KIBLAT HATI DAN KIBLAT BADAN

KIBLAT HATI DAN KIBLAT BADAN

Kuliah Ramadhan Hari Ketujuh

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Di antara syarat sah shalat adalah menghadap kiblat. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab Manhajus Salikin menjelaskan:

وَمِنْهَا: اِسْتِقْبَالُ اَلْقِبْلَةِ: قَالَ تَعَالَى: { وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ اَلْمَسْجِدِ اَلْحَرَامِ } اَلْبَقَرَةِ: 150

Di antara syarat shalat lainnya adalah menghadap kiblat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.’ (QS. Al Baqarah: 150).

Secara bahasa, kiblat artinya “jihhah” atau arah. Sedangkan secara pengertian syar’i, kiblat adalah Ka’bah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

“Menghadap kepada Allah, rahasia shalat, ruh dan intinya ialah keberadaan hamba yang menghadap Allah secara totalitas, sebagaimana ia tidak dibolehkan memalingkan wajahnya dari kiblat Allah, ke kanan atau ke kiri, maka tidak semestinya pula ia memalingkan hatinya dari Allah kepada selain-Nya”.

Kiblat sebagai arah, ada dua jenis. Yang pertama adalah kiblat hati dan ruh, yang kedua kiblat wajah dan badan. Ibnul Qayyim menjelaskan hal ini, “Ka’bah adalah Baitullah, yang menjadi kiblat wajah dan badan seorang hamba, sedangkan Rabbul Bait —Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah kiblat hati dan ruhnya. Maka sejauh mana seorang hamba menghadap Allah dalam shalat, sejauh itu pula Allah menghadap kepada hamba-Nya. Jika manusia berpaling, maka Allah juga berpaling darinya”.

Ketika kita menghadap kiblat, sesungguhnya bukan hanya menghadapkan wajah dan badan ke arah Ka’bah. Lebih dari itu, harus ada usaha menghadapkan jiwa kita hanya kepada Allah saat shalat. Hal ini sebagai cara menginstal jiwa manusia, agar di luar shalat selalu berorientasi kepada Allah.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Menghadap Allah dalam shalat ada tiga kondisi. Pertama, memperhatikan hatinya, sehingga ia menjaga hati dari bisikan dan lintasan-lintasan pikiran yang bisa menggugurkan atau mengurangi pahala shalatnya. Kedua, menghadap kepada Allah dengan merasa diawasi oleh-Nya, sehingga seolah-olah ia melihat Allah. Ketiga, memperhatikan makna-makna firman-Nya dan perincian peribadatan shalat agar ia dapat menunaikan hak shalat. Dengan menyempurnakan tiga kedudukan ini, maka tewujudlah penegakkan shalat yang sebenarnya, dan kadar menghadapnya Allah kepada hamba tergantung hal itu”.

“Jika seorang hamba tegak berdiri di hadapan Allah, maka berarti ia (menghadap kepada Allah dengan) menghayati Kemahamandirian dan Keagungan-Nya dan jika ia bertakbir, maka berarti ia (menghadap kepada Allah dengan) menghayati Kemahabesaran Allah,” demikian penjelasan Ibnul Qayyim.

Kiblat juga simbol penyatuan ummat Islam di seluruh dunia. Dimanapun kaum muslimin berada, mereka akan menghadapkan wajahnya ke Kiblat saat shalat. Di sini merupakan simbolisasi, tentang penyatuan tujuan dan pandangan ummat Islam. Mengingatkan kepada kita semua pentingnya bersatu, walaupun terdapat perbedaan dalam hal-hal furu’, namun satu pandangan dalam hal yang prinsip.

Semoga hati, pikiran dan jiwa kita semua, lurus menghadap Allah. Bukan hanya dalam shalat, namun juga dalam kehidupan keseharian, Allah adalah arah dan tujuan. Semua aktivitas hidup kita, hanyalah untuk Allah. Jangan lupa, perbanyaklah sedekah, mumpung ketemu bulan penuh berkah.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan