Kisma Fawzea: Membuka Layanan Konseling Gratis, Membumikan Konseling Keluarga

Kisma Fawzea: Membuka Layanan Konseling Gratis, Membumikan Konseling Keluarga

Nama Lengkap : Kisma Fawzea

Nama Panggilan : Zeezee

Nama Suami Istri : Muhammad Iqbal

Jumlah Anak : 3

Agama : Islam

Tempat Lahir : Baghdad

Tanggal Lahir : 2 Maret 1982

Pendidikan : Sarjana Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Warga Negara : Indonesia

Aktivitas : Ibu rumah tangga, Konselor (sejak 2006) dan pemilik Rumah Konseling, pendiri komunitas Bamboo Moms (komunitas diskusi untuk para orang tua muda di Pamulang)

Media sosial : zeezeefawzea (Facebook), zeezeefawzea (Instagram)

Alamat Rumah Konseling:  Jl. Saidin No. 17 Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan: Telepon 082272187182/081218953316

 

Kisma Fawzea atau yang akrab dipanggil Zeezee adalah istri dari Muhammad Iqbal PhD. Mereka berdua adalah pendiri sebuah lembaga bernama Rumah Konseling. Sesuai namanya, lembaga tersebut dibentuk untuk membantu dan membimbing masyarakat dalam menghadapi berbagai masalah rumah tangganya. Seperti masalah kerenggangan hubungan antaranggota keluarga, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kecanduan konten pornografi oleh anak-anak, dan lain-lain.

 

Hebatnya, untuk jasa konseling tersebut, Rumah Konseling tidak menetapkan dan membebankan tarif pada para kliennya. Ia mempersilakan siapa saja, termasuk mereka yang tidak memiliki cukup biaya membayar jasa konseling, untuk berkonsultasi kepadanya.

 

Zeezee telah aktif memberikan jasa konseling sejak 2006. Hal itu bermula dari peristiwa KDRT yang menimpa seorang temannya. Ketika itu, temannya bercerita kepadanya, dia hampir dibunuh oleh suaminya. Percobaan pembunuhan terhadap temannya tersebut telah terjadi beberapa kali. Mendengar cerita temannya, Zeezee pun mencoba memberikan konseling berupa nasihat dan motivasi. Alhamdulillah, setelah itu, entah bagaimana dia tidak lagi mengalami KDRT. Suaminya juga mulai paham kondisi temannya.

 

Sejak saat itu, masyarakat yang mengalami hal serupa dengan temannya mulai berdatangan ke rumah Zeezee untuk berkonsultasi. Iinfo tentang rumah konselingny mulai merambat dari mulut ke mulut. Bahkan, ada yang datang dari luar kota dan menginap di sekitar rumahnya hanya untuk konsultasi.

 

Sebagai seorang psikolog keluarga, Zeezee menilai, selama ini masyarakat memang kurang menyadari adanya pelayanan atau jasa konseling untuk mengatasi masalah rumah tangga mereka. Hal itu menyebabkan masyarakat tidak tahu harus pergi ke mana atau mendatangi siapa ketika menghadapi problem internal keluarga.

 

Ketika masalah rumah tangga tak dapat diselesaikan, menurut Zeezee, terkadang masyarakat justru menempuh cara-cara tak lazim, misalnya meminta pertolongan dukun. Ini sangat memprihatinkan sebenarnya, karena mereka yang datang ke tempat-tempat seperti itu pasti malah dimanfaatkan. Berangkat dari keprihatinan tersebut, pada awal 2012, Zeezee memutuskan untuk membangun Rumah Konseling. Dalam prosesnya, Zeezee dibantu oleh suaminya dan adik iparnya.

 

Ketika baru didirikan, Zeezee mengaku sempat menetapkan biaya atau tarif untuk mereka yang ingin berkonsultasi. Namun, akhirnya Zeezee beserta suami dan adik iparnya menyadari bahwa cukup banyak pula masyarakat kurang mampu yang mengalami problem rumah tangga dan membutuhkan pertolongan serta bimbingan.

 

Suami dan adik ipar Zeezee juga sepakat, kasus perpecahan atau kekerasan dalam rumah tangga memang lebih sering terjadi di lapisan masyarakat kurang mampu. “Kami melihat, justru masyarakat yang kurang mampu itu yang memiliki masalah yang sangat besar. Misalnya, lingkaran kekerasan yang begitu marak, kurang adanya kesadaran tentang bahaya pornografi, dan lainnya,” kata dia.

 

Zeezee beserta suami dan adik iparnya, tidak ingin menutup diri dari masyarakat seperti itu. Akhirnya, mereka sepakat untuk tidak menetapkan dan membebankan tarif kepada para klien yang datang ke Rumah Konseling. Sejak itu, Zeezee selalu mengingatkan kepada para kliennya. Terutama mereka yang berasal dari kalangan kurang mampu, untuk tidak memikirkan masalah biaya konseling.

 

Kendati demikian, masih terdapat beberapa kliennya yang tetap menyisihkan uang untuk membayar jasa konseling. Kalaupun tak dibayar,  Zeezee sadar bahwa rezeki datangnya memang hanya dari Allah Swt. Selain untuk membantu mereka yang tak mampu, dihilangkannya tarif jasa juga bertujuan membumikan lagi konseling kepada masyarakat. Karena itu, mereka yang tengah mengalami masalah keluarga atau rumah tangga, tidak menempuh cara-cara klenik untuk menyelesaikannya.

 

Selain menangani kasus atau permasalahan rumah tangga, Rumah Konseling juga telah disambangi oleh mereka yang mengalami kebingungan orientasi seksual atau kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Hingga saat ini, Rumah Konseling telah menangani belasan klien LGBT. Proses konseling itu yang langsung datang menemuinya, ada pula yang via online, seperti (konseling) lewat WhatsApp, Facebook, dan email.

 

Seluruh pengalamannya menangani beragam klien, selalu menjadi bahan pembelajaran untuk Zeezee. Pengalaman dan pengetahuannya dalam bidang psikologi keluarga juga selalu ia bagikan kepada publik melalui acara diskusi atau seminar. Hingga saat ini, para klien yang dibimbingnya selalu berhasil menyelesaikan masalah keluarganya masing-masing. Meskipun tidak dibayar, melihat senyuman mereka yang lega keluar dari ruangan saya, mengucapkan terima kasih dan bersyukur karena Allah mempertemukan saya dengan mereka, itu sudah membuat Zeezee terharu.

 

Zeezee berharap, dirinya selalu diberi keberkahan usia dan tenaga agar dapat membantu lebih banyak lagi orang-orang yang mengalami permasalahan keluarga atau rumah tangga. Dengan demikian, masyarakat akan semakin tinggi kesadarannya tentang peran lembaga konseling. Mereka pun tak lagi pergi ke tempat-tempat klenik untuk menyelesaikan masalahnya.

 

Sumber: Republika

ruangkeluarga

Tinggalkan Balasan