KOMUNIKASI SAMBUNG HATI

KOMUNIKASI SAMBUNG HATI

KOMUNIKASI SAMBUNG HATI

 

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

“Mas pasti ngga dengerin aku!”

“Aku mendengerkan dek…”

 

“Mas ngga mau ngertiin aku!”

“Aku mengerti perasaanmu dek..”

 

“Kenapa mas ngga mau bantuin aku sih..?!”

“Apa yang harus aku bantu? Aku harus gimana dek…?”

 

Suami mati-matian meyakinkan istri bahwa ia mendengarkan, mengerti dan mau membantu sang istri. Sementara sang istri pun ngotot bahwa suaminya tidak sungguh-sungguh mendengarkan, mengerti dan mau membantunya. Akhirnya, keduanya frustasi dengan komunikasi mereka. Ujung-ujungnya sang istri menjadi sungkan untuk mengungkapkan perasaannya dihadapan suami, sedangkan suami, menjadi tak peduli dengan segala keluhan istri.

 

Seringkali permasalahan rumah tangga muncul karena ketidaknyamanan komunikasi antara suami dan istri. Mereka enggan untuk mengkomunikasikan apa yang dirasakan, karena khawatir akan menimbulkan pertengkaran. Banyak persoalan yang didiamkan dan tidak dibicarakan sehingga makin lama persoalan itu akan semakin membesar dan sulit untuk diselesaikan. Atau suami istri berada dalam suasana komunikasi yang tidak nyaman, tidak menyenangkan, tidak melegakan sehingga selalu berujung pada salah paham dan pertengkaran.

 

Allah swt telah memerintahkan kepada para suami agar berkomunikasi dan berinteraksi secara baik dan santun kepada istrinya : “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukain sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS. An Nisa : 19)

 

Dalam tafsir Jalalain dikatakan bahwa yang dimaksud dengan bergaul dengan cara yang patut yakni bertutur kata yang baik, lembut dan tidak menyakiti perasaan; memberi nafkah dengan baik; dan memberi tempat tinggal yang baik. Sedangkan makna bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah maksudnya, bisa jadi Allah menciptakan kebaikan yang banyak pada istri-istri mereka, misalnya memberi para suami anak saleh dari rahim mereka.

 

Pertengkaran yang terjadi antara suami dan istri banyak didominasi oleh kesalah pahaman yang bermula dari komunikasi yang salah. Komunikasi yang dianggap berhasil adalah apabila pesan yang diinginkan dapat tersampaikan dengan tepat kepada pasangan dan menimbulkan suasana nyaman dan menyenangkan. Bukan komunikasi yang membuat takut dan tegang, sehingga pesan-pesan inti tidak sampai dengan tepat. Bukan pula komunikasi formalitas, sekedar menyampaikan pesan tanpa mempertimbangkan perasaan dan kenyamanan pasangan. Sejatinya, pasangan suami istri harus menjadikan pasangannya sebagai tempat yang nyaman, senang dan santai saat melakukan komunikasi. Bukan justru merasa rikuh dan sungkan bila keduanya berada dalam sebuah komunikasi.

 

Untuk bisa berkomunikasi dengan baik diperlukan adanya pengenalan, seperti pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Jadi, sebagai suami istri sudah sepatutnya untuk saling mengenali pasangan hidup masing-masing. Kenali apa yang membuatnya senang, apa yang membuatnya sedih dan marah. Apa yang disukainya dan apa yang dibencinya.

 

Dengan mengenali hal-hal seperti di atas, suami istri dapat mengetahui apa tanda-tanda ketika pasangan sedang merasa senang, atau sedih, atau marah. Apa kata-kata yang ingin didengar dan kalimat apa yang tidak ingin didengar oleh pasangan. Inilah yang disebut sebagai bahasa cinta pasangan, bahasa yang melahirkan komunikasi sambung hati, bisa membuat “klik” keduanya saat berkomunikasi.

 

Sekarang, sudahkah kita mengenali bahasa cinta pasangan hidup kita? Hal ini penting kita ketahui, jangan sampai kita salah dalam mengekspesikan bahasa cinta kepada pasangan. Karena boleh jadi, bahasa cinta kita berbeda dengan bahasa cinta pasangan. Ketika kita mengekspresikan rasa cinta kepada pasangan ‘menurut’ bahasa cinta kita, bisa jadi tidak sesuai dengan harapan pasangan. Sehingga terhindar dari peristiwa jaka sembung naik ojek.

 

Secara umum suami dan istri memiliki bahasa cinta yang berbeda. Karena laki-laki dan perempuan memiliki struktur otak yang berbeda. Kedunya melihat dan memandang masalah kehidupan dari titik-titik yang berbeda. Sehingga akan memiliki bahasa yang berbeda pula dalam mengungkapkan atau mengekspresikan sesuatu, termasuk ekspresi cinta terhadap pasangan.

 

Bahasa laki-laki biasanya lebih memiliki arti yang sebenarnya, mereka biasa memilih kata-kata yang dapat menjelaskan makna sesungguhnya. Ketika suami berkata, “Aku capek..” ini bermakna bahwa ia mengalami kelelahan atau keletihan yang membutuhkan istirahat. Maka janganlah istri kemudian mengganggunya dengan segala macam persoalan dan keluhan.

 

Sedangkan perempuan sering menggunakan susunan kata tertentu dalam berbicara, seperti menggunakan kata-kata yang melebih-lebihkan, atau menyangatkan, kata-kata kiasan, atau metafora. Misalnya ketika istri mengatakan, “Aku lelah, tidak bisa melakukan apa-apa” Ini dapat bermakna bahwa ia ingin diperhatikan, dibelai dengan lembut, dipeluk dengan sayang.

 

Maka menjadi hal yang sangat penting bagi suami istri untuk memahami bahasa cinta dari pasangannya. Masing-masing orang memiliki kecenderungan tersendiri dalam merasa dicintai. Karena itu perlukah kita mengenali seperti apa kecendeeungan bahasa cinta pasanagan kita.

 

Dr. Gary Chapman, dalam bukunya The Five Love Language mengemukakan lima cara dalam mengekspresikan rasa cinta kepada pasangan.  Lima cara tersebut yaitu :

 

  1. Waktu yang berkualitas

 

Pada orang-orang dengan kecendeeungan ini, perhatian yang penuh kepada dirinya akan membuat ia merasa dicintai. Kebersamaan menjadi aspek terpenting bagi orang-orang ini. Meluangkan waktu yang berkualitas untuk memberikan perhatian, menunjukkan kasih sayang dan menikmati kebersamaan.

 

Kegiatan yang dapat dilakukan misalnya nonton bersama, travelling, makan malam bersama. Dalam.kegiatan itu bisa diisi dengan agenda mengobrol, saling curhat, saling membuka diri, menceritakan semua kisah perjalanan hidup semasa lajang.

 

  1. Hadiah

 

Pada beberapa orang tertentu, ada yang merasa dicintai bila ia mendapatkan hadiah. Bila Anda mempunyai pasangan yang menyukai hadiah, jangan lalu beranggapan bahwa ia seorang yang ‘matere’.

 

Karena sebenarnya orang-orang dengan kecenderungan ini ia lebih melihat kepada aspek kesungguhan yang telah dilakukan oleh pasangannya dibalik hadiah tersebut. Jadi ia tidak melihat besar atau kecilnya nilai dari hadiah tersebut. Yang terpenting bagi orang-orang seperti ini adalah bentuk kesungguhan pasanagn dalam mengusahakan hadiah itu.

 

Bentuk hadiah pun bisa dalam beraneka macam, bagi yang suka.dengan karya sastra bisa diberikan puisi, bagi yang suka travelling bisa dengan diajak liburan ke tempat yang diinginkan, atau hadiah-hadiah kecil lain pada saat momen-momen tertentu, misal pada hari kelahirannya, perayaan hari pernikahan, dan lain lain.

 

  1. Kata-kata Afirmasi

 

Ada orang-orang yang merasa dicintai ketika mendapatkan kata-kata afirmasi, atau penegasan dan peneguhan. Mereka membutuhkan ungkapan-ungkapan verbal dari rasa cinta.

“Aku sayang kamu” atau “Aku rindu kamu” “Aku cinta kamu” merupakan kata-kata yang mereka butuhkan agar merasa dicintai.

 

Kata-kata afirmasi bisa juga berupa ungkapan yang membesarkan hati, menguatkan, ucapan dengan nada lembut serta kata-kata pujian.

 

Bila kita tidak sanggup mengungkap secara langsung, bisa menggunakan teknologi yang ada saat ini WA, emoticon, LINE, telegram, path dan lain-lain.

 

  1. Sentuhan Fisik

 

Sentuhan fisik kadang menjadi bahasa cinta bagi sebagian orang. Ia akan merasa dicintai manakala mendapatkan sentuhan fisik. Sentuhan fisik bagi pasangab suami istri tidak melulu berarti hubungan intim.

 

Sentuhan-sentuhan kecil seperti menggenggam telapak tangan sambil meremas dengan lembut, pelukan ringan yang spontan pada bahu atau pinggang pasangan, mencium kening pasangan, pijitan lembut pada tubuh pasangan sehingga ia merasa lebih rileks dan segar, dan lain sebagainya menjadi satu bahasa cinta bagi orang-orang dengan kecenderungan ini. Sentuhan-senruhan ini menunjukkan perasaan sayang, bentuk kepedulian dan cinta.

 

  1. Perilaku Membantu

 

Bagi sebagian orang lainnya, ada yang merasa dicintai bila ia mendapatkan bantuan dari pasangan. Bantuan kecil seperti membereskan piring dan gelas selepas makan, membersihkan ruangan selepas anak-anak yang masih kecil bermain diruangan dengan mainannya, menyiapkan pakaian yang akan dipakai untuk bekerja, mengantar dan menemani belanja ke pasar atau supermarket, dan sebagianya.

 

Pemberian bantuan ini akan memperkuat ekspresi cinta bila dilakukan dengan tulus dan senang hati, bukan karena terpaksa atau di bawah ancaman.

 

Kata-kata yang ingin didengar oleh orang-orang dengan kecenderungan ini adalah, “Sini aku bantu”. Perilaku ini akan membuat pasangan merasa dicintai karena dilakukan dengan penuh sayang dan bukan karena kewajiban untuk membantu.

 

Inilah lima bahasa cinta yang membuat suami istri menjadi sangat lekat. Sehingga tidak akan terjadi peristiwa salah ungkapan yang dapat mengakibatkan kesalah pahaman dan ketegangan di antara mereka. Komunikasi yang terjalin di antara mereka menjadi komunikasi yang menyenangkan, melegakan dan membuat nyaman keduannya. Tidak membuat takut, khawatir, sungkan dan rikuh saat harus melakukan komunikasi.

 

Pahami dan berikan bahasa cinta yang tepat untuk pasangan. Jangan sampai terjadi jaka sembung naik ojek alias ngga nyambung jeekk…

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan