Ketika Anak Menjadi Korban Bullying

Ketika Anak Menjadi Korban Bullying

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Sebagai orangtua, apakah Anda tahu peristiwa yang dihadapi Anak Anda? Tahukah Anda, seberapa keras ‘pertempuran’ yang mereka hadapi? Tahukah Anda, seberapa sengit bullying yang pernah mereka alami?

Sering kali, karena kesibukan yang mendera, orangtua tidak mengerti apa yang terjadi pada anaknya. Kadang anak tidak nyaman untuk bercerita terbuka kepada orangtua. Demi menyenangkan hati orang tua, dan tidak menjadi beban bagi orangtua.

Mari saya ajak Anda mengerti perasaan anak yang pernah menjadi korban bullying. Menurutnya, orangtuanya tidak mengerti apapun yang terjadi pada dirinya. SImak penuturan berikut ini.

*************

“Namaku Melati. Aku korban bully dari teman-temanku. Setiap bermain aku dijahili oleh mereka.  Aku biasa bermain sepak bola dengan teman-teman laki-laki di kampungku. Aku ahli panco, lawanku juga anak-anak laki-laki.

Aku jago juga dalam bermain voli. Ketika smash, dijamin selalu dapat poin. Aku pun biasa bermain di sawah bersama teman-temanku. Aku suka merusak tanaman di sawah, nanti orang tuaku yang harus bertanggung jawab atas perbuatanku.

Mungkin ini wujud perlawananku pada orang tuaku yang tak pernah mengizinkan aku untuk menentukan semua pilihanku. Apa yang diinginkan orang tua harus aku lakukan. Tidak pernah sama sekali ditanya mauku apa dan tak pernah pula ditanya kenapa aku memilih itu.

Orang tuaku juga tidak pernah tahu bagaimana rasanya aku di-bully dan dipermalukan teman-temanku”.

****************

Kisah di atas ditulis oleh Widya Nugraheny, berjudul “Asa Melati”. Merupakan salah satu kisah inspirasi yang ada dalam buku “Anakku Guru Istimewa”, terbitan terbaru Wonderful Publishing (2020).

Buku “Anakku Guru Istimewa” ini merupakan karya bersama dari 17 orang penulis, yang tengah belajar bersama saya di Kelas Menulis Antologi batch 5 / 2020. Buku ini berusaha menggali pelajaran berharga yang kita dapatkan dari anak-anak maupun murid di sekolah.

Sebab, orang dewasa sering merasa telah banyak memberi pelajaran kepada mereka. Padahal sebenarnya, kitalah yang mendapat banyak pelajaran dari mereka. Buku ini sangat layak untuk menjadi sarana pembelajaran bagi kita semua, orang-orang dewasa.

Selamat dan sukses saya sampaikan kepada 17 kontributor buku “Anakku Guru Istimewa”, yaitu Diana Nurul Hidayati, Nurlaila, Iwan Rudi Saktiawan, Adji Soegiatno, Nanik SW, Diana Ariani, Osep Muhammad Yanto, Ries Ambarsari, Haripah Wijayati, I Made Suardika, Deswati, Widya Nugraheny, Sinung Dyah Artati, Umi Laili, Yenni Merdekawati, Nurhayati Hasan, dan Dewi Sahara.

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan