KETIKA KITA BERDIRI MENGHADAP ALLAH

KETIKA KITA BERDIRI MENGHADAP ALLAH

Kuliah Ramadhan Hari Keenam

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Setiap mendengar kata “berdiri”, bagi orang beriman akan mengingatkan kepada keadaan hari kiamat kelak, yaitu ketika semua manusia berdiri di hadapan Allah.

يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Yauma yaqụmun-nasu lirabbil ‘alamin, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin : 6).

Berdiri, telah dijadikan salah satu rukun shalat yang utama. Nabi Saw telah bersabda, “Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, kerjakanlah dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu lagi, maka kerjakanlah dengan tidur menyamping.” Hadits Riwayat Imam Bukhari no. 1117.

Ketika seorang hamba berdiri menghadap Allah untuk shalat, hendaknya menghadirkan kesadaran penuh. Bukan berdiri dengan jiwa kosong, berdiri dengan malas, berdiri dengan mengantuk atau berdiri dengan melamun. Sadari sepenuhnya, bahwa kita tengah berdiri menghadap Allah.

Ibnul Qayim rahimahullah menjelaskan:

فإنه إذا انتصب قائما بين يدي الرب تبارك وتعالى شاهد بقلبه قيوميته وإذا قال الله اكبر شاهد كبرياءه  وإذا قال سبحانك اللهم وبحمدك تبارك اسمك وتعالى جدك ولا إله غيرك شاهد بقلبه ربا منزها عن كل عيب سالما من كل نقص محمودا بكل حمد فحمده يتضمن وصفه  بكل كمال.

“Maka jika seorang hamba berdiri tegak di hadapan Rabb Tabaraka wa Ta’ala, berarti ia tengah menyaksikan dengan hatinya Kemahamandirian Allah. Jika ia mengucapkan, “Allahu Akbar”, maka ia tengah menghayati Kemahabesaran-Nya”.

“Ketika ia mengucapkan, “Subhanakallahumma wa bihamdika, tabaarakasmuka wa Ta’ala Jadduka, wa la ilaha ghairuka”, maka ia pun menyaksikan dengan hatinya Tuhan yang disucikan dari seluruh aib, senantiasa selamat dari seluruh kekurangsempurnaan, terpuji dengan segala pujian. Pujian terhadap Allah tersebut mengandung pensifatan bagi-Nya dengan setiap sifat-sifat sempurna.”

Pada saat berdiri dalam shalat, hendaknya kita mengingat akan hadirnya masa, dimana kita semua akan berdiri menghadap Allah Ta’ala. Berdiri yang sangat lama, empatpuluh tahun, menunggu pengadilan Allah. Itulah yaumul hisab yang sangat mencekam.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah Ibnu Mas’ud Ra, bahwa Nabi Saw telah bersabda:

يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أَبْصَارُهُمْ يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ

“Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir, pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah.” Hadits Riwayat Ibnu Abi Dunya dan Ath-Thabrani. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib, no.3591.

Maka saat shalat, kita benar-benar berkonsentrasi dalam melakukannya, berharap Allah kelak akan memudahkan urusan kita saat berdiri menghadap Allah pada hari hisab. Agar Allah berkenan mengampuni kita, menerima kita sebagai hambaNya yang berserah diri hanya kepadaNya. Berharap kelak kita mendapat syafaat dari Nabi Saw, karena kita menegakkan shalat.

Berikut lanjutan kondisi manusia saat kelak berdiri menghadap Allah. “Ketika kesusahan yang mereka rasakan semakin memuncak, akhirnya mereka mencari orang yang dapat memberikan syafa’at, agar Allah Ta’ala segera mempercepat keputusan-Nya. Mereka pun akhirnya berusaha mendatangi Nabi Adam, kemudian Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa bin Maryam untuk meminta syafa’at darinya, namun mereka semua menolaknya”.

“Akhirnya mereka datang kepada Rasulullah Saw untuk meminta syafaat dari beliau. Dengan izin Allah Rasulullah Saw memberikan syafaat kepada umat manusia, agar mereka diberi keputusan. Hadits Riwayat Bukhari, no. 4712 dan Muslim no. 194.

Masyaallah, betapa ngeri dan mencekam suasana hari hisab kelak. Maka saat berdiri untuk shalat, hadirkan kesadaran bahwa kelak akan berdiri lagi —lebih lama— di hadapan Allah menunggu pengadilan. Semoga semua urusan kita dimudahkan dirahmati Allah, hingga selamat menggapai surgaNya.

Selamat menunaikan shalat dengan sepenuh kesadaran dan kehadiran jiwa. Jangan lupa, perbanyak pula sedekah, mumpung ketemu bulan penuh berkah.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan