Kembali
Ruang Tamu

Ketika Emak Diprotes Anak Karena Asyik Menulis

.

Oleh : Ida Kusdiati, ID – 01301 EEPK 2020

.

Sabtu kemarin, saat asyik menulis sambil diskusi ringan dengan Si Kakak, tiba – tiba drakor di rumah semakin horor antara anak ke-3 dan ke-4.

“Ma, heboh tuh pada dua ekor krucil, dari kemarin ada aja yang diributkan.” Kakak memintaku turun tangan karena menyerah menjadi penengah kedua adik kecilnya.

“Sepertinya Mama deh yang harus turun tangan, kalau Kakak bisa panas nih ubun-ubun, I’m speechless.” Sambil mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.

Ehm… baiklah aku harus menutup laptop sementara dan menjenguk apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa anak Mama ganteng soleh kok ndak bosan ya membuat drama di pagi hari?” tanyaku dengan senyum bak Mpok Atik (artis) yang lagi marah ama anaknya.

“Azka nih, Ma ndak fair. Masak giliran mau main sama Milo dan Rambo (dua kucing mereka) bilangnya ini kucing Azka. Giliran disuruh ayah beresin makanan sama berantakannya itu kan kucing Abang, gimana coba ndak jengkel.” Jawab Si Abang dengan muka masam bak jeruk purut.

Aku langsung memutar wajah ke Azka yang berdiri di sebelah kiriku.

“Azka anak solehah Mama…,” aku tak bertanya panjang kali lebar hanya memandangi wajahnya meminta klarifikasi jujur darinya.

“Azka kan masih anak kecil, Ma.” Kembali senjata rahasia dengan wajah memelas dipakainya untuk membujukku.

“Kalau anak kecil ndak boleh beres-beres gitu,” balik aku bertanya padanya dengan gaya anak jaman now.

“Mama dengar dulu,” dia mulai bergaya bak ustadzah mau ceramah dan Si Abang di sebelah kananku mulai melengos.

“Hadeh, kumat dah!” Mau pecah saat itu tawaku, tapi kutahan karena bagi Azka ini masalah serius terkait kredibilitasnya.

“Maksud Azka… Abang harus paham dong adiknya kan ndak mungkin kerjakan semua karena masih kecil. Itu tanggungjawab Abang lah!” Dengan mimik pemain watak kelas Oscar.

“Udah deh Ma, biar Abang beresin. Dengerin Azka ngomong bisa keburu zuhur ntar.” Si Abang langsung mengambil penyapu bergerak membereskan apa yang diminta Ayah terkait komitmen mereka merawat dua kucing di rumah.

“Nah gitu dong!” Azka menimpali jawaban Abang. Hadeh si kecil satu ini ada aja tingkahnya, beruntung Abang sedang dalam cuaca bagus jadi drakor tak berlanjut.

Aku bisa bernafas lega. Saat akan kembali ke laptop Azka menghadangku.

“Stop, Mama tidak boleh nulis hari ini.” Dengan tangan di pinggang dan muka bak tentara perang.

“Boleh dong, Dek,” dengan suara merayu aku meminta ijinnya.

“No, Mama sekarang ndak asyik sejak suka nulis.”

Glek. Aku menelan liur pahit atas pernyataannya. “Segitunya kah aku…?”

Dia melanjutkan, “kalau ditanya jawabnya suka, he eh ntar ya Dek, banyak he eh…, he eh…, ndak asyik tahu, Ma” dia mengeluarkan uneg-unegnya.

“Astaghfirullah,” aku membatin dalam hati kudekati dia, kupeluk dan kucium pipinya hangat.

“Maafkan, Mama ya…” aku seperti ditampar dan rasa menyesal menghampiriku, ini alarm peringatan.

Langsung kuputuskan sejak jam itu akan akan mengatur ulang semua jadwal menulis dengan tak menzolimi perasaan anak-anak dan hak mereka atas diriku.

Mulailah “Emak jadi kalong”. Demi mewujudkan mimpi membukukan tulisan yang saat ini sudah separoh perjalanan aku harus mampu mengatur waktu seefektif dan seefisien mungkin.

Setelah Abang dan Azka tidur pukul 09.00 malam tadi, sampai pukul 00.30 aku mampu menyelesaikan 3 cerpen dan 1 puisi, ini tak masuk mengedit. Urusan edit akan dilakukan sesaat ketika akan mengupload tulisan itu ke media sosial.

“Alhamdulillah” cepat menutup laptop dan berwudhu selanjutnya tidur. Karena target 03.30 sudah bangun kembali.

Sambil berbaring menunggu mata agar mengantuk menyempatkan diri membuka buku “PUKAT” serial novel Tere-Liye ini bagian dari mengaplikasikan ucapan Co-Mentor di Kelas Fiksi “Emak-Emak Punya Karya”.

Kata Mbak Rita, “latihan, Mak banyak baca.”

Kebetulan novel ananda yang paling terlihat dan tak bosan di baca “PUKAT” karya Tere-Liye. Karena satu proyek buku yang sedang kutulis adalah kisah masa kecil anak melayu Pontianak.

Tapi aku tak ingin jadi Tere Liye karena aku bukan dia, aku adalah diriku sendiri. Gaya menulisku ya aku. Meski aku selalu meyakini belajar Ilmu harus dengan guru sebagaimana para ulama.

Salah satu semangat para ulama dalam menuntut ilmu tercermin dalam usaha mereka untuk belajar dengan banyak guru. Para ulama berusaha mendapatkan ilmu dan faidah dari berbagai guru, karena setiap guru terkadang memiliki keahlian masing-masing.

Nah di sinilah aku di Kelas “Emak-Emak Punya Karya” aku berusaha menimba ilmu dari Gurunda Pak Cahyadi Takariawan dan Ibu Ida Nurlaila.

Apakah aku langsung menjadi “Tere-liye” keluar dari kelas ini? Tentu tidak. Tugasku menambah hasanah ilmu mengasahnya kembali dan tentu saja tekad mengamalkan ilmu yang telah kuperoleh dengan menghadirkan tulisan.

Bismillah.

Pontianak, 26 Juli 2020

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.