaga toko di pagi itu. Rupanya, dengan cara itu, Allah hendak mengabulkan doa kedua orangtua Sarah.

Subhanallah. Selalu ada cara dan skenario Allah untuk mengabulkan doa hamba yang bersungguh-sungguh memanjatkannya. Apalagi doa orangtua kepada anaknya, adalah satu dari tiga doa yang akan dikabulkan Allah, doa yang tidak tertolak oleh Allah, sebagaimana disabdakan Nabi mulia:

“Tiga macam doa yang tidak tertolak, yaitu doa orangtua (kepada anaknya), doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.Hadits Riwayat Imam Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih.

Dengan cara itu pula, Allah hendak menunjukkan kepada Sarah cara bersyukur. Bahwa Sarah harus menyelesaikan skripsi yang sudah dilaluinya tigaperempat bagian, tinggal seperempat terakhir yang belum diselesaikannya. Bersyukur, artinya harus menyelesaikan skripsi.

Begitulah, dalam realitas sehari-hari, ada pesan-pesan kebaikan yang mungkin Allah titipkan melalui orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita. Bisa jadi, ada orang yang hadir sebentar saja dalam hidup kita, namun memberikan pesan kebaikan yang mendalam. Pesan yang membuat kita terus menerus melakukan suatu kebaikan tertentu, lantaran pesan orang tersebut.

Begitu pun, selalu ada cara yang mudah bagi Allah untuk mengabulkan doa hambaNya yang bersungguh-sungguh memohon tanpa putus asa. Maka jangan pernah mengabaikan kekuatan doa, karena doa adalah senjata orang beriman yang sangat ampuh.

Nabi Saw telah bersabda, Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain doa”. Hadits Riwayat Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, Ahmad 2/362. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.

 

 

Catatan:

Kisah Sarah di atas, saya dapatkan langsung dari pelakunya. Sarah —bukan nama sebenarnya— menceritakan kepada saya, akhir Ramadhan kemarin. Kampus tempat ia kuliah, adalah sebuah kampus Islam di Yogyakarta. Kini Sarah tengah berjuang dengan penuh semangat untuk menyelesaikan skripsi, dalam bimbingan sang dosen.

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan